Kejahatan Kebencian Meningkat, Muslimah AS Putuskan Lepas Jilbab

Redaksi Redaksi
Kejahatan Kebencian Meningkat, Muslimah AS Putuskan Lepas Jilbab
getreligion.com
Muslimah Amerika/ilustrasi

WASHINGTON - Seiring meningkatnya insiden kebencian di Amerika, semakin banyak perempuan Muslim Amerika memutuskan melepas jilbabnya karena takut akan serangan yang diterima.

Padahal jilbab merupakan cara Muslim menjalankan ajaran agamanya dan menjaga kesopanan diri di ruang publik. Namun banyaknya tindakan radikalisme menyebabkan munculnya tindak kekerasan dan diskriminasi yang menimpa umat Islam, terutama perempuan yang mengenakan jilbab saat berada di tempat umum. 

Seorang Muslimah asal Boston, Nassrene Elmadhum mengaku melepas jilbabnya karena khawatir menjadi sasaran kejahatan kebencian. Menurutnya, banyak orang yang menyampaikan serangan verbal kepadanya. Ia dituduh bertanggung jawab atas tragedi bom saat Maraton Boston 2013. Ia juga dikelompokkan dalam golongan ekstremis hanya karena penampilannya.

“Selama beberapa tahun terakhir, kegelisahan ini telah berkembang. Saya  merasa tidak nyaman. Dan ini adalah sesuatu yang baru. Saya merasa kurang diterima di komunitas saya sendiri, dan lebih dari itu saya merasa selalu akan menjadi target,” ujar Nassrene Elmadhum seperti dilansir IB Times, pekan lalu.

Elmadhun memutuskan melepas jilbabnya pada tahun ini agar ia tidak lagi merasa khawatir akan keselamatannya. Namun, hal berbeda dilakukan Mariana Aguilera, seorang Muslimah yang menjalankan situs fashion The Demureist yang berbasis di Brooklyn. Aguilera memutuskan tidak melepas hijabnya walaupun ia menjadi target dari ancaman verbal dalam berbagai kasus pada Desember ini.

Ia menjelaskan, merasa takut adalah sifat alami manusia. Namun, kasus yang terjadi saat ini lebih mengkhawatirkan daripada rasa takut yang ia rasakan. Menurutnya, jika pihak-pihak terkait tidak melakukan sesuatu terhadap meningkatnya insiden kebencian di Amerika ini maka akan mengancam kebebasan beragama dan menghancurkan nilai-nilai yang telah ada.

“Dan ini berbahaya,” katanya.

Berdasarkan laporan FBI, kejahatan kebencian meningkat 67 persen di AS. Dari 154 insiden di 2014 menjadi 257 pada 2015. November lalu, seorang Muslimah di New York diserang oleh seorang pria yang menarik jilbabnya.

Michail Isakharov (40 tahun), dilaporkan dituduh melakukan kejahatan kebencian dan kejahatan pidana setelah ia membuat komentar anti-Muslim terhadap korban berusia 22 tahun. Pelaku melemparkan telepon dan kemudian melepaskan jilbab yang dikenakan korban. (ROL)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini