Pengelolaan Perhutanan Sosial Berbasis Teknologi Mendukung Masyarakat yang Sejahtera, Unggul dan Berdaya Saing

Redaksi Redaksi
Pengelolaan Perhutanan Sosial Berbasis Teknologi Mendukung Masyarakat yang Sejahtera, Unggul dan Berdaya Saing
ilustrasi

TANJUNG REDEB - (6/12/2017), Melalui Program Perhutanan Sosial, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berupaya mengajak masyarakat untuk dapat memiliki akses kelola hutan dan lahan yang luasnya hampir 75% daratan Indonesia secara setara dan seluas-luasnya. 

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target 12,7 juta hektar untuk diberikan pengelolaannya kepada masyarakat. Hasil hutan diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai prinsip kelestarian yang ramah lingkungan dan sejalan dengan nilai-nilai konservasi. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan hutan dapat meningkat.

Target pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan 12,7 juta hektar kepada masyarakat diharapkan dapat menurunkan konflik sosial yang sering terjadi karena kurangnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam. Dengan adanya akses tersebut maka diharapkan kesejahteraan masyarakat akan lebih meningkat. 

Salah satu daerah yang cukup maju dalam mendukung program Perhutanan Sosial ini adalah Kabupaten Berau yang saat ini telah memiliki 5 lokasi Hutan Desa. Bahkan salah satu hutan desa di Berau yang dikelola oleh Desa Merabu seluas 8.245 ha telah berhasil meraih penghargaan terbaik II nasional dalam penghargaan Wana Lestari yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016. Keberhasilan Desa Merabu ini segera membuat desa-desa lain di Kabupaten Berau untuk mengikuti jejak keberhasilan Desa Merabu.

Dalam rangka mempercepat pencapaian target Program Perhutanan Sosial dan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk mengelola kawasannya, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Berau Bersama The Nature Conservancy (TNC) Indonesia menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Aplikasi SIGAP pada 4-5 Desember 2017. Lebih dari 1200 orang dari 100 kampung di Kabupaten Berau (Propinsi Kalimantan Timur) menghadiri kegiatan ini. Selain warga kampung dan perangkat desa, pelatihan ini juga diikuti oleh seluruh Camat, Organisasi Perangkat Daerah, dan Lembaga Swadaya Masyarakat di lingkup Kabupaten Berau. 

Dalam sambutannya (4/12), Bupati Kabupaten Berau Muharram menyatakan sudah saatnya masyarakat kampung melek terhadap teknologi. “Saat ini kita sudah masuk era digital, tidak boleh lagi mengelola kampung dan kecamatan hanya dengan menggunakan teknologi yang biasa-biasa saja,” ungkap Muharram. Ia kemudian menambahkan lagi, “Saya Harapkan penggunaan aplikasi SIGAP secara luas di Kabupaten Berau dapat membantu dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, unggul dan berdaya saing.” 

Terkait dengan perhutanan sosial Muharram menyampaikan, “Salah satu dari substansi SIGAP adalah pentingnya masyarakat memiliki wilayah kelola di desa masing-masing.” Wilayah kelola ini menurut Muharrram harus menjadi acuan dalam menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang juga merupakan persyaratan utama dalam memanfaatkan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa yang saat ini juga menjadi perhatian utama pemerintah. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Provinsi Kalimantan Timur M. Jauhar Efendi mengungkapkan dukungan terhadap kegiatan ini. “Provinsi Kalimantan Timur tertarik dengan pendekatan SIGAP karena terlihat mampu meningkatkan semangat warga untuk memperbaiki kehidupannya dan kampungnya, atau dengan kata lain, mampu mengubah warga kampung menjadi luar biasa,” ungkapnya. Ia juga mengatakan,”Perencanaan pembangunan harus dilakukan karena anggaran yang terbatas. Kita perlu memiliki skala prioritas. Perencanaan itu harus melibatkan banyak pihak.”

TNC Indonesia mengembangkan pendekatan yang disebut Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan atau SIGAP untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian desa/kampung dalam membuat dan melaksanakan  rencana pembangunan dan mengelola sumber daya alamnya  secara terpadu termasuk di dalamnya pengelolaan Perhutanan Sosial. Konsep pemberdayaan masyarakat berbasis aset (Asset Based Community Development) ini meliputi tahapan yang dikenal dengan sebutan 7D, yaitu: Dekatkan diri hati dan pikiran (Disclosure), Dialogkan tema perubahan (Define), Dapatkan kekuatan (Discovery), Deklarasikan impian (Dream), Detilkan rencana perubahan (Design),  Daya upayakan perubahan (Delivery), dan Dengungkan keberhasilan (Drive). Tahapan-tahapan ini diperoleh dari pengalaman lapangan TNC dalam menggali, menemukenali, dan menghargai kekuatan yang dimiliki warga dan mendayagunakannya sebagai daya dorong untuk melakukan perubahan positif dan inspiratif. 

Pendekatan SIGAP diharapkan dapat mengembalikan peran masyarakat desa/kampung sebagai salah satu aktor utama dalam upaya pengelolaan lahan baik di kawasan hutan maupun pesisir. Pendekatan ini juga dikembangkan agar mampu membantu masyarakat desa/kampung dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan dengan tata kelola secara baik dan transparan, termasuk dalam kaitannya dengan dana desa. Tidak hanya itu, SIGAP juga mampu membantu upaya penyelarasan antara pemanfaatan alam dengan konservasi lingkungan oleh masyarakat desa/kampung. 

“SIGAP telah menjadi alat untuk membangun kesadaran kami akan potensi yang kami miliki dan berbuat untuk memberdayakan diri kami sendiri,” kata Franly Aprilano Oley, kepala kampung Merabu. 

Yafet, warga Kampung Long Pelay, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau mengatakan bahwa mengikuti pelatihan SIGAP memberi pelajaran berharga. “Bisa belajar menggunakan aplikasi untuk memberikan informasi apa yang ada di kampung saya”. 

Kesan positif dari Yafet juga diakui oleh Nileson, peserta dari Kampung Long Lamcin. “Sistem pembelajarannya (SIGAP), sangat asyik, rileks, dan penuh manfaat.” Pada tahun 2020 TNC Indonesia berharap setidaknya ada 600 desa di seluruh Indonesia yang sudah menerapkan SIGAP.

Untuk mempermudah penyebarannya, TNC mengembangkan aplikasi telpon pintar berbasis android, yang disebut Aplikasi SIGAP.  

“Indonesia adalah pengguna media sosial terbesar di dunia. Saat ini anak-anak muda di kampung-kampung pun sudah menggunakan telepon pintar. Kami berpikir warga kampung, termasuk anak-anak mudanya, dapat menjadi agen pembawa perubahan di tingkat tapak sehingga tata kelola kampung dan alam di sekitarnya sehingga pembangunan desa yang lestari dapat terlaksana,” kata Herlina Hartanto Direktur Terestrial Program TNC Indonesia. 

“Melalui aplikasi di telepon genggam ini masyarakat kampung bisa berbagi cerita inspiratif ke seluruh Indonesia. Walau aplikasi SIGAP ini baru berumur 1,5 tahun, sudah ada 16 ribu cerita yg dibagikan oleh para penggunanya. Pada masa datang, kami harap penggunaan teknologi seperti aplikasi SIGAP dapat mendukung percepatan Program Perhutanan Sosial dalam skala nasional,” tambahnya lagi. 

Setelah pelatihan ini selesai, aplikasi SIGAP telah tersebar ke lebih dari 159 desa di kawasan hutan dan pesisir di Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Barat. Aplikasi SIGAP bisa diunduh melalui Google playstore. (rls/tnc)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini