TUBERKULOSIS (TB) adalah salah satu ancaman kesehatan global dengan tingkat jumlah kematian tertinggi di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru.
Selain organ paru, TB juga dapat menyerang organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, ginjal, sendi, dan kulit. Pada tahun 2022, angka kematian akibat TB di Indonesia mencapai 134.000 jiwa pertahun, atau sekitar 13 orang meninggal setiap jamnya di Indonesia akibat TB.
Meskipun saat ini sudah ada metode pengobatan yang efektif yang dapat meningkatkan persentase kesembuhan pasien TB, namun tingka penularan TB masih sangat tinggi, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah pasien TB tertinggi ke – 2 di dunia dengan menyumbang 10% dari total kasus TB dunia, hanya kalah dari India yang bisa menyumbang hingga 27% total kasus dunia.
Di Indonesia, sudah ada Peraturan Presiden RI nomor 67 tahun 2021 tentang percepatan penanggulangan TBC yang memperkuat Peraturan Kementerian Kesehatan nomor 67 tahun 2016 yang mengatur tentang penanggulangan TB, terutama terkait teknis dalam meningkatkan temuan kasus.

Investigasi Kontak (IK), salah satu strategi yang menjadi proses yang melibatkan penelusuran kepada individu yang telah terpapar oleh pasien TB aktif untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Selain IK, ada juga Community Outreach (CO) yang menjadi strategi upaya lanjutan dalam meningkatkan jumlah temuan kasus.
Selain mendeteksi kasus baru, IK dan CO berperan penting sebagai media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang menyasar keluarga dan orangorang terdekat pasien TB terkait pentingnya pencegahan penularan TB dan dan pemberian motivasi dalam menjalankan pengobatan TB yang tepat dan lengkap.
Dalam pelaksanaan kegiatan IK dan CO sebagai upaya nasional dalam eliminasi TB, peran komunitas menjadi sangat penting, terutama dalam pemberdayaan kader masyarakat maupun kader instansi layanan kesehatan.
Komunitas akan bertanggungjawab dalam penguatan kapasitas kader sekaligus menjadi fasilitator bagi para kader dalam upaya peningkatan temuan kasus TB. Hal ini juga tertuang dalam Surat Edaran PERMENKES no 2175 tahun 2023 tentang perubahan pelaksanaan investigasi kontak dan terapi pencegahan TBC.
Investigasi Kontak
Investigasi kontak adalah proses identifikasi dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang berhubungan dekat dengan pasien TB aktif. Tujuan utama kegiatan ini adalah menemukan kasus TB tersembunyi (laten) sebelum berkembang menjadi penyakit aktif dan mengurangi risiko penularan lebih lanjut.
Investigasi ini umumnya dilakukan terhadap anggota keluarga serumah, tetangga, teman dekat, atau rekan kerja yang sering berinteraksi dengan pasien TB.
Di negara-negara dengan tingkat TBC tinggi seperti Indonesia, investigasi kontak menjadi komponen penting dalam strategi pengendalian TB.
Bukan hanya membantu dalam mengidentifikasi awal kasus TB, tetapi juga menjadi kesempatan para petugas kesehatan dan relawan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pencegahan penularan TB, pentingnya deteksi dini, dan pentingnya dukungan moral dan pengobatan lengkap TBC bagi pasien.
Investigasi kontak rumah tangga umumnya terdiri dari beberapa langkah utama, yaitu identifikasi, penapisan, dan penanganan.
1. Identifikasi Kontak
Petugas kesehatan atau kader relawan menjalin komunikasi dengan pasien untuk mengidentifikasi orang-orang yang sering berhubungan dekat dengan mereka. Tahap ini penting untuk memastikan semua individu yang mungkin terpapar bisa segera diperiksa.
2. Penapisan Kontak
Proses penapisan secara teoretis ialah berupa kegiatan wawancara
kesehatan dan uji diagnostik, seperti tes tuberkulin atau radiografi dada, untuk mendeteksi tanda-tanda TB. Metode seperti tes cepat molekuler (TCM) juga sering digunakan untuk kasus yang memerlukan hasil lebih cepat.
3. Penanganan dan Pengobatan
Jika kontak yang diperiksa menunjukkan tanda-tanda infeksi, mereka wajib diberikan pengobatan pencegahan obat anti TBC (OAT) jika
ditemukan TB aktif, atau Terapi Pencegahan TBC (TPT) jika infeksi laten TBC (ILTB).
Di sinilah edukasi memiliki peran penting, yaitu untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menyelesaikan pengobatan.
Kegiatan IK dinilai efektif dalam meningkatkan jumlah penemuan kasus dan menekan jumlah penularan TB. Salah satu contoh negara yang berhasil mengandalkan program serupa adalah Amerika Serikat, yakni dengan program Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Dengan jumlah penduduk yang hampir 20% lebih banyak dari Indonesia, Amerika mampu terus meningkatkan jumlah penemuan kasus dan meminimalisir angka penularan TB setiap tahunnya.
Community Outreach
Community outreach TBC adalah program yang bertujuan pada penyebaran informasi, pencegahan TB, dan pengobatan TB di komunitas-komunitas dan kelompok masyarakat yang rentan ataupun memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan.
Tujuan utama dari community outreach adalah sebagai berikut:
1. Edukasi publik, yakni sebagai media bagi tenaga medis maupun kader relawan untuk menyebarkan informasi terkait gejala TB, bentuk pencegahan, dan bentuk penularan TB di masyarakat, sehingga masyarakat bisa lebih peduli dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala TB.
2. Deteksi dini dan investigasi kontak. Pada kegiatan Community Outreach juga dapat dilakukan program pemeriksaan kesehatan bagi individu-individu yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak dekat dengan pasien TBC. Kegiatan ini membantu dalam melakukan deteksi dini dan pengobatan yang sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut.
3. Pendekatan langsung dan dukungan sosial. Community outreach juga melibatkan kunjungan ke rumah pasien atau tempat berkumpul masyarakat untuk memberikan dukungan dan memastikan pasien patuh dalam menjalani pengobatan, mengingat pengobatan TBC berlangsung lama.
4. Penghapusan stigma pada masyarakat. Kegiatan Community Outreach dapat mengurangi stigma terkait TBC di masyarakat, karena stigma sering kali menjadi penghambat pasien untuk mencari pengobatan atau terbuka mengenai kondisi mereka.
5. Wadah kolaborasi pemerintah, komunitas, dan tenaga kesehatan masyarakat. Community Outreach melibatkan tenaga kesehatan atau kader relawan lokal dalam membantu penyuluhan dan monitoring di lapangan. Dengan ini, diharapkan segala bentuk program dan aktifitas yang diupayakan dalam misi eliminasi TBC dapat berjalan lebih lebih efektif dan diterima oleh masyarakat.
Program ini sangat efektif di wilayah dengan jumlah kasus TB yang tinggi atau di daerah-daerah terpencil.
Tantangan dalam Pelaksanaan IK dan CO
Dibalik baiknya tujuan dan banyaknya manfaat dari kegiatan IK dan CO, kegiatan ini nyatanya masih mengalami banyak tantangan pada implementasinya di lapangan.
Berikut beberapa tantangan yang masih butuh di evaluasi kedepannya:
1. Penguatan komitmen dan kepemimpinan daerah untuk percepatan eliminasi TBC.
2. Dukungan sumber dana terutama APBD Kota dan provinsi dan pengupayaan pengadaan UU Peraturan Daerah tentang eliminasi TB sebagai bentuk komitmen pemerintah.
3. Dukungan multi sektoral instansi dan masyarakat dalam program-program eliminasi TB.
4. Dukungan organisasi profesi dalam pelaksanaan promosi TBC dan tatalaksana TBC sesuai standar.
5. Ketersediaan Cartridge TCM, obat TBC dan obat TPT yang berkelanjutan di setiap faskes, terutama Puskesmas.
6. Penguatan kapasitas kader kesehatan dan kader masyarakat dalam kegiatan investigasi kontak, ini akan sangat berpengaruh terhadap komitmen pasien untuk menyelesaikan pengobatan (mencegah TBC Resisten Obat).
7. Belum melibatkan secara langsung Apotik dan Laboratorium swasta untuk pelaporan penemuan kasus TBC.
Investigasi kontak TB dan Community Outreach yang sistematis dan berbasis komunitas adalah langkah krusial dalam upaya memutus rantai penularan penyakit ini di masyarakat.
Selain mendeteksi kasus TB aktif dan laten, IK dan CO juga memainkan peran penting dalam edukasi masyarakat tentang pencegahan TB dan mengurangi stigma sosial yang terkait.
Di Indonesia, meskipun program ini telah berjalan, tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan stigma sosial masih perlu diatasi untuk memastikan keberhasilan program ini.
Dengan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan setiap lapisan masyarakat, investigasi kontak diharapkan dapat menjadi komponen yang lebih efektif dalam upaya nasional melawan TBC.(*)