Inhil Bertengger di Peringkat 11 MTQ Riau Ke-35, Berikut Penjelasan Kabag Kesra

Redaksi Redaksi
Inhil Bertengger di Peringkat 11 MTQ Riau Ke-35, Berikut Penjelasan Kabag Kesra
Kabag Kesra Pemkab Inhil, HM Arifin
TEMBILAHAN, riaueditor.com - Kabupaten Indragiri hilir (Inhil) yang dikenal sebagai pemilik Qori` dan Qori`ah terbaik dan disegani, tapi pada pelaksanaan MTQ baru-baru ini hanya bisa bertengger di posisi 11 dari 12 kabupaten/kota se-Riau.

Hasil tersebut tentu saja membuat sebagian masyarakat memberikan pertanyaan besar, karena iven yang selama ini menjadi andalan atau kebanggaan, kini hanya sebuah kenangan manis yang bisa diucapkan saja dan sulit untuk diulangi.

Keterpurukan ini kemudian dijawab oleh Kabag Kesra Pemkab Inhil, HM Arifin saat dikonfirmasi awak media di Kantor Bupati Inhil lantai I Jalan Akasia Tembilahan, Senin (24/10/2016).

"Untuk diketahui pada MTQ yang dilakoni sekarang itu terdapat 7 cabang yang dipertandingkan, dan masing-masing cabang tersebut terdapat lagi beberapa no lomba, adapun cabangnya yakni cabang tilawah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah), cabang Tahfiz (menghafal, 1 jus. 5 juz, 10 juz . 20 juz dan 30 juz), cabang tafsir (bahasa Arab, Ingris dan Indonesia), cabang syarhil, cabang fahmil, cabang khat, cabang MMQ (menulis maqalah Al-qur`an)," kata Arifin.

Setakat ini, lanjutnya, LPTQ hanya diberi tugas dan wewenang mencari/ menyeleksi peserta melalui MTQ mulai dari tingkat desa, kecamatan dan kebupaten, hasilnya dalam waktu singkat dibina dan dilatih menjelang pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi.

"Anggaran yang terbilang relatif besar menurut orang itu untuk hal tersebut pun masih dianggap memperihatinkan, karena masih banyaknya keluhan-keluhan," ucapnya.

Menurut Arifin rendahnya perhatian, baik itu pelatih maupun yang lainnya, dibanding pembinaan bidang olahraga dan kesenian karena itu urusan agama.

"Kita dihimbau dan diminta untuk selalu ikhlas lillahita`ala sekali lagi kita baru mencari, yang dicari putra daerah. Kalau cari orang lain memang relatif gampang, sementara kita belom mampu pencetak," keluhnya.

Kalau Qori/ Qariah, katanya mungkin bisa selesai ditangan pelatih yang ada. Tapi, cabang mufassir, tafsir. Ada tafsir bahasa Inggris dan tafsir bahasa Arab, ada tafsir bahasa Indonesia. Selain itu, khat, fahmil, syarhil, menulis makalah. Bibit-bibit itu seyogyanya muncul dan ada di madrasah, ponpes, dan sekolah-sekolah dan PT.

"Hemat kami sinergitas antar lembaga inilah yang harus dibangun, sementara kita harus memaklumi bagaimana keadaan ponpes, atau madrasah yang ada di Inhil," tukasnya.

Menurut mantan Camat Batang Tuaka ini, bebicara tentang hasil dan realita MTQ 2016, dapat diinfokannya bahwa pada saat MTQ tingkat Kabupaten di Sungai Guntung disepakati pemenang 1, 2, dan 3 akan diseleksi kembali untuk mencari yang terbaik untuk mewakili Inhil pada MTQ tingkat Provinsi.

Arifin jelaskan, setelah diseleksi dan dilatih sesuai kesepakatan tadi, hampir 60 persen dari para juara tersebut tidak memenuhi syarat. Ada yang lewat umur, ada pula yang bukan putra daerah, sehingga ketika pendaftaran melalui E_MTQ peserta sebagian besar ditolak.

"Dapat dibayangkan bagaimana pusingnya LPTQ ketika itu," tambahnya.

Akhirnya, LPTQ berusaha mencari peserta dari putra daerah dengan harapan juga sekiranya panitia konsisten semua daerah/ kabupaten kota menggunakan putra daerah insya Allah kita juga bisa bersaing.

"Tetapi apa yang terjadi, kekecewaan kita terhadap panitia sulit kita ungkapkan, dengan kondisi itu menurut kami," ujarnya. (pra)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini