Setelah 30 Tahun, Ghatib Zaman Kembali Digelar

Redaksi Redaksi
SELATPANJANG, riaueditor.com- Ritual Ghatib Zaman atau lebih di kenal dengan istilah "Bele Kampung" adalah tradisi dan adat istiadat melayu Selatpanjang yang sudah sangat lama tidak dilakukan. Acara yang dilaksanakan pada Kamis, (04/09) malam ini bertujuan untuk berzikir atau mengingat Allah sembari meningkatkan rasa kekompakan antar penduduk desa.

Iringan masyarakat yang berjumlah ratusan orang tersebut dimulai dari halaman mesjid Al-Mujahidin jalan Dorak. Dalam pembukaan acara, tampak hadir Kadisbudpora Kepulauan Meranti, Drs. Ishak izrai, ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Meranti, H. Ridwan Hasan dan Kepala Bagian Hukum Setdakab Kepulauan Meranti Sudandri Jauzah SH.

Kadisbudpora Kepulauan Meranti, Drs. Ishak izrai menyambut baik inisiatif Forum Mahasiswa Pemuda Selatpanjang Timur yang menggagas dan melaksanakan kegiatan ini. mereka ini adalah mahasiswa dari tiga fakultas yang tengah melanjutkan studinya di Pekanbaru.

"Tradisi ini adalah tradisi turun temurun yang harus dilestarikan. Sudah sepantasnya generasi muda tahu tentang kegiatan ini. Insya Allah, kita akan menjadikan kegiatan ini kegiatan rutin, kegiatan ini juga  mengingatkan kembali kepada kita bahwa ini adalah tradisi yang pernah ada di Selatpanjang, dan jangan sampai dilupakan," ucapnya.

Sementara itu, ketua LAM H. Ridwan Hasan dalam sambutannya meminta agar masyarakat serius dalam mengikuti prosesi adat ini. "Selama kegiatan ini, kami minta semuanya hanya mengucapkan zikir dan tidak berbicara hal-hal keduniaan semua untuk mempertahankan aset budaya melayu sejak turun temurun. Ghatib bagaikan membersihkan diri, yang dilakukan dalam ritual tak menyimpang dari ajaran Islam," ucapnya.

Tampak ratusan masyarakat terdiri dari laki laki dan perempuan yang mengikuti prosesi adat ini dari awal hingga akhir dengan khidmat dan sangat antusias dan ikut berjalan kaki sembari melantunkan zikir.

"Belum pernah kami melihat acara ini bang," kata seorang pemuda. Sementara itu salah seorang imam masjid yang juga ketua kampung mengatakan kegiatan ini sudah lama tidak dilakukan. "Lebih kurang 30 tahun sejak tahun 1984 sudah tak pernah ada Ghatib Zaman ini. beghatib (berzikir) dimaksudkan untuk beribadah juga dapat menolak bala dan menjauhkan segala musibah. Mudah-mudahan yang muda-muda nanti mau melanjutkan adat istiadat ini," harapnya.

Acara yang dipimpin oleh ketua kampung Sya`ari ini memulai zikir dengan berjalan kaki dari halaman masjid Al-Mujahidin hingga berakhir di hilir Sungai Jelutung terletak dijalan lingkar Dorak yang berjarak hampir 8 KM. Tiba di Sungai Jelutung, rombongan berhenti dan membacakan do`a, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala mara bahaya dan semoga penduduk kampung senantiasa diberikan rahmat oleh Yang Maha Kuasa.(ai)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini