Masyarakat Meranti Dambakan Air Bersih

Banyak Sumur Bor di Alai Mampet
Redaksi Redaksi
Masyarakat Meranti Dambakan Air Bersih
anje/riaueditor.com
warga desa Alai laut mengantri air di salah satu sumur bor.
ALAI, riaueditor.com– Kemarau yang menerpa Kabupaten Kepulauan Meranti, dua bulan terakhir membuat warga resah dan mendambakan air bersih. Sejumlah sumur warga dilanda kekeringan. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi sumur bor yang dibangun pemerintahan macet tidak mengeluarkan air. Misalnya di Desa Alai Laut, mereka memanfaatkan air sumur bor yang dibangun oleh PMPN Mandiri.
 
"Mungkin ada sekitar 7 sumur bor yang tidak lagi keluar airnya. Permasalahannya bukan karena mesinnya rusak, kemungkinan karena kedalamannya masih kurang, jadi ada material tanah yang menyumbat saluran air tersebut. Beruntung kita masih punya sumur bor PMPN Mandiri ini, yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan mandi dan cuci," ucap Erdison yang sedang mengantri air.
 
Sedangkan untuk minum, lanjut Erdison masyarakat terpaksa membeli air gallon seharga Rp 5 ribu rupiah. Dengan kondisi seperti ini ia mengharapkan ada upaya pemerintah untuk segera mengatasi kebutuhan air bersih di desanya.

"Kemarin kita sudah mendapatkan bantuan dari propinsi berupa penyulingan air bersih. Sebelumnya kita sudah terbantu dengan adanya air tersebut, namun beberapa waktu yang lalu mesinnya rusak, kipasnya tidak bisa berputar, terpaksa kita beli air gallon untuk minum," ucapnya.
 
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Basiran Sarjono, SE,MM, Minggu (23/2) mengatakan, saat ini masyarakat Meranti belum menikmati air yang benar-benar layak sesuai standar untuk dipergunakan. Masyarakat Meranti hingga hari ini masih berharap curahan air dari langit sebagai satu-satunya sumber air bersih.

"Air sumur, air parit maupun  air hujan yang ditampung dalam drum-drum bekas, sebenarnya tidak terjamin kualitasnya. Untuk itu, kita berharap ada langkah strategis dari Pemkab Meranti untuk segera membangun instalasi air bersih bagi masyarakat. Tidak hanya di kota Selatpanjang, tapi juga di setiap kecamatan. Bagaimanapun juga, air bersih merupakan kebutuhan mendasar dan sangat mendesak untuk bisa terpenuhi," ungkap Ketua Komisi II DPRD Meranti tersebut.
 
Menurut Basiran, buruknya kualitas air yang dimanfaatkan masyarakat berdampak luas dengan munculnya berbagai penyakit menular ditengah-tengah masyarakat. Mulai penyakit diare, demam dan berbagai penyakit kulit, dan kusta merupakan salah satu diantara penyakit yang bersumber dari pemanfaatan kualitas air yang buruk.

Tak ada pilihan, Pemkab Kepulauan Meranti harus mengambil langkah konkrit, tegas dan terencana membangun instalasi penyediaan air bersih. "Yang terpenting dalam penyusunan program pembangunan penyediaan instalasi air bersih ini, yang menyentuh komunitas masyarakat ekonomi lemah, yang rentan terjangkit berbagai penyakit akibat pemanfaatan air yang tidak terjamin kualitasnya," sebut Basiran.
 
Disinggung rencana pihak Investor Singapura membangun kerjasama dengan Pemkab Meranti membangun instalasi air besih, Basiran mengatakan pada dasarnya Komisi II menyambut positif rencana tersebut. Pemkab Meranti harus mengkaji rencana ini secara detail, jangan sampai menguntungkan sepihak.

"Kita inginkan hak-hak masyarakat ekonomi lemah diakomodir dalam program kerjasama dengan investor tersebut. Intinya, masyarakat miskin harus bisa mendapatkan pasokan air bersih dari kerjasama ini, sebagaimana amanat UUD," tandas Ketua Komisi II DPRD Meranti tersebut. (je)a

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini