Kemenag Riau Belum Melihat Hilal

Hasil Akan Disampaikan ke Kemenag Pusat
Redaksi Redaksi
Kemenag Riau Belum Melihat Hilal
PEKANBARU, riaueditor.com- Bertempat di Toping (atap) Hotel Premier, tim rukyat dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Riau Jumat (27/6) mencoba untuk melihat anak bulan sebagai penentu 1 ramadhan. Alhasil, tim Rukyat tersehut belum melihat hilal dan hasil ini langsung disampaikan ke Kementrian Agama RI sebagai bahan pertimbangan penentuan jadwal 1 ramadhan dari pemerintah pusat.

Pantauan hilal atau melihat anak bulan ini dilakukan mulai pukul 17.22 WIB dihadiri tokoh agama dan ormas Islam seperti Nahdatul Ulama (NU) Riau. Tim rukyat Kemenag Riau melihat anak hulan tersebut menggunakan tropong mengarah ke bulan yang sudah berangsur memerah itu.

Kepala Kantor Kemenag Riau, Tarmizi Tohor menambahkan, pihaknya akan melaporkan hasil pantau hilal itu kepada Kementerian Agama pusat. "Nantinya kewenangan menentukan awal puasa adalah Kementerian Agama melalui sidang isbat," katanya, Jumat (27/6) di tapping hotel Primier, pekanbaru.

Ditegaskannya, jika seluruh Tim rukyah di seluruh daerah tak bisa melihat hilal, maka Kementerian Agama pusat, pasti akan mengunakan istikmal, dengan cara menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari. "Hilal tidak berhasil kami lihat. Berdasarkan perhitungan masih kurang dari satu derajat di bawah ufuk, karena berdasarkan jam 18.21 Wib tidak terlihat, artinya besok pagi belum jatuhnya 1 Ramadhan," kata Tarmizi Tohor.

Sementara itu, Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Syariah Kanwil Kemenag Provinsi Riau, Drs H Asmuni MA menjelaskan penentual hilal tersebut berdasarkan teori perhitungan (hisab-), saat matahari terbenam di Banjarmasin pada pukul 18.21 Wib pada tanggal 27 Juni 2014 tersebut, kondisi ketinggian hilal adalah 0 derajat 10 menit 10 detik (0 10' 10") di atas ufuk, yang berarti ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat di atas ufuk.

"Kalau menurut pemerintah posisi bulan di bawah 2 derajat itu belum masuk 1 Ramadhan 1435 H," ungkapnya.

Sebab, kata Asmuni menyebutkan kondisi bulan di bawah 2 derajat itu belum memenuhi kreteria imkanurrukyat (Mabims) yang disepakati pemerintah dalam menentukan masuknya bulan baru. "Kalau posisi bulan di bawah 2 derajat secara ilmiah tidak mungkin untuk bisa di rukyat atau dilihat, dengan demikian menurut kriteria imkanurrukyat 1 Ramadhan 1435 H bertepatan pada hari Minggu, 29 Juni 2014 M," tukasnya. (dea)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini