Setiap Penelitian Harus Dihargai!

Redaksi Redaksi
Setiap Penelitian Harus Dihargai!
Ilustrasi : Reuters
Setiap Penelitian Harus Dihargai
JAKARTA - Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian di luar negeri merupakan sebuah kebanggaan luar biasa. Apalagi ketika dinyatakan sebagai juara pada kompetensi bergensi dalam skala global.

Perasaan bahagia itu yang tengah dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember (Unej), Amalia Rahmaniar Indrati. Bersama dua rekannya, M Ainun Najib dan Hendra Jaya Permana, penelitian mereka yang berjudul Solubility of Enamel Calcium in Saliva of Dosability People (In-Vitro Test) itu keluar sebagai jawara pertama dalam "The 21st International Student Congress of (bio) Medical Sciences (ISCOMS) 2014 di Belanda, belum lama ini.

Tidak sekadar bangga, Rahmaniar merasa pertemuannya dengan para peneliti muda di bidang kesehatan dan kedokteran yang berasal dari seluruh dunia sangat bermanfaat. Sebab, para peneliti yang berkumpul di ISCOM sangat menghargai setiap penelitian ilmiah yang dilakukan oleh peneliti lainnya.

"Mereka tertarik dan ingin tahu mengenai penelitian yang kami lakukan. Mereka tidak memandang latar belakang kami yang notabenenya masih mahasiswa dan sangat antusias dengan penelitian kami," ungkap Rahmaniar, seperti dilansir dari situs Unej, Senin (7/7/2014).

Cara pandang tersebut, kata Rahmaniar, telah membuka matanya untuk lebih menghargai setiap penelitian yang dihasilkan oleh siapa saja. Sebab, lanjutnya, ada kerja keras dan ide baru yang sangat berharga bahkan di tiap penelitian kecil sekalipun.

"Hal itu mengajarkan saya untuk menghargai penelitian ilmiah yang dilakukan oleh siapapun. Karena dibalik sebuah penelitian ilmiah, tercipta ide pemikiran baru, ilmu baru, dan kerja keras pula," imbuhnya.

Meski dinobatkan sebagai juara pertama, para panelis dalam kompetisi tersebut memberikan beberapa masukan bagi penelitian Rahmaniar dan kawan-kawan. Salah satunya agar menerapkan hasil penelitian tersebut ketika kelak tiga mahasiswa tersebut berpraktik.

"Sementara masukan yang diberikan oleh panelis kepada kami adalah, agar karya tulis ilmiah ini bisa dikembangkan sesuai dengan praktik kami nanti sebagai dokter gigi nantinya. Sehingga kami tidak membeda-bedakan pasien yang datang, baik itu penyandang cacat maupun pasien normal," tutupnya.

ISCOM adalah kegiatan kongres tahunan para peneliti, dosen dan mahasiswa di bidang kesehatan dan kedokteran yang membahas masalah perkembangan di bidang biomedik yang diadakan oleh University of Groningen Belanda. Tahun ini, tema yang diambil adalah Healthy Ageing atau Lanjut Usia yang Sehat. (mrg/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini