Ironi: Harumkan Nama Riau di Panggung Nasional, Bonus Atlet Tak Kunjung Cair

Redaksi Redaksi
Ironi: Harumkan Nama Riau di Panggung Nasional, Bonus Atlet Tak Kunjung Cair
ilustrasi

PEKANBARU - Derai air mata para atlet Riau yang telah mengukir prestasi di panggung nasional berubah menjadi kepedihan, ketika bonus yang dijanjikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau tak kunjung mereka terima hingga pertengahan tahun 2025. Padahal, perjuangan mereka di ajang PON XXI 2024 di Sumut-Aceh dan Peparnas XVII 2024 di Solo telah menghasilkan medali emas, perak, dan perunggu yang membawa harum nama Riau.

Lebih dari enam bulan telah berlalu sejak kompetisi bergengsi itu berakhir, namun hak para atlet masih digantung. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat sebenarnya sudah masuk ke kas Pemprov Riau. Akan tetapi, tidak ada kejelasan terkait realisasi bonus bagi para atlet yang dinaungi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan National Paralympic Committee (NPC) Riau.

Padahal, janji pemberian bonus ini bukan sekadar pernyataan lisan. Penjabat Gubernur Riau sebelumnya telah menegaskan komitmen ini di hadapan publik. Bahkan, janji itu dituangkan secara formal dalam Peraturan Daerah (Perda) yang telah disahkan oleh DPRD Riau. Namun fakta berbicara lain—hingga kini, para atlet belum melihat secuil pun realisasi dari penghargaan yang dijanjikan tersebut.

Beberapa pertemuan telah digelar antara Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau, KONI, NPC, serta perwakilan atlet Pra Popnas. Namun hasilnya nihil. Yang mereka terima hanya sederet janji manis tanpa bukti konkret.

Kekecewaan pun meluas di kalangan atlet dan pemerhati olahraga. Mereka merasa telah dipermainkan oleh sistem dan diperlakukan seakan tak berarti.

Salah satunya adalah Rahmat Handayani, seorang pemerhati olahraga Riau sekaligus tokoh muda yang dikenal vokal terhadap isu sosial dan olahraga. Ia dengan tegas mengecam tindakan Pemprov Riau yang menurutnya tidak berempati terhadap perjuangan para atlet.

“Mereka telah membawa harum nama Riau di tingkat nasional, tapi malah diperlakukan seperti ini. Pemerintah terlalu sibuk dengan acara-acara seremonial, lupa dengan orang-orang yang berjuang di lapangan,” ujar Rahmat dengan nada geram.

Menurut Rahmat, para atlet tidak menuntut kemewahan. Apa yang mereka minta hanyalah hak yang memang dijanjikan, dan itu pun bukan untuk kesenangan pribadi, tetapi untuk dibawa pulang kepada keluarga yang telah mendukung mereka selama proses panjang pembinaan dan latihan.

“Yang mereka minta itu hak mereka. Bukan untuk jadi kaya, tapi untuk dibawa pulang ke keluarga dan orang tuanya. Ini tentang rasa keadilan dan penghargaan,” tambahnya.

Rahmat pun mendesak Penjabat Gubernur Riau saat ini, Abdul Wahid, untuk segera mengambil tindakan tegas. Ia menilai, pemimpin daerah seharusnya mampu memprioritaskan kesejahteraan atlet sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia yang berprestasi.

“Jangan sampai harapan mereka pupus hanya karena janji yang tak ditepati. Bonus itu bentuk penghargaan yang seharusnya datang tepat waktu,” katanya mengingatkan.

Rahmat juga menyoroti dampak psikologis dari keterlambatan ini. Menurutnya, banyak atlet muda yang kehilangan semangat karena merasa perjuangan mereka tidak dihargai. Hal ini bisa menjadi bumerang dalam upaya pembinaan atlet masa depan.

Kini, publik pun menanti langkah konkret dari Pemprov Riau. Apakah mereka akan membiarkan para pahlawan olahraga daerah dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, ataukah segera memenuhi kewajiban moral dan hukum yang telah dijanjikan.

Para atlet tidak meminta belas kasih, mereka hanya menagih janji. Dan saat janji itu tak ditepati, bukan hanya hak yang dikhianati, tapi juga semangat generasi muda yang sedang dibangun.**


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini