LCG Batam Dampingi Gerakan Meranti Berkibar

Hana: Pembangunan Pendidikan Belum Merata
Redaksi Redaksi
LCG Batam Dampingi Gerakan Meranti Berkibar
Hana anggota Leo Club Gici Batam belajar bersama adik-adik Lokal Jauh SDN 6 Tanjung Peranap .
SELATPANJANG, riaueditor.com– Aksi sosial Gerakan Meranti Berkibar (GMB), peduli dunia pendidikan di Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya di daerah Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Lokal Jauh SD Negeri 6 Desa Tanjung Peranap beberapa waktu lalu, mendapat simpati dari organisasi dari Kepulauan Riau, yaitu Leo Club Gici Batam, yang mengirimkan salah seorang anggotanya, miss Hana.
 
Hana menuturkan, kedatangannya atas restu dari presiden Leo Club. "Alhamdulillah, ketika saya perlihatkan foto-foto sekolah tersebut, saya mendapat persetujuan untuk membawa nama Leo Club. Dan apa yang saya dapatkan di Tanjung Peranap, mudah-mudahan nantinya akan direspon baik oleh teman-teman," tutur miss Hana.
 
Miss Hana, yang juga berasal dari kota Selatpanjang ini, merasa terpanggil ketika memilihat postingan di facebook tentang aksi yang dilakukan oleh GMB. Ternyata pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah di daerah-daerah terpencil.

"Saya merasa terpanggil, melihat kondisi sekolah di lokal jauh SD Negeri 6 Desa Tanjung Peranap, hati saya terenyuh, ternyata adik-adik disini belum bisa memperoleh hak pendidikan yang layak," ucapnya.
 
Menurutnya, pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Bangunan sekolah yang megah di perkotaan dengan alat belajar yang begitu lengkap menjadi hal wajib. Akan tetapi, semua itu menjadi hal yang langka ketika kita menengok kondisi sekolah-sekolah di daerah terpencil.

"Sekolah dengan bangunan yang lebih mirip gudang. Sekolah tanpa alat bantu mengajar, dan dengan buku-buku yang lusuh. Sekolah dengan tenaga guru yang kurang. Kondisi tersebut menjadi kondisi yang lumrah di daerah terpencil tapi di satu sisi menjadi hal yang tabu di perkotaan," sebut Hana.
 
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Permata Harapan Batam ini menuturkan, dari sekian banyak kegiatan Bansos yang ia ikuti, baru kali ini dirinya merasakan yang sebenar-benarnya Bansos.

"Di Tanjung Peranap, saya benar-benar merasakan apa itu kegiatan Bansos, dua hari saya bersama dengan adik-adik disini, bermain, mendidik, tapi kemesrasaan dan keakraban terjalin kuat. Saya sangat terharu disaat perpisahan, adik-adik menangis dan memohon agar saya tidak pulang. Saya bertekat akan kembali lagi kesana," ungkapnya. (je)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini