Nasib Warga KAT Nerlang, Diberi Janji yang Tak Pernah Terbukti

Redaksi Redaksi
Nasib Warga KAT Nerlang, Diberi Janji yang Tak Pernah Terbukti
Warga Nerlang

SELATPANJANG,riaueditor.com - Kendati sering dikunjungi tokoh-tokoh politik, tokoh pemerintahan atau pun individu yang ingin berharap simpati, Nerlang, dusun terpencil di Desa Sungai Toor Barat, Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti, hingga detik ini belum mendapatkan pembangunan yang layak sebagaimana daerah lain di Meranti atau pun Riau umumnya. Tokoh politik yang dating ke Nerlang hanya menabur janji belaka.

Miris memang, jika saat ini masih ada politisi-politisi yang mengumbar janji kosong kepada masyarakat . Terlebih lagi kepada masyarakat suku asli terpencil seperti di Nerlang ini. 

Terbukti dari kunjungan Gerakan Meranti Berkibar (GMB) ke pemukiman warga Dusun Nerlang, Satu (24/5/2014) lalu. Kondisi dusun ini memang sangat berbeda disbanding dusun lainnya di Riau, khususnya Kepulauan Meranti. Miris memag, jika sekitar 40 Komunitas Adat terpencil (KAT) yang merupakan suku asli di Riau ini, jauh dari sarana pra sarana selayaknya yang biasa ditemukan di desa-desa lainnya. 

"Meskipun kami sering dikunjungi kokoh-tokoh politik, baik saat melakukan sosialisasi, mereka pun menabur janji akan menganggarkan dana untuk pemebangunan di sini. Yang mereka janjikan itu memang menjadi  impian masarakat dusun Nerlang sejak lama. Namun sampai saat ini tidak ada satu pun janjinya yang terealisasi," kata Eno (29), tokoh muda Dusun Nerlang.

Padahal menurut Eno, warga Nerlang sudah sangat berharap sekali jika program bangunan seperti PNPM diarahkan ke desa ini. Sebutnya, pembangunan jalan menjadi kunci utama pelaksanaan pembangunan lainnya. 

"Jalan adalah nadi perekonomian kami. Jalan yang ak layak ini yang menjadi penyebab lambatnya daerah ini berkembang," ungkap Mahmud, Ketua RT Nerlang saat menyambut GMB di pemukiman warga Berlang. 

Diterangkan Mahmud, dari pelabuhan menuju pemukiman warga, jaraknya diperkirakan sekitar 2 kilometer. Dari keadaan jalan yang tidak bisa dilalui, setelah dikerjakan secara swadaya oleh warga, kini sudah bisa dilalui. ""Dengan swadaya masyarakat kami kerjakan gotong royong menimbunnya dengan tanah dengan  peralatan seadanya," tutur Mahmud.

Kepada GMB, Mahmud menuangkan harapannya agar disampaikan kepada pemerintah. Bahwasanya mereka juga ingin hidup layak dengan sarana pra sarana yang layak pula. Sebagai warga suku asli Kepulauan Meranti dan juga bagian dari Komunitas Adat Tertinggal, mereka pun ingin merasakan haknya sebagai warga Negara Indonesia(mj)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini