Sampah Dibuang ke Laut, Kesadaran Masyarakat Selatpanjang Masih Minim

Redaksi Redaksi
Sampah Dibuang ke Laut, Kesadaran Masyarakat Selatpanjang Masih Minim
SELATPANJANG, riaueditor.com- Tumpukan sampah di perairan Selat Air Hitam Kepulauan Meranti secara umum menganggu para nelayan pengerih dan gumbang. Sampah-sampah organik dan non organik menjadi masalah sendiri karena kerap memenuhi alat tangkap para nelayan.

Seperti yang diungkapkan Yahya, salah seorang nelayan pengerih dan gumbang di Selat Air Hitam, warga Merbau desa Mayang Sari ditemui wartawan, Kamis (3/7 ) yang lalu.

"Sampah lumayan banyak, kalau air besar bisa-bisa penuh pengerih kita dengan sampah. Ikan tidak dapat, malah sampah yang penuh," kata Yahya.

Beragam sampah tersebut, kata Ibrahim, mulai dari sampah plastik, karung goni, kayu, dan berbagai sampah lainnya yang berasal dari Kota Selatpanjang yang dibuang masyarakat langsung ke dalam laut.

"Kalau musim tak banyak ikan seperti sekarang, kami (nelayan) lebih memilih tidak memasang pengerih. Karena hanya dipenuhi sampah, ikannya tidak ada," keluh Yahya.

Salah seorang mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau, Alpin, menjelaskan kondisi tersebut menjadi isu menarik untuk dijadikan bahan penelitian.

"Keberadaan sampah di perairan Selat Air Hitam Kepulauan Meranti ini telah menjadi masalah bagi masyarakat nelayan. Banyaknya sampah tentunya akan menurunkan kualitas perairan, dan pasti akan mempengaruhi hasil tangkapan nelayan," ungkap mahasiswa semester akhir yang melakukan penelitian tentang sampah di perairan Selat Air Hitam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Ahmad Yani, ditemui di kantornya menyebutkan sebagian besar nelayan di Meranti merupakan nelayan pengerih dan gumbang serta beberapa nelayan budidaya. Ia juga mengakui banyaknya sampah di perairan menjadi kendala bagi nelayan dan menyebabkan rusaknya perairan.

"Memang untuk membersihkan perairan kita memiliki program gerakan bersih pantai, yang mana mengajak masyarakat di sekitar perairan bergotongroyong. Cuma ini tidak lagi bisa kita lakukan, karena programnya dicoret," ungkap Ahmad Yani.

Kotornya perairan, kata Ahmad, disebabkan pola hidup masyarakat yang membiasakan diri membuang berbagai jenis sampah ke laut. "Oleh karena itu kesadaran masyarakat dan imbauan pemerintah melalui instansi terkait sangat diperlukan," ujarnya.(B2)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini