Ramang dan Sutjipto, Legenda Sepak Bola yang Meninggal Menyedihkan (1)

Oleh: Alwi Shahab
Redaksi Redaksi
Ramang dan Sutjipto, Legenda Sepak Bola yang Meninggal Menyedihkan (1)
antara
Ramang
Saya teringat persepakbolaan di Indonesia medio 1950-an. Stadion Gelora Bung Karno di Senayan belum ada. Masih jadi tempat tinggal warga Betawi yang sebagian bekerja di industri perumahan batik.

Pusat kegiatan olahraga ketika itu di Ikada (kini Monas). Baik kompetisi lokal, antarkota, dan saat kedatangan kesebelasan asing, khususnya dari Eropa.

Ketika itu Ramang menjadi `goal getter` PSSI. Didampingi Djamiat Dagkar (Persija) dan Te San Liong (Persebaya), pemain PSM Makassar ini yang pernah berprofesi sebagai kenek bus dan tukang becak. Kala itu ia sukses menaikkan pamor Indonesia di persepakbolaan Asia.

Pada 1963, dalam PSSI Far Eastern Tour di Manila menang 8-0 terhadap tuan rumah. Di Hong Kong, yang ketika itu memiliki regu-regu terkuat di Asia, PSSI menggasak Hong Kong Selected 4-2 dan Hong Kong All Chinese 6-0. Dari 26 gol dan PSSI hanya kemasukan enam gol, 19 gol berasal dari kaki Ramang.

Ramang, Macan Asia yang Bikin Uni Soviet Kocar-kacir

Dalam lawatan ke Eropa Timur, meski kalah tipis dengan Uni Soviet, Ramang hampir membobol gawang Lev Yashin, kiper kaliber dunia. Kala itu yang menjadi pelatih PSSI Tony Poganick dari Yugoslavia.

Yang paling berkesan, bagi Ramang, adalah saat dia bermain di Olimpiade Melbourne 1956. PSSI menahan Uni Soviet 0-0. "Ketika itu saya hampir mencetak gol, tapi kaos saya ditarik dari belakang," kata Ramang dalam suatu situs olahraga.

Kalau sekarang pemain PSSI menikmati bonus yang aduhai, tidak demikian ceritanya pada 1950-an. Saya pernah mewawancarai Maulwi Saelan, kiper PSSI saat itu.

Kala itu, katanya, jangan harap ada iming-iming uang. "Uang saku pemain PSSI saja hanya 50 perak," ujarnya.

Harga beras memang di bawah seperak per liter, tapi uang saku sebesar itu masih terhitung kecil dibandingkan yang diterima pemain sekarang, yaitu para pemain di awal 1990-an.

Ramang meninggal dunia pada 20 September 1987, di usia 59 tahun, setelah menderita sakit enam tahun tanpa bisa berobat ke rumah sakit karena kekurangan biaya. Sungguh tragis! (ROL)


Baca: Ramang dan Sutjipto, Legenda Sepak Bola yang Meninggal Menyedihkan (2)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini