Ustad Abdurrahman Ayub: Ajaran Radikal Kesalahan Penafsiran

Redaksi Redaksi
Ustad Abdurrahman Ayub: Ajaran Radikal Kesalahan Penafsiran
rd/riaueditor
Ustad Abdurrahman Ayub: Ajaran Radikal Kesalahan Penafsiran.
BAGANSIAPIAPI, riaueditor.com - Ustad Abdurrahman Ayyub mengupas secara singkat terkait pengalamannya pernah selama 15 tahun berkecimpung di dunia radikal. Bergabung dengan Radikal di tanah Afganistan semenjak ia berumur 17 tahun. Hal itu diungkapkannya saat memaparkan Tausiah tentang menangkal Radikalisme di Masjid Agung Bagansiapiapi, Kamis (17/3) dihadapan Bupati H Suyatno, Forkopimda dan seluruh muda-mudi yang hadir.

Selama 15 Tahun ia berkecimpung didunia Radikal.

Pria kelahiran  Jakarta 5 Maret 1963 itu mengaku pernah bergabung dengan Islam garis keras karena pemikirannya sejak usia 17 tahun sudah dicuci dengan ajaran-ajaran tentang mengkafirkan orang. Ia tamat SMK di Budi Utomo pada tahun 1983. Sejak itulah fikirannya bimbang mencari sebuah kebenaran dan bertemu dengan orang-orang Radikal sehingga merasuk ke fikirannya.

"Saya pernah jadi anak buah pak Abu Bakar Baasyir selama 3 tahun, setelah itulah saya pergi ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmu militer dan rencana-rencana aksi," katanya. 

Namun ia bukanlah pelaku bom atau aksi teror melainkan dipercaya sebagai perekrut generasi untuk bergabung dan menjadi salah satu orang kepercayaan Jamaah Islamiyah (JI).

"Saya belajar militer di Timur Tengah dan kalau di Indonesia sudah berpangkat Letda menjadi pemimpin pleton dengan 30 orang prajurit," katanya. Saat itu ia aktif dalam berbagai peperangan termasuk dengan Negara Rusia. Ia bahkan menceritakan bahwa sangat familir dnegan senjata-senjata hasil rampasan dan smeua ia kuasai septri AK-47, RPG dan jenis senjata roket lainnya.

"Sekali rampas bisa 50 ton berat senjata yang kami dapat, bahkan sata akan dibawa ke markas senjata berserakan dijalan karena terjatuh," jelasnya. Bahkan ia mengaku mengenal semua teroris dan pelaku teror di Indonesai termasuk yang sudah di eksekusi mati dan yang menjalani hukuman penjara.

"Saya baru sadar apa yang saya lakukan salah dan baruslah saya memahami yang benatr itu seperti apa, Radikal itu salah penafsiran dan mengkafirkan semua orang bahkan Indonesia merupkan kafir terbesar bagi para Radikal karena tidak menjalankan hukum Islam,'' katanya. Bahkan ia pernah smepat diajak bergabung oleh Osama Bin Laden namun ia tidak mendapatkan izin dari Abu Bakar Baasyir saat itu. Kini ia telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi sebagai penasehat Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).

"Dulu saya banyak merekrut orang dan sekarang saya harus banyak menyadarkan orang terkait hal yang telah saya ajarkan saat itu," katanya.

Bahkan ia menegaskan aparat hukum baik polisi maupun TNI halal darahnya bagi para penganut Radikal. "Halal yang artinya boleh dibunuh dan macam bapak-bapak yang pakai baju polisi ini dulunya sasaran saya," katanya dan disambut senum sumringah oleh para hadirin.

Ia menjelaskan, anggota Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang kini menyebut diri Islamic State (IS), kini sudah mencapai tidak kurang dari 20.000 orang. Anggota mereka rata-rata merupakan generasi milenium kelahiran antara tahun 1980-an hingga 2000 atau yang diistilahkan dengan generasi Y.

"Jadi perlu dibuat pengajian-pengajian untuk membentengi pemikiran anak-anak muda kita zaman sekarang," katanya.

Bahkan ia meminta selalu siaga karena para Radikal beraksi pada saat keadaan tenang dan kondusif. "Rokan Hilir dulu pernah ada Noordin M Top dan juga salah satu anak asuh saya semasa di JI dulu," katanya menjelaskan.

Dalam kesempatan itu ia mengaku tak menyangka bahwa peserta Tablik Akbar ramai dan Rokan Hilir satu-satunya daerah di Riau yang dilaksnakan pada malam hari dan pesertanya paling ramai.

Ustad berbadan mungil itu juga berpesan kepada masyarakat Rokan Hilir untuk tetap memantau perkembangan radikal didaerah agar jangan sampai meruska generasi muda.

"Teroris tidak bisa dilihat dari fisik saja misalkan berjenggot atau lainnya namun harus diselidiki secara mendalam," katanya.

Dalam kesempatan itu ia memaparkan kisah ia didampingi penasehat BNPT Ustad Abdurrahaman Keken dan dari pihak Kepolisian Poltabes Pekanbaru AKP Rinaldi.

Sementara itu Bupati Rokan Hilir H Suyatno menyabut baik kedatangan pihak BNPT bersama pihak Polri ke Rokan Hilir yang merupakan langsung perintah Kapolri.

"Kita sambut baik dan ini sangat bermanfaat bagaimana kita mendengar langsung dari pak Ustad yang pernah bergabung di ajaran Radikal,'' kata Bupati.

Bupati juga tak ijgin kejadian 2008 silam kembali terjadi pernah bermukim di Rokan Hilir Teroris yang paling dicari Noordin M Top. "Semoga cerita tadi bisa membuka wawasan masyarakat kita bahwa ajaran Radikal itu salah dan kita harus menjalankan ajaran Islam yang benar-benar islam," kata Bupati.

Acara malam itu dihadiri oleh ribuan jamaah Bagansiapiapi juga hadir Kapolres AKBP Subiyantoro, Dandim 0321 Letkol Bambang Sukisworo, seluruh Kapolsek, Danramil Penghulu dan Camat serta ratusan tamu undangan.(rd)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini