Terungkap, Ini Biang Keladi Munculnya Omicron di Afrika

Redaksi Redaksi
Terungkap, Ini Biang Keladi Munculnya Omicron di Afrika
Foto: AP/Denis Farrell

JAKARTA - Sebuah penelitian menguak penyebab munculnya varian baru Covid-19, Omicron, di Afrika. Riset itu menyimpulkan bahwa ketimpangan vaksinasi Covid-19 yang dialami Afrika merupakan penyebab yang berkontribusi besar dalam munculnya varian ini.

Laporan yang dirilis oleh Mo Ibrahim Institute itu mengatakan bahwa tingkat inokulasi rendah dapat mendorong mutasi virus. Lembaga kajian itu juga menekankan bahwa Afrika saat ini mengalami diskriminasi yang sangat ekstrim dengan hanya 5 negara saja yang memenuhi target 40% populasi tervaksinasi hingga akhir tahun ini.

"Sejak awal krisis ini, Yayasan kami dan suara Afrika lainnya telah memperingatkan bahwa Afrika yang tidak divaksinasi dapat menjadi inkubator sempurna untuk berbagai varian," kata ketuanya Mo Ibrahim dalam sebuah pernyataan kepada NDTV, Senin (6/12/2021).

"Munculnya Omicron mengingatkan kita bahwa Covid-19 tetap menjadi ancaman global, dan vaksinasi ke seluruh dunia adalah satu-satunya jalan ke depan," tambahnya. "Namun kami terus hidup dengan diskriminasi vaksin yang ekstrem, dan Afrika khususnya tertinggal."

Baca: Omicron Merajalela di AS, Menginfeksi 15 Negara Bagian

Hingga saat ini baru 1 dari 15 warga Afrika yang menerima vaksin Covid-19. Ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan rata-rata 70% populasi tervaksinasi di negara-negara maju.

Pengiriman vaksin ke Afrika sendiri telah ditingkatkan dalam beberapa bulan terakhir meskipun masih terkendala oleh sistem perawatan kesehatan yang lemah dan infrastruktur yang terbatas. Selain itu, muncul juga keresahan akan tanggal kadaluwarsa yang pendek pada vaksin yang disumbangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukan Omicron menjadi "varian of concern" atau VOC (varian yang mengkhawatirkan). Omicron dilaporkan memiliki lebih banyak strain atau mutasi dibandingkan varian Alpha, Beta dan Delta dan dianggap sangat menular. Tercatat, ada 32 mutasi protein lonjakan yang dibawa varian itu.

Meski begitu, WHO menegaskan belum mendengar kabar kematian yang ditimbulkan akibat varian terbaru ini.

(sumber: CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini