Asap Hilang, Pesawat Tempur TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin Kembali Latihan

Redaksi Redaksi
Asap Hilang, Pesawat Tempur TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin Kembali Latihan
foto: Ist
Asap Hilang, Pesawat Tempur TNI AU Lanud Roesmin Nujadid Kembali Latihan
PEKANBARU, Riaueditor.com - Bencana kabut asap yang melanda Riau, tidak hanya mengganggu aktivitas maskapai komersil, sejumlah pesawat tempur di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, juga tak bisa mengudara untuk latihan dan menambah jam tempur para pilot TNI AU. Kini asap mulai menipis, pesawat tempur pun kembali mengitari langit Riau.

Deru suara mesin pesawat tempur Hawk 100/200 dan F16 C/D kembali membisingkan langit Riau, Kamis (15/10) siang tadi. Pesawat tempur kebanggaan masyarakat Riau pada khususnya, bisa kembali mengikuti latihan terbang setelah 3 pekan sempat vakum karena bencana kabut asap.

"Kurang lebih sekitar 3 minggu pesawat-pesawat tempur kita tidak bisa mengudara karena dikepung bancana kabut asap. Hari ini, setelah mengikuti pelatihan persiapan HUT TNI ke-70 kemarin, pesawat kita bisa kembali melalukan latihan rutin," kata Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marmas TNI Henri Alfiandi, Kamis (15/10).

Hendri menjelaskan, di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru ada dua Skadron udara, yakni Skadron 12 yang diperkuat dengan pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dan Skadron 16 dengan pesawat tempur F 16-nya.

Kedua skadron udara ini, lanjutnya, sempat vakum sekitar 3 Minggu tak bisa mengudara karena asap. Kepungan asap pekat akibat kebakaran lahan dan hutan membuat jarak pandang terbatas yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya latihan.

Padahal sesuai jadwal, setiap skadron harus latihan sekitar 250 jam dalam sebulan, atau 2.500 dalam setahun. Bila dihitung dalam sepekan ada 30 sampai 40 jam terbang yang harus dilakukan setiap pilot pesawat tempur dalam latihan. "Kita ada 3 pekan tidak latihan untuk kedua Skadron. Itu artinya lebih dari 100 jam kita kehilangan waktu untuk latihan. Ini sama saja kita menghabiskan anggaran, akan tetapi tidak bisa untuk latihan," sebut Henri.

Dari pengalaman kabut asap tahun ini, lanjut Henri, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Mabes TNI untuk melakukan planing baru terkait kabut asap. Bila tahun depan, asap masih menyelimuti wilayah Riau, maka alternatifnya kedua skandron di Lanud Roesmin Nurjadin akan bergeser latihan ke salah satu Lanud yang ada milik TNI AU. "Bisa saja di salah satu Lanud yang ada di Sumatera, atau kita latihan di Lanud Halim Perdana Kusuma. Itu alternatif bila tahun depan masih ada ancaman asap," terang Henri.

Selama ini memang hal tersebut belum pernah dilakukan. Mengingat, kondisi kabut asap tahun sebelumnya tidak seperti kejadian tahun ini. Tahun sebelumnya, kabut paling banter seminggu pekat, namun ke esokan harinya  bisa normal kembali dan pilot bisa latihan.

"Kalau tahun sebelumnya memang ada asap, tapi kondisinya tidak selama tahun ini. Jadi waktu itu belum ada alternatif untuk pindah tempat latihan. Karena tahun sebelumnya, seminggu dikepung asap, selanjutnya bisa normal dan bisa lathan lagi. Berkaca dari tahun sekarang, jika masih ada bencana asap, maka kita akan pindah tempat latihan," kata Henri.

Henri juga menjelaskan, asap pekat sempat membuat sejumlah pesawat F16 tidak bisa mendarat. Dia menjelaskan, waktu itu F16 baru pulang mengikuti latihan bersama dengan negara Thailand. "Setelah latihan bersama, pesawat F16 kita dari Thailand akan kembali ke home basenya di Lanud Roesmin Nurjadin. Tapi waktu itu asap cukup pekat. Sehingga pesawat kita terpaksa mendarat di Lanud Polonia Medan," tutup Henri.(xxx)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini