Prabowo, Wiranto dan Kenangan 22 Mei 1998Wiranto dan Prabowo Subianto pada era Orde Baru. (Foto: REUTERS)Ia pun setuju mencabut jabatan Prabowo sebagai Pangkostrad. Prabowo menghadap kepada Habibie untuk melepaskan jabatannya pada 23 Mei 1998.
Sebelum menerima keputusan itu, Prabowo sempat berdebat dengan Habibie untuk mempertanyakan pencopotan jabatannya.
Ia juga menyatakan pencabutan jabatannya itu merupakan bentuk penghinaan kepada dirinya sebagai menantu Soeharto dan keluarganya.
Prabowo menilai Habibie salah paham dengan pergerakan pasukan Kostrad yang dilaporkan Wiranto.
"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," kata Prabowo seperti ditulis Habibie.
"Presiden apa, Anda? Anda naif," tambahnya.
Wiranto pun setelah itu bisa dibilang mengemban karir yang cukup baik, sedangkan Prabowo sebaliknya dilepas dari dinas kemiliteran. Sepanjang peristiwa itu, Wiranto terlihat berupaya mempertahankan posisinya dengan mengklaim menjaga pemerintahan yang sah.
Setelah 21 tahun, Prabowo dan Wiranto berada di pihak yang berseberangan. Wiranto kini duduk di kubu Jokowi, lawan Prabowo dalam Pilpres 2019.
Dalam proses rekapitulasi suara pilpres, Prabowo dan kubunya kerap menuding KPU dan pemerintah melakukan kecurangan. Hingga akhirnya KPU mengumumkan bahwa suara Jokowi-Ma'ruf lebih unggul daripada Prabowo-Sandi.
Prabowo mempersilakan massa untuk melakukan aksi protes KPU dan segala bentuk kecurangan pemilu.
Dalam pernyataannya pasca-kericuhan, Wiranto menyatakan pemerintah telah mengetahui dalang aksi tersebut dan aparat keamanan akan bertindak tegas.
"Kami sepakat negara tidak boleh kalah dengan aksi jahat semacam ini," kata Wiranto.
Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan ada dua peristiwa dalam kejadian Selasa malam. Pertama, massa aksi di depan kantor Bawaslu telah membubarkan diri. Kedua, muncul aksi penyerangan oleh pelaku kejahatan yang melakukan kerusuhan.
(cnnindonesia.com)