Luhut Imbau Lawan OTT, KPK: Jauhi Korupsi

Redaksi Redaksi
Luhut Imbau Lawan OTT, KPK: Jauhi Korupsi
Ekspose KPK setelah melakukan OTT salah satu Bupati di Riau terkait kasus korupsi dugaan suap perizinan perkebunan. (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JAKARTA - Merespons pernyataan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan yang mengajak pemerintah daerah melawan operasi tangkap tangan (OTT), KPK menegaskan tetap akan menggelar OTT jika memang ditemukan dugaan korupsi.

KPK meminta semua pihak agar menjauhi tindak pidana korupsi.

"Jadi kalau jauhi korupsi ya, tidak (mungkin) kemudian dilakukan tangkap tangan, kan begitu," kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK, Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (18/1/2023) seperti dilansir dari republika.

Ali menegaskan, pihaknya tidak sembarangan melakukan OTT. Sebab, ia menyebut, KPK sudah memiliki alat bukti permulaan yang cukup mengenai adanya dugaan korupsi sebelum melakukan operasi senyap terhadap pejabat.

"Kami melakukan kegiatan tangkap tangan, tentu karena kemudian menemukan bukti awal ada dugaan transaksi yang dilakukan oleh penyelenggara negara terkait dengan tindak pidana korupsi, kan begitu," tegas dia.

"Kalau kemudian siapa pun tidak melakukan tindak pidana korupsi, ya pasti tidak ditangkap, begitu kan?" tambahnya menjelaskan.

Selama 2022, KPK menggelar 10 OTT. Di antara OTT yang menarik perhatian publik adalah penangkapan terhadap kepala daerah yakni Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi dan Bupati Bogor Ade Yasin; OTT terhadap Rektor Universitas Lampung Karomani, dan penangkapan terhadap Hakim Agung Sudradjad Dimyati.

Pada akhir tahun lalu, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, pihaknya mendorong agar perencanaan anggaran suatu daerah dilakukan berbasis elektronik dan terintegrasi. Ia menyebut, hal ini sebagai bentuk upaya pencegahan terjadinya korupsi.

"Dalam upaya pencegahan (korupsi), kami mendorong perencanaan penganggaran yang berbasis elektronik dan terintegrasi," kata Alex di Jakarta, Jumat (30/12/2022).

"Tujuannya apa, supaya masyarakat bisa memantau dan memonitor proses penganggaran sehingga tidak ada lagi anggaran siluman dan sebagainya tadi," tambahnya menjelaskan.

Sementara, Luhut Binsar Panjaitan dalam pidatonya pada Rapat Koordinasi Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah 2023, di Jakarta, Selasa (17/1/2023), mengajak pemerintah daerah melawan operasi tangkap tangan (OTT).

Ia juga meminta kepala daerah mengurangi praktik korupsi dengan cara mengubah ekosistem pemerintahan jadi serba digital.

"Kita harus melawan OTT supaya kita menjadi negara yang bermartabat. Saya kira, kita tidak mau negara kita jadi negara yang dituduh tidak memiliki ekosistem yang bagus sehingga terjadi korupsi di Indonesia," kata Luhut.

Luhut menjelaskan, negara yang bermartabat adalah negara yang punya ekosistem yang baik lewat digitalisasi. Dia meyakini ekosistem pemerintahan yang sudah digitalisasi bakal menghilangkan OTT terhadap pejabat korup dan akan mengurangi kasus korupsi.

"Jadi jangan salah mengerti, pemerintah atau kami tidak ingin melihat OTT bukan karena itu. Kami tidak ingin negara kita yang begitu hebat dipuja puji orang, (tapi) masih ada OTT karena ekosistem kita tidak bagus," ujarnya dalam acara yang turut dihadiri Presiden Jokowi itu.

Sorotan Luhut terhadap OTT perkara korupsi bukanlah yang pertama. Pada pertengahan Desember 2022 lalu, Luhut menyebut OTT yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat nama Indonesia menjadi buruk.

"Kita kalau mau bersih-bersih amat di surga sajalah Kau. Jadi KPK pun jangan pula sedikit-sedikit tangkap-tangkap. Itu enggak bagus juga, ya, lihat-lihatlah," kata Luhut ketika itu saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Aksi Pencegahan Korupsi Tahun 2023-2024 di Jakarta.

Sumber: Republika

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini