Misteri Ular Pemakan Manusia di Hutan Kalimantan (2)

Redaksi Redaksi
Misteri Ular Pemakan Manusia di Hutan Kalimantan (2)
ist.net
Teluk Naga

Sejak kali pertama ada, 100 hingga 150 juta tahun lalu, ular dengan cepat berevolusi. Salah satunya dengan menciptakan cara efektif untuk membunuh hewan lain menggunakan bisa atau racun.

"Kebanyakan ular punya bisa, bahkan yang dianggap paling tak berbahaya sekalipun," kata Robert Stuebing, ahli herpetologi.

Bisa ular mengandung serangkaian protein yang bekerja bersamaan untuk melumpuhkan lawan. Racun ular kobra raja (king cobra) mengandung 100 jenis.

Spesies ular yang jadi tersangka pertama adalah ular kepala merah (Bungarus flaviceps). Bisanya mampu melumpuhkan sistem syaraf mangsanya. Membuat korbannya tak bisa bergerak, bahkan bernafas.

"Antiracun tak akan mempan, kecuali kau cepat-cepat mengobatinya," kata Nicholas Casewell dari Liverpool School of Tropical Medicine di Inggris. Pada 2001, di Myanmar, ular tersebut mengigit ahli herpetologi Joseph Slowinski di tangan. Karena tak ditangani dengan cepat, ia tewas sehari kemudian.

Namun, ular itu tak sesuai dengan gambaran naga. Meski bisa mencapai panjang 2 meter, namun tubuhnya kurus. Apalagi, ia kerap tidur di siang hari.

Tersangka kedua adalah Calliophis bivirgatus atau ular pantai biru-biru dalam Bahasa Melayu. Itu pun tak mirip naga.

Mereka biasanya bergerak di antara dedaunan rontok dan makanan utamanya adalah ular lain yang lebih kecil. Itu berarti, taring mereka terlalu kecil untuk menembus kulit manusia.

Yang paling cocok dari segi ukuran adalah ular kobra raja atau king cobra (Ophiophagus hannah). Ukurannya bisa mencapai 5 meter dan menjadi ular berbisa terpanjang. Mereka juga bisa menegakkan bagian depannya. "Anda bisa bertatap mata dengan dia," kata kepala ekspedisi, Peter Houlihan dari Barito River Initiative for Nature Conservation and Communities.

Namun, bahkan kobra raja tak punya ciri naga. Sebab, meski bahaya, mereka jarang mengigit. "Mereka tidak agresif, dibandingkan sejumlah ular lain," kata Ron Lilley, yang menawarkan jasa pencarian ular di Bali. "Mereka punya racun atau bisa dalam jumlah lumayan, tapi tak suka menggigit manusia.

Pun dengan Sumatran pit viper (Trimeresurus sumatranus), yang hidup di antara pepohonan. Sama sekali tak seperti naga yang ada dalam legenda masyarakat Dayak. "Ular tersebut lebih cenderung predator yang menanti mangsanya alih-alih memburu mereka."

Jika tak ada ular yang terkait dengan naga, mungkin itu adalah ular phyton Kalimantan -- yang termasuk ular terbesar di dunia. Alih-alih menghujamkan bisa, mereka biasanya mencekik mangsanya sampai mati.

Python reticulatus, misalnya, adalah ular terpanjang di dunia, bisa mencapai 10 meter. Namun menyempitnya hutan dan faktor manusia membuatnya tak ditemukan dalam waktu lama.

Python memang tidak harus sepanjang bus untuk makan sesuatu berukuran besar seperti manusia. Ular seperti python Afrika memangsa babi atau rusa, serangan terhadap manusia juga bisa terjadi.

Namun, ada masalah dengan gagasan bahwa ular Borneo adalah naga dalam legenda. Sebab, mereka tak makan setiap hari, hanya setiap bulan atau 6 minggu sekali. Menelan 8 anak dalam 8 hari bukan cara makan mereka.

Ada kemungkinan bahwa naga dalam cerita didasarkan pada beberapa ular sekaligus: keterampilan berburu raja kobra , racun mematikan ular kepala merah, dan ukuran mengesankan seekor python. Tak bisa dipastikan.

Saat ini, daerah di mana naga diyakini muncul disebut Teluk Naga. Seorang penduduk desa, Suri mengatakan, mereka masih menyimpan peralatan yang konon diyakini mematikan 2 naga dewasa. Namun, ia mengatakan pulau di mana naga tinggal terbelah dua oleh sungai.

Pak Rusni dan warga lainnya mengaku masih melihat naga di dekat air. Makhluk itu berwarna hitam dan mengkilap, ukurannya besar, mirip diameter drum minyak. Namun penampakan mereka tak bertahan lama, muncul dan menghilang sesuka hati.

Menurut Rusni, mereka telah bertransformasi dari fisik menjadi makhluk mistis. Apakah warga masih merasa takut? "Tentu saja," jawab dia. "Namun mereka tak pernah mengganggu kami, dan kami tak pernah mencoba untuk mengusik mereka." (Tnt)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini