Cerita Batavia Berganti Nama Menjadi Jakarta 72 Tahun Silam

Redaksi Redaksi
Cerita Batavia Berganti Nama Menjadi Jakarta 72 Tahun Silam
Batavia Lama (Wikipedia)

Dahulu, Jakarta bukanlah nama yang akrab di telinga. Batavia adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda untuk nama kota yang kini menjadi ibu kota Indonesia itu.

Nama Batavia dipakai sekitar tahun 1621 sampai tahun 1942, ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Pada masa kepemimpinan Jepang, nama kota diubah menjadi Jakarta. Perubahan nama itu dilakukan sebagai bagian dari de-Nederlandisasi. Nama Jakarta pun kian populer.

Seperti dikutip dari Kepustakaan Presiden, pengukuhan nama Jakarta baru dilakukan pada 30 Desember 1949 oleh Menteri Penerangan saat itu, Arnold Mononutu. Sejak itu, nama Batavia menghilang.

Pengukuhan nama Jakarta dilakukan pria bernama lengkap Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu itu sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Konferensi itu menghasilkan kesepakatan pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Kemudian, bersama Soedibjo Wirjowerdojo, koleganya sesama diplomat, Arnold lah yang pertama kali mengumumkan nama Batavia menjadi Jakarta. Sedangkan Soedibjo Wirjowerdojo mengumumkannya di Belanda.

Jarang ada orang yang mengenal ketokohan Arnold Mononutu. Publik hanya mengetahui jika dia adalah Menteri Penerangan pada era Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS).

Arnold Mononutu, adalah tokoh pergerakan nasional kelahiran Sulawesi Utara. Sekalipun beragama Kristen, ia tidak menjadi bagian dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Ia salah seorang tokoh PNI.

Selain menjabat menteri, Mononutu pernah jadi anggota Majelis Konstituante (1956-1959) mewakili PNI.

JJ Rizal, peneliti budaya dan sejarah Betawi, menyebutkan nama Jakarta sebenarnya sudah muncul 500 tahun sebelum Jepang datang ke Indonesia. Soekanto dalam buku Dari Djakarta ke Djajakarta mengatakan:

"Pernah kita dengar sendiri, bahwa nama Djakarta dianggap seolah-olah sebagai suatu nama baru, jaitu nama jang diberikan dalam djaman pemerintahan Djepang untuk memasukkan daerah itu dalam lingkungan Asia Timur Raja atau Dai Nippon."

Soekanto menulis, memang nama Jakarta muncul dalam masa Jepang dan diberikan untuk menggantikan nama Batavia yang berbau penjajahan dan bersifat kolonial. Namun, Soekanto menegaskan bukan berarti nama Jakarta itu adalah suatu ciptaan Jepang dalam Perang Dunia ke II.

Setidaknya, kata Soekanto, nama Jakarta dengan berbagai variasinya (Djakerta, Djaketra, Jacatra, Djajakerta, Djajakarta) telah berusia lebih dari empat abad. Nama itu timbul, lenyap, dan timbul lagi dalam perjalanannya dari zaman ke zaman.

Jika ditelusuri berdasarkan catatan sejarah, nama tertua bagi tempat tinggal yang kini disebut Jakarta adalah Sunda Kalapa. Adolf Heuken SJ dalam Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta menyatakan kata Sunda baru muncul di Jawa Barat pada abad ke-10, yaitu pada Prasasti Kebon Kopi II dan Prasasti Cicatih di Cibadak, yang menyebutkan tentang seorang raja maupun Kerajaan Sunda.

Adapun prasasti tertua yang menjadi peninggalan sejarah Jakarta adalah Prasasti Tugu dari abad ke-5. Prasasti ini tertanam hampir 1.400 tahun lamanya di Desa Batu Tumbuh, di dekat Tugu, Jakarta Utara. Prasasti menjelaskan bahwa kehidupan awal di Jakarta sudah tumbuh. Pada saat itu Jakarta berada dalam penguasaan Kerajaan Sunda Pajajaran.

Dari sumber-sumber sejarah dan peta purba yang diteliti Heuken, tampak sudah ada permukiman di sepanjang daratan aluvial Jakarta sejak abad ke-5. Daratan aluvial itu ada di sebelah tenggara Tanjung Priok.

Selain itu, berdasarkan teori J Noorduyn dan H Th Verstappen atas peta topografik, tampak Kali Cakung sengaja dibelokkan persis pada bekas lokasi Prasasti Tugu itu dari arahnya yang lama (ke utara, ke Lagoa), ke arah timur laut, yakni ke Marunda.

Sunda Kalapa sebagai sebuah kota pelabuhan tumbuh dan berkembang dengan pesat. Hal ini termuat dalam sebuah catatan Cina dari Chu Fan Chi pada abad ke-11 yang menguraikan soal kota pelabuhan dengan kedalaman 60 kaki dengan laki-laki maupun perempuan yang mengikatkan sepotong kain katun di pinggang.

Pada 1513, kapal Eropa pertama, yakni empat kapal Portugis di bawah pimpinan de Alvin, singgah di Sunda Kelapa. Mereka datang dari Malaka, yang dua tahun sebelumnya ditaklukkan oleh Alfonso d Albuqueque.

Sunda Kelapa adalah pelabuhan yang ramai yang menjadi tempat singgahnya kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar, dan Madura, bahkan hingga pedagang-pedagang dari India, Tiongkok Selatan, dan Kepulauan Ryuku (Jepang).


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini