Supersemar dan Jatuhnya Soekarno (1)

Hasan Kurniawan
Redaksi Redaksi
Supersemar dan Jatuhnya Soekarno (1)
foto: arsip nasional
Soeharto dan Soekarno dalam suatu acara kenegaraan. Istimewa.
SURAT PERINTAH 11 MARET 1966 atau Supersemar merupakan salah satu peristiwa yang maha penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia modern. Peristiwa ini merupakan tonggak lahirnya Orde Baru.

Presiden Soeharto dalam buku otobiografinya yang berjudul Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, seperti dipaparkan kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH menyatakan sebab lahirnya Orde Baru.

Menurutnya, Supersemar lahir di saat negara sedang dalam keadaan gawat, di mana integritas Presiden, ABRI, dan rakyat sedang berada dalam bahaya. Sehingga, perlu diambil tindakan pemulihan keamanan.

"Surat Perintah 11 Maret itu bukan merupakan alat untuk mengadakan coup (kudeta) secara terselubung. `Supersemar` itu merupakan awal dari perjuangan Orde Baru," kata Soeharto, pada halaman 174.

Demikian menurut Soeharto, Supersemar yang selama ini dinyatakan sebagai kudeta terselubung dan sembunyi-sembunyi sebenarnya merupakan suatu perbuatan yang nyata dan dapat dilihat kasat mata.

Seperti apa kisahnya? Cerita Pagi akan mengupasnya secara singkat, dan dalam. Dimulai dengan sejarah lahirnya Supersemar. Untuk mempermudah uraian ini, baiknya dipaparkan jalannya peristiwa itu.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, terjadi penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat (AD) oleh sekelompok tentara. Peristiwa ini dikenal Gerakan 30 September 1965 atau Gerakan 1 Oktober 1965.

Pembunuhan para jenderal itu sangat mengejutkan rakyat Indonesia. Presiden Soekarno lalu mengangkat Soeharto menjadi Penanggung Jawab Pemulihan Kamtibmas dan Men Pangab menggantikan A Yani.

Penunjukkan Soeharto sebagai Men Pangab diharapkan dapat menekan gelombang aksi ketidakpuasan yang mengecam Soekarno dan peristiwa pembunuhan para jenderal, yang diduga ditunggangi oleh AD.

Dalam kamus revolusi, menurut Soekarno penculikan dan pembunuhan para jenderal hanya gelombang kecil dalam samudra revolusi. Namun, pernyataan ini dipelintir untuk kepentingan "perjuangan" Orde Baru.

Sikap Soekarno yang menolak membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sesuai keinginan AD, dan malah mempertahankan keberadaan mereka dalam kabinet baru, mengakibatkan serangan yang lebih keras.

Pada 11 Maret 1966, gelombang aksi ketidakpuasan terhadap sikap Soekarno dan kabinetnya membuncah. Pagi-pagi sekali, sebelum sidang kabinet dihelat, ribuan mahasiswa telah berada di depan Istana Negara.

Jumlah mereka semakin berlipat ganda saat sidang dimulai. Para mahasiswa yang diduga ditunggangi AD ini bahkan meringsek masuk Istana Negara. Pasukan Kawal Presiden Cakrabirawa pun terdesak.

Bahkan, mereka sempat meletuskan tembakan peringatan ke udara. Tidak hanya mahasiswa, Soeharto juga menerjunkan sejumlah pasukan gelap sejumlah tiga kompi RPKAD dari Kostrad pimpinan Kemal Idris.

Seragam para tentara saat itu loreng, bersenjata lengkap, dan tanpa pengenal. Mereka menyebar bersama mahasiswa mengepung Istana Negara. Presiden Soekarno yang ada di Istana terancam jiwanya.

Saat sidang kabinet tengah berjalan, Soekarno yang telah mengetahui situasi di luar Istana Negara sudah tidak terkendali langsung terbang ke Istana Bogor. Sidang lalu diserahkan ke Waperdam II Leimena.

Dalam situasi yang sangat penting itu, Soeharto tidak ada. Dia alasan sakit flu di rumah. Tetapi menurut laporan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Dr H Soebandrio, sorenya Soeharto terlihat memimpin rapat.

Soebandrio merupakan salah seorang saksi mata yang saat peristiwa Supersemar terjadi berada di Istana Bogor bersama Soekarno. Dia bahkan ikut mengkoreksi isi dari Supersemar hingga sedemikian rupa.

Dalam buku Soebandrio yang berjudul Yang Saya Alami, Peristiwa G30S, Sebelum, Saat Meletus, dan Sesudahnya, dinyatakan isi Supersemar yang dijadikan pegangan Soeharto untuk membangun Orde Baru.

"Saya masuk ruang pertemuan. Bung Karno sedang membaca surat. Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M Yusuf duduk di depannya. Lantas saya disodorkan surat yang dibaca Bung Karno," katanya, hal 79.

Selanjutnya.. Supersemar dan Jatuhnya Soekarno (2)


sumber: sindonews.com

Tag:

Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini