AUKUS, Demi Supremasi dan Hegemoni

Redaksi Redaksi
AUKUS, Demi Supremasi dan Hegemoni

Salah satu skenario pilihan AUKUS dalam letusan hebat konflik LCS jika terjadi, adalah dengan melakukan counter attack terhadap serbuan militer China di LCS yang lebih dulu menyerang keempat negara ASEAN. Namun bisa saja pembentukan poros militer AUKUS ini sebagai salah satu formula diplomasi militer sebagai kekuatan penggentar terhadap China sehingga tidak berani memulai konflik terbuka di LCS. Termasuk juga dalam rangka menguatkan supremasi militer AS sebagai kekuatan nomor satu yang belakangan mulai dikejar China.

Kita ketahui bersama saat ini antara AS dan China telah terjadi kejar mengejar ranking strategis untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar pertama di dunia. Perang dagang di berbagai sektor sudah terjadi. Dan sangat vulgar.

Para analis ekonomi dunia memprediksi bahwa dalam lima tahun kedepan kekuatan ekonomi China akan menggeser posisi AS. Jadi aliansi AUKUS ini merupakan bagian dari pertarungan mempertahankan supremasi dan hegemoni secara ekonomi dan militer.

Bagi Indonesia aliansi militer segitiga AUKUS yang berbasis di Australia membuat kebijakan militer Jakarta yang selama ini fokus konsentrasi ke Utara harus kemudian membagi dan mewaspadai kekuatan besar di Selatan.

Sudah kita ketahui ada ribuan marinir AS di Darwin Australia termasuk infrastruktur pangkalan AL dan AU serta radar over the horizon. AS juga punya pangkalan militer di Cocos Samudra Hindia, di Selatan Bengkulu. Kelahiran AUKUS dianggap Jakarta sebagai pemicu semakin panasnya suasana konflik di kawasan LCS dan perlombaan penguatan militer. Dan palagan konflik ada di halaman rumah ASEAN.

Mengapa harus mewaspadai Selatan karena skenario "long pass" atau serangan jarak jauh dengan peluru kendali balistik termasuk pengerahan jet tempur siluman F35 pasti akan melewati pulau Jawa, jantungnya Indonesia. Termasuk rute kapal selamnya pasti akan melewati ALKI satu dan dua.

Wajar kalau Jakarta gerah dengan aliansi militer segitiga AUKUS. Apalagi secara historis (sudah pengalaman neh) model komunikasi Canberra terhadap Jakarta tidak mengedepankan dialog kesetaraan sebagai bagian dari kualitas komunikasi diplomasi cerdas bermartabat. Sekelas Perancis saja bisa dikhianati apalagi kita. Insiden penyadapan percakapan presiden Sby salah satunya.

Kedepan kita harus lebih mencermati secara tekun setiap perubahan yang bisa menimbulkan konflik terbuka di kawasan ini. Kita perkuat militer kita secara terukur dan berdasarkan kebutuhan pertahanan nasional.

Program besar mendatangkan 16 kapal perang heavy fregate, 36 jet tempur Rafale, 12 jet tempur F15 Eagle, 6 Hercules, 4 kapal selam, ratusan peluru kendali berbagai jenis dan lain-lain adalah bagian dari mengukur kekuatan sendiri untuk pertahanan teritori. Dalam diplomasi militer perkuatan pertahanan sekaligus untuk menjaga perdamaian di kawasan ini. Bukan untuk ngajak gelut. (Jagarin Pane)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini