Supersemar dan Jatuhnya Soekarno (2) Habis

Hasan Kurniawan
Redaksi Redaksi
Supersemar dan Jatuhnya Soekarno (2) Habis
foto: arsip nasional
Supersemar dan Jatuhnya Soekarno
Ditambahkan dia, dalam ruang pertemuan itu juga ada Chaerul Saleh. Dia duduk di samping Soebandrio. Dalam ingatan Soebandrio, inti dari naskah Supersemar adalah kuasa untuk pemulihan keamanan.

Sedikitnya ada empat poin isi Supersemar menurut Soebandrio. Kesatu mengamankan Jakarta dan sekitarnya.

Kedua penerima mandat wajib melaporkan kepada Presiden semua tindakan yang akan dilaksanakan.

Ketiga mengamankan diri Presiden dan keluarganya. Keempat lestarikan ajaran Bung Karno. Dari empat poin itu, Soebandrio tidak menyebut adanya peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto.

Dalam praktiknya, Soeharto justru memanfaatkan Supersemar untuk membangun Orde Baru dan menghancurkan Orde Lama Soekarno. Langkah pertama Soeharto adalah menangkap para pimpinan komunis.

Dalam Kabinet Dwikora, tiga petinggi PKI menduduki posisi menteri. Mereka adalah Dipa Nusantara (DN) Aidit, Mohammad H Lukman, dan Nyoto. Ketiganya ditangkap hidup-hidup lalu ditembak mati.

Setelah menangkap para pemimpinnya, Soeharto membubarkan PKI dan menjadikannya partai terlarang.

Langkah Soeharto membubarkan PKI membuat Soekarno marah karena dia mengambil peran Presiden.

Pembubaran PKI dan dijadikannya partai itu terlarang mengakibatkan bencana kemanusiaan sangat besar di Indonesia. Terjadi banjir darah akibat pembunuhan besar-besaran terhadap para pendukung PKI.

Upaya pembersihan orang-orang komunis ini menjadi tiang pancang awal mula berdirinya Orde Baru.

Hingga kini, kasus pembantaian massal orang-orang PKI itu masih menyisakan duka yang sangat dalam.

Reaksi Soekarno terhadap peristiwa itu adalah mengeluarkan Surat Perintah 13 Maret 1966 sebagai koreksi terhadap Supersemar. Namun, surat itu diacuhkan. Soekarno telah hilang kekuasaannya.

Penyelewengan Soeharto berlanjut semakin jauh. Dia menangkap 21 menteri dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dari 21 menteri itu, Soebandrio termasuk di dalamnya. Dia lalu dijatuhi hukuman mati.

Namun putusan itu diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup, dan akhirnya Soebandrio dibebaskan. Pukulan terakhir Soeharto adalah mencabut gelar Soekarno sebagai Presiden seumur hidup.

Keputusan ini berarti terjadinya pengalihan kekuasaan Soekarno kepada Soeharto. Pada 27 Maret 1968, MPRS Orde Baru mengangkat Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia kedua menggantikan Soekarno.

Soeharto menjabat Presiden Republik Indonesia ke-2 selama 32 tahun tanpa henti. Saat terjadi krisis hebat, Soeharto diturunkan secara paksa oleh gerakan mahasiswa dan rakyat Indonesia, pada 21 Mei 1998.

Demikian kupasan singkat Cerita Pagi tentang tonggak awal berdirinya Orde Baru sebagai peringatan Supersemar yang berhasil mengubah wajah dan jalannya revolusi Indonesia. Semoga memberikan manfaat.

Sumber tulisan:

    G Dwipayana dan Ramadhan KH, Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, PT  Citra Lamtoro Gung Persada 1989.
    Dr H Soebandrio, Yang Saya Alami Peristiwa G30S, Sebelum, Saat Meletus, dan Sesudahnya, PT Bumi Intitama Sejahtera, Mei 2006.
    Kontroversi Supersemar Dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto, Penerbit Media Pressindo, Juni 2001.
    Wikipedia Indonesia, Soeharto.



(sms/sindonews.com)

Tag:

Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini