Wajib Belajar 9 Tahun Di Inhu Cuma Isapan Jempol

Redaksi Redaksi
Wajib Belajar 9 Tahun Di Inhu Cuma Isapan Jempol
internet
Pelajar sedang melakukan kegiatan belajar
RENGAT, riaueditor.com - Besarnya anggaran pendidikan yang digelontorkan oleh Pemerintah baik pusat maupun daerah ternyata belum mampu mengangkat dunia pendidikan di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) saat ini.

Program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat sepertinya hanya menjadi isapan jempol belaka, hal ini terbukti dengan adanya 6 Orang murid SD yang terpaksa harus mengubur impian mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Yang mengalami hal itu Lisen, Ariyanti, Rido, Pinros, Nardiansyah dan Roni, yang hanya bisa pasrah pada nasib. Sebab warga Dusun Sadan Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal ini Kabupaten Inhu, tidak bisa ikut Ujian Nasional (UN).

Pasalnya bukan karena kenakalan, bocah Sekolah Dasar (SD) ini bandel ataupun bermasalah dengan sekolah mereka, melainkan karena mereka tinggal di daerah terpencil balik Taman Nasional Bukit TIga Puluh (TNBT) yang jauh dari sekolah mereka.

Untuk sampai kesekolah Anak-anak suku Talang Mamak ini harus naik sampan seharian menyusuri aliran sungai Batang Gansal biar bisa sampai ke sekolah induk, SDN 004 Rantau Langsat, itupun mereka harus menyewa seharga Rp 1,6 juta pulang pergi dari Dusun Sadan ke Desa Rantau Langsat.

Jika  berjalan kaki malah akan memakan waktu dua hari dua malam karena  anak-anak ini harus mengitari TNBT untuk sampai ke sekolah. "Kalau mau sewa sampan, honor kami tak cukup untuk membayar. Belum lagi untuk biaya makan mereka selama empat hari ikut UN dan duit untuk membeli seragam mereka," cerita guru Sanggar Belajar Sadan, Mulyadi dan Syafarudin alias Tatung saat bertandang ke kantor PWI Inhu di Pematang Reba tadi siang.

Selama ini, Lisen dan kawan-kawan memang belajar di Sanggar Belajar Sadan di Dusun Sadan. Sanggar ini semacam kelas jauh nya SDN 004. Lantaran belajar di sanggar, mereka tak pernah pakai seragam sekolah, bahkan banyak yang tak pakai sepatu.

"Yang semacam ini sudah tiap tahun kami alami," ujar Syafarudin.

Syafrudin juga menceritakan, tahun lalu ada dua orang siswa yang ikut UN, mereka terpaksa diungsikan selama empat hari ke desa biar bisa ikut ujian.

"Nah, yang enam orang ini juga terpaksa kami ungsikan. Inilah yang membikin kami bingung, sebab kami harus memikirkan biaya untuk membeli baju seragam sekolah mereka. Sebab selama ini anak-anak belajar pakai pakaian biasa, nggak ada seragam, bahkan tidak pakai sepatu," jelasnya.

Sekarang kata Mulyadi, Lisen, Ariyanti, Rido dan Pinros sudah di desa, sedangkan Nardiansyah dan Roni masih menunggu di dusun Sadan.

"Yang sudah di desa, mereka ikut belajar dan try out bersama siswa kelas VI lainnya dengan situasi yang sebegininya, kami berharap mereka bisa lulus dan kelak bisa mewujudkan mimpi mereka", harapnya. (ali)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini