Keluh Kesah Penyewa Rumah

Redaksi Redaksi


Tinggal dikota, kalau tidak keturunan kaya atau tidak kaya, bakal menumpuk tantangan hidup
yang bermuara pada kepiluan. Bayangkan saja biaya pendidikan, rumahtangga dan sewa rumah.
Mendingan dapat pekerjaan yang paspas, itupun memilukan juga, apalagi kekurangan, tentu lebih
memilukan. Maka saudara kita ini dapat dikatagorikan minalmasaakien. Sungguh haru dan banyak
terjadi.

Saudara kita yang hidup menengah kebawah ini, memang pantang pamrih. Semboyannya, yang
penting bisa hidup. Tapi disebalik itu biaya pendidikan dan sewa rumah selalu jadi masalah, ada
anak2nya yang tak disekolahkan atau hanya sampai SD saja dan setelah itu disuruh membantu biaya
hidup. Saat akhir bulan dihadapkan lagi sewa rumah, kalau tidak pandai2 membagi atau menyisihkan
pendapatan, maka bakal kena tegur oleh pemilik rumah. Itu yang bagi menyewa rumah, tapi yang
terlanjur mengambil perumahan, maka siap2 saja didinding rumah tersebut tertulis: Rumah ini
dalam pengawasan Bank, bila tertunda membayarnya.

Kalau ini terjadi, bayangkan saja bagaimana perasaan penghuni rumah dengan tetangga disebelah,
rasa malu bukan saja pada orang tua, tetapi anak2 mereka tak jarang diejek oleh teman2nya.
Anehnya segel yang diberlakukan itu, bukan berbentuk papan reklame tapi langsung di cat didinding
rumah, jadi sulit untuk dihapus, apalagi hurufnya besar2. Sampai hati juga pihak Bank.

Yaa..., keluh kesah penyewa rumah, bukan salah siapa2 dan juga dirinya, tapi Allah sudah
mentakdirkan menciptakan hamba2nya ada yang kaya ada yang miskin. Bagi yang kaya diuji
kepeduliannya sedang yang miskin diuji ketabahannya. Inilah yang dituntut sejauh mana iman kita
dalam menghadapi liku2 hidup ini.

Penyewa rumah adalah bahagian dari hiidup sikaya, sedang sikaya mengambil keuntungan darinya.
Andai berjalan mulus, kalau tidak sikaya kehilangan rezki sedang sipenyewa lari malam entah
kemana rimbanya. Dan ini juga pernah terjadi, bukan saja rumah yang belum dibayar, listrikpun
belum dibayar, akhirnya sipemilik rumah yang menanggulangi.

Makanya jangan heran, saat ini pemilik rumah agak ketat untuk menyewakan rumahnya, apalagi
sipenyewa taraf hidupnya kembang-kempes. Jangankan sipenyewa atau sipemilik, kitapun melihat
dan mendengarkan saja sedikit ada rasa gemas geram dan hiba. Itulah gelombang hidup yang tak
putus2nya hingga kiamat, sebab ummat manusia bertambah terus tak henti2, keluh kesah pun
berenang bagai ikan yang kadang2 timbul, kadang2 tenggelam.

Kita tidak mengharapkan syair lagu Rhoma Irama; yang kaya semangkin kaya, yang miskin semangkin
miskin. Kita mengharapkan, yang kaya semangkin ramah, yang miskin jangan terlena. Yang penting
ukhuwah jangan terputus, kalau terputus muncul keluh kesah.

A. Aris Abeba
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini