AWAS!! DBD Mulai Mewabah di Pangkalan Kerinci

Redaksi Redaksi
AWAS!! DBD Mulai Mewabah di Pangkalan Kerinci
PELALAWAN, riaueditor.com- Wabah Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini kembali merebak di Ibukota kabupaten Pelalawan, Pangkalankerinci. Korbannya, seorang anak bernama Khansa (4) sudah tiga hari dirawat di RSUD Selasih akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Saat ini, kondisinya tengah kritis karena trombosit masih rendah.

"Saat ini, kondisi anak saya dalam keadaan kritis karena trombositnya masih rendah, belum pada kisaran normal yakni antara 150-200 ribu," terang orangtua pasien, Zulfandi, pada media riaueditor via selulernya, Selasa (19/8).

Zulfandi mengatakan bahwa anaknya sudah tiga hari yang lalu masuk ke RSUD Selasih, diduga karena penyakit DBD. Namun dua hari sebelum masuk rumah sakit anaknya memang sudah dinyatakan menderita DBD. Karena tak ada perkembangan, maka ia langsung membawa anaknya ke RSUD Selasih.

"Sejak malam minggu kemarin (16/8), anak saya masuk rumah sakit tapi ia sudah terkena DBD pas hari Kamis-nya," kata Zulfandi yang mengaku rumahnya di BTN Lama, Pangkalankerinci, ini.

Ditanya apakah Dinas Kesehatan sudah pernah melakukan fogging di daerah tersebut, Zulfandi mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya belum pernah ada Diskes melakukan fogging di wilayah tersebut. Padahal seharusnya Diskes bisa melakukan fogging tanpa harus menunggu adanya korban dulu.

"Apalagi wilayah kami dekat Pasar, Bang, dimana aliran sampah atau limbah dari pasar biasanya menyumbat selokan-selokan di daerah kami," tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan Dr Endid RP melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dr Rafles saat dikonfirmasi soal adanya masyarakat di Ibukota Pelalawan yang menderita penyakit DBD sehingga dirawat di RSUD Selasih sudah tiga hari, Senin (18/8), mengaku belum tahu soal ini.

"Saya belum mendapat laporan dari Puskesmas-nya, karena setahu saya terakhir laporan itu yang terkena DBD adalah masyarakat dari Pelalawan yang dirawat di RS Efarina tapi itupun sudah sembuh," ujarnya seraya mengatakan bahwa sampai saat ini penderita DBD di Kabupaten Pelalawan dari bulan januari sampai Agustus mencapai 54 orang.

Disinggung soal fogging yang dilakukan di BTN Lama, tempat dimana pasien Khansa bermukim, Rafles menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa melakukan fogging jika tak ada laporan dari Puskesmas yang bersangkutan. Namun jika sudah ada laporan dari Puskesmas, maka baru pihaknya turun melakukan fogging namun setelah sebelumnya melakukan 3 M yakni Menguras, Menutup dan Menimbun

"Pencegahan DBD dapat dimulai dengan gerakan 3M, dan gerakan ini terdiri dari tiga langkah utama gerakan pencegahan DBD, yakni gerakan Menguras, Menutup dan Menimbun akan lebih efektif untuk pencegahan daripada pengobatan.

Dikatakannya, bahwa gerakan 3 M merupakan cara yang dipandang lebih efektif dalam memberantas penyakit DBD karena melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Dan peran program Pelalawan Sehat yang ditaja Bupati Pelalawan memiliki andil yang banyak dalam membangkitkan semangat masyarakat untuk kembali bergotong royong di wilayahnya masing-masing.

"Kalau fogging sendiri, sebenarnya hanya memutuskan mata rantai saja namun tak mengakibatkan jentik-jentik nyamuknya mati. Dan fogging tidak memberi manfaat jika tidak ada upaya pencegahan dari warga. Tak hanya itu, terlalu sering dilakukan pengasapan atau fogging juga justru akan merugikan lingkungan. soalnya, zat kimia yang terkandung di dalam obat fogging, tidak hanya memberi efek terhadap serangga dan nyamuk namun juga berpotensi mencemari lingkungan," tutupnya. (zul)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini