Kembangkan Kelompok Usaha Perikanan Perlu Cekil Bin Cekel

Redaksi Redaksi
Kembangkan Kelompok Usaha Perikanan Perlu Cekil Bin Cekel
anje/riaueditor.com
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahmad Yani

SELATPANJANG, riaueditor.com – Membangun perikanan dan kelautan di Kabupaten Kepulauan Meranti diperlukan program Cekil dan Cekel. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahmad Yani, Selasa (17/12) kemarin disela-sela kesibukannya.

Menurut pria kelahiran Selatpanjang ini, pengembangan kelautan dan perikanan akan dialokasikan ke kelompok usaha bersama (KUBE). "Kita ingin menciptakan kelompok yang nantinya bisa mandiri dan memiliki individu yang baik atau mulia. Untuk itu harus mengacu kepada Cekil Bin Cekel ini," ungkap Ahmad Yani atau yang lebih senang dipanggil Cik Mat.

Cik Mat berharap KUBE binaan DPK nantinya dapat bekerja dengan Cekil. "Cekil itu adalah singkatan dari cerdas, kerja keras, ikhlas dan lillahi ta`ala.

"Ini yang kita harapkan agar individu yang tergabung dalam KUBE itu nantinya bisa menerapkan Cekil tadi, namun perlu juga dipadukan dengan Cekel, yaitu bekerja dengan cermat, kekeluargaan dan luluh budi. Ini yang sudah jarang dimiliki," jelas Cik Mat seraya menambahkan jika ini digunakan maka segala pembangunan akan terlaksana dengan baik.

Saat ini ada satu kube yang nantinya akan mengelola mesin pembuatan pakan ikan. Mesin tersebut merupakan bantuan dari Balitbang pemerintah provinsi Riau.

"Karena saya baru sebagai kepala dinas, saya akan jadikan dulu satu kelompok pembuatan pakan ini yaitu di Dusun Pecah Buyung, Desa Banto. Anggota KUBE ini akan kita bina untuk bisa bekerja dengan Cekil dan Cekel ini, jika ini berhasil baru kemudian nanti kita alokasikan untuk desa lainnya," terang Cik Mat.

Dijelaskan Cik Mat, bahan baku utama pembuatan pellet tersebut berasal dari bahan baku lokal seperti ampas sagu atau repu, ikan-ikan rucah, tepung jagung, vitamin dan minyak goreng curah.

Dengan memproduksi sendiri pakan ikan diharapkan biaya yang dikeluarkan oleh nelayan keramba lebih murah.

"Harga pellet dipasaran saat ini mencapai Rp 14.000 rupiah perkilo, tapi dengan pakan yang diolah kube ini harga pakan jauh lebih murah berkisar Rp 5000 hingga Rp 7000 saja," harap Cik Mat. (anje)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini