Ilmuwan Ini Curiga, 80 Persen Manusia Sebenarnya Tak Mudah Terjangkit Covid-19

Redaksi Redaksi
Ilmuwan Ini Curiga, 80 Persen Manusia Sebenarnya Tak Mudah Terjangkit Covid-19
(Foto: icm-institute.org)
Ilmuwan Inggris, Profesor Karl John Friston.

LONDON - Sampai saat ini, para ilmuwan mengasumsikan bahwa mayoritas penduduk dunia rentan terjangkit virus corona (Covid-19). Namun, masih minimnya penelitian dan adanya fakta bahwa orang yang mengidap virus itu sering kali tidak menunjukkan gejala, membuat asumsi itu sulit untuk dikonfirmasi.

Berdasarkan asumsi terkait risiko kontaminasi Covid-19 yang meluas itu, pemerintah di berbagai negara bahkan telah menerapkan karantina atau penguncian wilayah (lockdown) yang merusak tatanan ekonomi. Tujuan utama kebijakan itu adalah membatasi penyebaran virus corona untuk melindungi sistem layanan kesehatan agar tidak kewalahan.

Akan tetapi, menurut ilmuwan saraf terkemuka dunia asal Inggris, Profesor Karl John Friston, mayoritas penduduk dunia kemungkinan memiliki prior immunity atau semacam "kekebalan yang sudah didapat sebelumnya" terhadap Covid-19. Karena itu, mereka yang punya kekebalan tersebut tidak akan terjangkit virus asal China itu sejak awal.

Klaim Friston membangun pergeseran menuju konsensus bahwa sebagian orang sebenarnya tidak rentan terhadap virus corona. Hipotesis ini mengikuti argumen ilmuwan lainnya, Michael Levitt, pada awal Mei bahwa model data matematika tidak menunjukkan pertumbuhan eksponensial pada virus corona.

Sebagai gantinya, Friston mengatakan, dia mengharapkan penelitian yang sedang berlangsung untuk mengungkapkan bahwa mayoritas populasi di Inggris, negara asalnya, tidak rentan terhadap penyakit tersebut.

"Saya curiga, begitu (penelitian) ini dilakukan, sepertinya bagian populasi yang tidak rentan efektif (terjangkit Covid-19) adalah sekitar 80 persen. Saya pikir itulah yang akan terjadi," katanya kepada Freddie Sayers dari laman berita UnHerd, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Jumat (5/6/2020) dan dilansir Alarabiyah.

Sebagai seorang ahli ilmu saraf yang terkenal karena menemukan teknik pencitraan otak "pemetaan parametrik statistik", Friston bukanlah seorang ahli epidemiologi ataupun spesialis penyakit. Sebaliknya, dia mendasarkan klaimnya pada penerapan analisis pemodelan untuk data Covid-19.

Friston sama sekali tidak mengklaim telah menemukan antibodi sebenarnya yang dapat membuat orang kebal terhadap virus corona. Sebaliknya, dia berpendapat, data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa sejumlah besar orang memiliki semacam "materi gelap imunologis", yakni suatu bentuk resistensi terhadap infeksi yang belum diidentifikasi.

(iNews.id)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini