Ancaman Gempa 9 SR, Warga Bengkulu Akan Gelar Doa Tolak Bala

Redaksi Redaksi
Ancaman Gempa 9 SR, Warga Bengkulu Akan Gelar Doa Tolak Bala
Foto: Demon Fajri/Okezone
Jalur evakuasi gempa di Bengkulu
BENGKULU - Warga Bengkulu akan melakukan doa tolak bala menyusul adanya informasi ancaman gempa 9 skala Richter (SR) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar); dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Ancaman gempa itu dikatakan juga bisa dirasakan sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu, seperti di Kabupaten Mukomuko.

Prediksi guncangan gempa dengan kekuatan besar tersebut mengingatkan kembali pada catatan kelam guncangan gempa berkekuatan 7,9 SR yang terjadi 12 September 2007, sekira pukul 18.05 WIB, yang berpusat di laut sekira 159 kilometer barat daya Bengkulu, di koordinat 4,67 LS-101.13 BT, dengan kedalaman gempa 10 KM.

Berdasarkan data yang terhimpun Okezone, saat kejadian gempa 7,9 SR sedikitnya telah menewaskan enam orang, empat luka berat, dan 10 luka ringan. Gempa juga mengakibatkan 2.515 rumah rusak berat, 1.679 rusak sedang dan sisanya rusak ringan.

Total rumah yang rusak akibat gempa saat itu tercatat sebanyak 4.700 unit. Sedangkan fasilitas umum yang rusak terdiri dari sembilan puskesmas, dua pos pembantu, dan 52 sekolah, serta satu jembatan, menara, dan jalan raya.

Kepala Desa Medan Jaya, Aguswandi, mengatakan, prediksi gempa dengan berkekuatan 9 SR secara garis besar belum diketahui masyarakat di Kabupaten Mukomuko, seperti di Kecamatan Ipuh.

Untuk menghadapi bencana alam yang diprediksi akan terjadi, biasanya masyarakat di Kecamatan Ipuh, bakal menggelar doa tolak balak yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai tokoh agama, tokoh adat, karang taruna.

"Kami belum tahu prediksi gempa dasyat yang akan terjadi ini. Biasanya jika informasinya sudah berkembang maka kami menggelar doa tolak balak," kata Aguswandi, Jumat (31/7/2015).

Aguswandi mengatakan, doa tolak balak yang digelar masyarakat digelar di lokasi terbuka, masjid, serta lokasi terbuka lainnya guna memanjatkan doa Istigasah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Doa bersama kita gelar di lapangan terbuka," jelasnya.

Sementara Camat Ipuh, Yuzirizal, mengatakan, guna menghadapi bencana gempa yang berpotensi tsunami, tradisi masyarakat di Kecamatan Ipuh menggelar doa tolak balak dan Salat Istigasah dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

"Ritual yang kami lakukan biasanya menggelar Salat Istigasah dan dia tolak balak. Kalau sekarang ritual itu belum ada kami lakukan, tapi tidak tutup kemungkinan ritual tolak balak itu akan kami gelar. Doa itu kami gelar guna meminta kepada sang pencipta terhindar dari segala macam marabahaya," ungkap Yuzirizal.

Ditanya mengenai wilayah di Kecamatan Ipuh yang berdekatan dengan bibir pantai, Yuzirizal menerangkan terdapat enam desa. Desa tersebut yakni Air Buluh, Pulau Baru, Pulau Makmur, Pasar Ipuh, Tanjang Harapan, dan Retak Ilir.

"Jalur evakuasi di Ipuh ada dua titik. Titik kumpul pertama ada di areal lapangan salah satu perusahaan Tandan Buah Segar di Desa Sibak dan titik kedua ada di Desa Pulau Baru," ungkapnya.


(crl/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini