TEPAT tanggal 2 Mei ini, salah satu pesepak bola paling terkenal di dunia, David Joseph Beckham berulang tahun yang ke-39. Dia pemain sepak bola, tetapi dirinya lebih banyak disorot oleh kamera showbiz. Gaya hidupnya tak ubahnya gaya hidup seorang selebritas. Nilai jualnya adalah yang terbaik di ranah industri olahraga. Wajahnya yang tampan dan tubuh atletis dianggap sebagai senjata utamanya. Itulah anggapan (mungkin oleh) sebagian besar orang ketika ditanyai mengenai David Beckham. Olahraga yang menjelma menjadi industri ini semakin diterima oleh perempuan berkat dirinya.
Walaupun kerap dianggap popularitasnya berkat wajah tampan dan gaya hidupnya, sejatinya kiprahnya sebagai pesepak bola profesional tetaplah mentereng. Punya segudang prestasi yang patut dibanggakan dan tidak banyak orang yang bisa menyamai apa yang sudah dia capai.
Bermain sebanyak 115 kali untuk tim nasional Inggris. Hanya kalah dari Peter Shilton, seorang kiper yang bermain dalam 125 pertandingan. Kalau posisi penjaga gawang tidak diikutkan maka dirinyalah yang paling banyak, lebih banyak dari Bobby Moore dan Bobby Charlton sekalipun. Dia juga yang berperan besar membawa Inggris ke Piala Dunia 2002 dan menjabat kapten The Three Lions selama enam tahun mulai tahun 2000 hingga 2006. Jabatan kapten pun dia letakkan dengan sukarela bukan lantaran dicopot oleh sang pelatih ataupun federasi namun lebih sebagai bentuk tanggung jawab kegagalan Inggris di perempat final Piala Dunia 2006.
Sebagai orang Inggris, Beckham berani menerima tantangan bermain di luar negeri. Tidak banyak pemain Inggris yang bisa sukses ketika merantau. Tetapi Beckham memberi jawaban melalui torehan gemilang. Bermain di lima negara berbeda, Becks mengoleksi sepuluh gelar liga.
Ketika masih berada di Manchester United, Becks memenangi enam Liga Primer Inggris. Saat hijrah ke Spanyol, dia sempat merasakan gelar juara La Liga sekali. Di Major League Soccer, bersama LA Galaxy, dirinya memenangi dua kali Piala MLS. Sementara di AC Milan dia tidak sempat memenangi Scudetto, wajar saja karena dia memang hanya berstatus pinjaman tiga bulan dalam dua kali periode. Dan di klub terakhirnya, Paris Saint Germain, Becks membantu klub itu menjuarai Ligue 1 setelah lebih dari dua dekade tidak memenanginya. Prestasinya ini menempatkannya sebagai pemain Inggris paling sukses di luar negeri.
Pria asal Leytonstone ini pindah ke Manchester United pada Juli 1991. Dia sebelumnya menarik minat pemandu bakat United di usia 11 tahun saat memenangi Bobby Charlton Soccer Schools National Skills. Kemudian juga bermain impresif bersama Ridgeway Rovers. Becks, sapaan akrab Beckham, kemudian menjadi bagian dari The Class of '92 yang memenangi FA Youth Cup.
Di tim senior, pemuda kelahiran 2 Mei 1975, ini melakoni debutnya saat menghadapi Brighton di ajang Piala FA 23 September 1992. Tetapi, baru menjalani debut liganya tanggal 2 April 1995. Kepergian Andrei Kanchelski membuatnya menjadi pilihan di posisi gelandang kanan musim 1995/1996. Selanjutnya adalah cerita yang fenomenal.
Becks memenangi hampir semua gelar yang tersedia untuk klubnya (kecuali Piala Super Eropa), termasuk saat menjadi bagian dari salah satu tim terbaik United sepanjang masa yang memenangi treble winners 1998/1999. Golnya ke gawang Wimbledon di Selhurst Park dalam partai pembuka musim 1996/1997 dari jarak 57 yard menjadi salah satu gol yang paling sering ditayangkan kembali.
Tidak hanya bersama klub, dia juga sukses bersama tim nasional. Mengikuti jejak idolanya, Bryan Robson menjadi kapten Inggris. Dia juga menjadi satu-satunya pemain negeri Ratu Elizabeth itu yang mampu mencetak gol dalam tiga putaran final Piala Dunia (1998, 2002, dan 2006). Hingga kini hanya Peter Shilton (kiper) yang memiliki caps lebih banyak dengan 125 caps, sementara Becks tampil dalam 115 pertandingan untuk The Three Lions.
Suami Victoria Adams ini sempat menjadi musuh bersama di Inggris setelah dianggap biang keladi kekalahan Inggris dari Argentina di Piala Dunia Prancis 1998. Kartu merah yang diterimanya akibat menendang Diego Simeone setelah sebelumnya diprovokasi menyebabkan Inggris hanya bermain dengan 10 pemain.
Meski dihujat di seantero Inggris, Becks tetap disayangi oleh publik Manchester. Dia langsung mencetak gol tendangan bebas ke gawang Leicester City di pembukaan musim 1998/1999. Musim 1999/2000 terpilih sebagai pemain terbaik kedua di Eropa dan Dunia, hanya kalah dari Rivaldo, pemain Barcelona asal Brasil. Musim berikutnya kembali memenangi Liga Primer Inggris dan mulai mengenakan ban kapten The Three Lions.
Dengan ban kapten yang melingkar di lengannya Becks menjadi pemain terpenting sekaligus pahlawan. Dia mencetak gol yang meloloskan Inggris ke Piala Dunia 2002 saat bermain imbang 2-2 dengan Yunani di Old Trafford. Dia kemudian sempat dikhawatirkan tidak jadi ke Korea Selatan dan Jepang setelah mengalami cedera metatarsal akibat tackle keras Aldo Duscher, saat pertandingan melawan Deportivo La Coruna. Tapi, kemudian pulih tepat waktu dan bisa berangkat ke Piala Dunia. Bahkan mencetak gol tunggal kemenangan Inggris atas Argentina.
Musim 2002/2003 merupakan musim terakhirnya ini setelah hubungan dengan Sir Alex Ferguson memburuk. Kekalahan dari Arsenal di kandang dalam ajang Piala FA membuat suasana ruang ganti memanas. Fergie yang kesal kemudian menendang sepatu yang melukai pelipis Becks. Tidak dimainkan sejak awal dalam partai krusial menghadapi Real Madrid. Dia sempat mencetak dua gol tetapi kemenangan 4-3 tidak cukup meloloskan Setan Merah. Dia lalu digosipkan keluar untuk menuju Barcelona atau Real Madrid. Ibu kota Spanyol akhirnya menjadi kota kedua setelah Manchester untuk ditinggali setelah Real Madrid menebusnya dengan harga 35 juta euro.
Ayah dari Brooklyn, Romeo, Cruz, dan Harper Seven ini mengakhiri karirnya dengan mencetak gol tendangan bebas dalam pertandingan terakhirnya menghadapi Everton dan mempersembahkan gelar juara liga keenam kalinya. Becks total bermain dalam 394 pertandingan dan mencetak 85 gol.
Banyak yang menduga karirnya akan tenggelam selepas meninggalkan Old Trafford. Dengan gaya hidup yang lebih dekat dengan dunia hiburan, dia diprediksi lebih dikenal berkat kiprahnya di dunia gemerlap, bukan lapangan hijau. Semua prediksi yang akhirnya dia patahkan.
Publik mungkin lupa bahwa sejak berada di akademi hingga sudah menjadi bintang besar, Beckham bersama Gary Neville merupakan duo Class of 1992 yang paling giat berlatih. Menyadari tidak punya bakat sebesar yang dimiliki Paul Scholes dan Ryan Giggs, Becks menutupi kekurangannya dengan menambah jam latihan. Datang lebih awal dan sering meninggalkan lapangan latihan terakhir untuk melatih tendangan bebasnya.
Tanpa melupakan faktor marketingnya yang sangat menguntungkan klub yang diperkuatnya, Beckham merupakan pribadi yang profesional dan bisa menjaga kebugaran dengan baik meskipun punya banyak urusan lain di luar sepak bola.
Memilih bermain untuk AC Milan (tahun 2009 dan 2010) ketika MLS sedang jeda jelas bukti nyata bahwa Becks ingin mempertahankan standar tinggi untuk dirinya. Pilihan tersebut juga untuk meyakinkan Fabio Capello, bahwa dirinya masih layak bermain untuk timnas Inggris dan bisa tetap bermain di level tertinggi. Dan terbukti benar bahwa kemudian Capello memberinya kepercayaan hingga akhirnya Becks bisa mengukir caps ke 100, bahkan hingga 115 bersama timnas.
Saat MLS sudah menyelesaikan musimnya di bulan Desember 2012 dan kontraknya telah berakhir, meski tidak memiliki kontrak profesional Beckham menjalani latihan bersama Arsenal. Itu semua dia lakukan untuk menjaga kebugarannya. Oleh karenanya, ketika 31 Januari 2013, PSG mengumumkan mengontraknya secara fisik Beckham tidak ada masalah.
Beckham merupakan pribadi yang profesional dan menjaga standar tinggi untuk dirinya. Wajar jika kemudian dia berhasil menjaga performa dan konsistensinya sepanjang 21 tahun karirnya di lapangan hijau. Disiplin yang terus dipegangnya hingga akhir karirnya dan membawanya menjadi pesepak bola Inggris paling sukses di luar negeri hingga hari ini.
(yahoo.com)