Lagi-Lagi BUMN Disuntik Uang Negara, Kok Bisa?

Redaksi Redaksi
Lagi-Lagi BUMN Disuntik Uang Negara, Kok Bisa?
Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers mengenai KSSK : Perkembangan Makro Ekonomi & Sektor Keuangan Triwulan III Tahun 2021 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengungkapkan kekesalannya terhadap pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di depan Menteri BUMN Erick Thohir.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat melakukan pertemuan dengan seluruh direksi BUMN di Labuan Bajo beberapa minggu lalu atau tepatnya Sabtu (16/10/2021).

Saat pengarahannya saat itu, Jokowi minta kepada Erick agar perusahaan BUMN yang kronis atau sakit tidak dimanjakan terus dengan memberikan penyertaan modal negara (PMN). Namun, kenyataannya PMN kepada BUMN akan tetap diberikan, bahkan ditambah.

Melansir CNBC Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, total penambahan PMN diberikan untuk tiga BUMN yakni PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, dan PT Kereta Api (KAI) yang anggarannya mencapai Rp 33 triliun.

Sri Mulyani menjelaskan, alokasi PMN kepada tiga BUMN tersebut berasal dari cadangan dana penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PC PEN) dan juga sisa anggaran lebih (SAL).

"Penggunaan cadangan PEN dan SAL Tahun 2021 dalam untuk PMN sebesar Rp 33 triliun," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (8/11/2021).

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR tersebut Sri Mulyani juga mengungkapkan, selama ini ada BUMN yang mendapatkan PMN dan mampu memberikan kontribusi kepada negara melalui dividen.

Namun, ada juga BUMN yang sudah diberikan PMN, namun minim kontribusi kepada negara. BUMN yang disebutkan ini lah yang pernah diwanti-wanti oleh Presiden Jokowi agar tidak dimanja dengan diberikan suntikan modal.

Sri Mulyani pun senang ada BUMN yang tidak mendapatkan PMN namun mampu memberikan kontribusi besar terhadap negara, dalam hal ini adalah PT Telkom (Persero).

"Yang Bapak Presiden sampaikan di Labuan Bajo adalah beliau tidak ingin melihat BUMN yang tidak punya nilai tambah, nggak punya nilai tambah yang obvious (nyata) njaluk (minta) terus, gitu," tuturnya.

"Ada BUMN yang nggak pernah dapat PMN dan dia terus-menerus menyetorkan dividen, ya itu yang nggak bisa diapa-apakan, Telkom ya itu adalah permatanya negara," kata Sri Mulyani melanjutkan.

Secara rinci, ini berikut lembaga yang disuntik lewat pemanfaatan cadangan PEN sebesar Rp 33 triliun, dengan rincian PT Hutama Karya Rp 9,1 triliun, PT Waskita Karya Rp 7,9 triliun, Lembaga Pengelola Investasi Rp 15 triliun, dan Badan Bank Tanah Rp 1 triliun.


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini