Negeri Berasap

Oleh: Eka Saputra, Jurnalis Riau
Redaksi Redaksi
Negeri Berasap
Eka Saputra
"Kau mainkan untukku, Sebuah lagu tentang negeri di awan. Dimana kedamaian, menjadi istananya. Dan kini tengah kau bawa Aku menuju kesana." Kutipan tersebut saya ambil dari sepenggal bait Katon Bagaskara tentang negeri di awan. Namun di Provinsi Riau saya mengambil judul "Negeri Berasap".

Sangat pantas diutarakan bahwasanya Riau adalah negeri berasap. "Kau mainkan untukku, Sebuah lagu, tentang negeri berasap. Dimana kepulan asap, menjadi hirupan kita sehari - hari". Selama hampir dua dekade, tepatnya 18 tahun masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru menghirup asap dari tangan - tangan jahil pembuka lahan dengan cara mudah dan murah. Jika Guiness Book of Record (GBR) melihat hal ini, maka bumi lancang kuning akan masuk nominasi GBR.

Kenapa mudah dan murah? hanya dengan sebatang korek api, Lahan gambut langsung merambat beratus - ratus hektar dengan cepat dan menyebar jika sedang musim kemarau. Pembakar lahan hanya diberi 600 ribu hingga 1 juta oleh oknum perusahaan per hektar. Jika menggunakan alat berat atau eskavator menelan biaya 3 hingga 5 juta untuk membuka lahan per hektar. berarti dengan membakar, jauh lebih hemat serta efisien dan tentunya yang paling penting oleh perusahaan adalah save money atau Low budget.

kadang kita berpikir, apakah yang pembakar lahan tersebut tidak mempunyai hati nurani? apakah mereka tidak mempunyai keluarga? tentunya mereka pasti mempunyai keluarga. Namun apakah mereka menyesali atas perbuatan mereka. Tentu tidak menyesal. Kalau menyesal, Tidak akan ada asap selama 18 tahun hingga sekarang masih berkibar di negeri hamparan sawit tersebut. yang ada, asap pada 2015 ini, sudah tingkat sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dan warga seharusnya harus di evakuasi keluar Propinsi Riau. Bukan ke gedung - gedung pemerintahan....

Akan tetapi, ada yang mengais untung dalam kabut asap ini. Siapa dia? Mereka adalah penjual masker asap. banyak kita melihat di pinggir - pinggir jalan daerah rumah kita yang menjual masker dengan beraneka motif lucu, kartun, dan sebagainya. Berapa keuntungan mereka perhari ? Alangkah baiknya anda menayakan kepada penjual masker saja.

Asap sudah pasti telah merugikan kita semua. Dari segi ekonomi, dunia perhotelan di Pekanbaru mengalami merugi sekitar 30 persen akibat dampak asap tersebut. Sepinya pengunjung hotel dan pembatalan acara ataupun seminar dikarenakan para tamu hotel terjebak asap dan tidak bisa mendarat di Pekanbaru.

Maskapai penerbangan sudah tentu rugi Miliaran Rupiah. Banyak penerbangan melakukan penundaan bahkan pembatalan. Pihak otorita Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru menilai, jarak pandang akibat kabut asap beberapa minggu ini hanya 200 hingga 800 meter saja. Jarak aman untuk keselamatan penerbangan yang bisa didarati pesawat berbadan lebar sekitar 1000 meter. Idealnya 1500 meter. Akibatnya, bandara SSK II mengalami lumpuh total beberapa hari. Jika Masyarakat yang menuju Pekanbaru mengambil jalan alternatif menuju ke Bandara Minang kabau - Padang dan Bandara Hangnadim, batam - Kepulauan Riau.

Dari segi kesehatan tak pelak. Diskes Riau mencatat pada 3 bulan terakhir 2015 sejak kejadian bencana asap, sekitar 20.000 warga yang sudah terkena penyakit Inpeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Bahkan korban kabut asap menimpa anak sahabat kita dari media. Bocah yang duduk kelas 6 SD tersebut tidak dapat menahan derita hingga dua hari di ICU RSUD Arifin Achmad sang putri dipanggil yang Maha Kuasa.

Saat ini Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau, Dinas Kehutanan (Dishut) Riau, Dinas Perkebunan (Disbun) Riau, Dinas Kesehatan (Diskes) Riau, dan Perusahaan Raksasa di Riau serta instansi yang terkait lainnya sibuk mencegah dan mensosialisasi terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karthula) di Riau.

Pemerintah sibuk mengirim Ratusan Personal TNI diterjunkan ke Riau untuk memadamkan titik api yang membakar lahan di area perusahaan. BNBP sibuk mengirimkan tiga water booming buatan Negara beruang putih tersebut.

Polda Riau telah menangkap pembakar lahan tersebut. Dari introgasi pihak polda yang membakar lahan adalah milik mereka sendiri dikarenakan murah dan mudah. Namun, apakah betul? Ngakunya sih milik warga yang mau membuka lahan tersebut. Tapi masa iya, warga punya ratusan hektar. kalaupun ada, mungkin warga se-kelurahan yang memliki lahan ratusan hektar. Tapi semua ini kita percayakan kepada Polda Riau untuk mengusut dan menangkap pembakar lahan ini.

Siapa yang salah semua ini? Apakah Pusat, Pemprov atau penegak hukum yang kurang tegas. Kenapa setiap tahun terus terjadi. Kenapa para pembakar lahan tidak kapok - kapok mengulangi aksi pembakaran lahan ini ? Apakah ada yang diuntungkan dengan pembakaran ini? Miliaran Rupiah dari uang rakyat atau dari APBN digelontorkan untuk memadamkan api di Riau.

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini