PERANAN peternakan terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Kepulauan Meranti juga cukup besar. Namun demikian kondisi peternakan di Kabupaten Kepulauan Meranti dihadapkan pada masalah masih rendahnya produktivitas dan tidak optimalnya distribusi nilai tambahnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan berdampak pada peningkatan pendapatan peternak adalah melalui pengembangan agribisnis peternakan.
Sektor peternakan merupakan salah satu sector yang dapat mendukung ketahanan pangan. Untuk mengembangkan sector ini menjadi salah satu yang dapat mendukung ketahanan pangan. Untuk mengembangkan sector ini menjadi salah satu sector ketahanan pangan berkelanjutan sebagai salah satu program utama revitalisasi pertanian, dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan meningkatkan produksi pangan dalam negeri. Peranan sub sector peternakan sebagai pemasok kebutuhan protein hewani seperti daging, telur dan susu sangat besar.
Konsep pengembangan agribisnis perternakan merupakan salah stau cara mengembangkan sector peternakan yang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan agribisnis peternakan ini harus didukung data dan informasi yang akurat, sehingga dapat menghasilkan perencanaan pengembangan di sector peternakan yang tepat sasaran.
Sebagai kabupaten yang baru tentunya dihadapkan pada berbagai permasalahan tentang data potensi yang dimilikinya. Salah satu kegiatan yang harus dilakukan yaitu identifikasi pengembangan agribisnis peternakan kabupaten Kabupaten Kepulauan Meranti agar dapat diketahui potensi yang dapat ditawarkan ke investor sehingga nantinya dapat meningkatkan PAD bagi wilayah ini.
Menurut Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan MSi, lima tahun ke depan terdapat lima unggulan bisnis yan diperkirakan mampu memacu pertumbuhan pembangunan perekonomian wilayah Kepulauan Meranti unggulan bisnis tersbeut adalah Pertanian Pariwisata, Kerajianan rumah tangga, industry manufaktur, perdagangan dan jasa. Dari kelima unggulan perekonomian tersebut, sector pertanian termasuk di dalamnya subsector peternakan sangat berperan besar dalam perekonomian Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Pertanian Perternakan dan Ketahanan Pangan, memiliki program dan kebijakan untuk menjadikan peternakan menjadi salah satu penggerak ekonomi terutama bagi pertanian, menjadi lumbung ternak bagi Kabupaten Kepulauan Meranti dan menyediakan pangan asal ternak dengan jumlah memadai dan berkualitas serta meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan subsector peternakan, menurut Kepala Dinas Pertanian Perternakan dan Ketahanan Pangan, Julian Norwis, dapat menjadi sector yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik dari penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Melihat fenomena ini, diperlukan suatu rencana yang strategis untuk pengembangan peternakan sehingga dapat memberikan peranan nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian daerah.
Pembangunan peternakan berdasarkan konsep agribisnis perlu memperhatikan dua hal penting; pertama, berupaya memperkuat subsistem dalam satu system yang terintegrasi secara vertical dalam satu kesatuan manajemen, dan kedua menciptkan perusahan-persahaan agrisbiskin yang efisien pada setiap subsitem. Jika hal ini dapat terwujud maka daya saing produk perternakan akan meningkat, terutama dalam menghadapi pasal global.
Agribisnis Ternak Sapi Potong
Sapi potong merupakan penyumbang daging terbesar dari kelompok ruminansia terhadap produksi daging nasional sehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan.
Sapi potong telah lama dipelihara oleh sebagian masyarkaat sebagai tabungan dan tenaga kerja untuk mengolah tanah dengan manajemen pemeliharaan secara tradisional. Pola usaha ternak sapi potong sebagian besar berupa usaha rakyat untuk menghasilkan bibit atau penggemukan, dan pemeliharaan secara terintegrasi dengan tanaman oangan maupun tanaman perkebunan.
Di Kabupaten Kepulauan Meranti banyak ditemui ternak sapi usaha ternak sai hampir seluruh kecamatan yang ada. Usaha ini merupakan usaha sampingan massyarakat, namun usaha ini memberikan kontribusi ekonomi ang berarti berpa pendapatan tambahan yang biasa dianggap sebagai tabungan.
Besarnya pendapat perternak sapi tergantung pada jumlah dan kualitas ternak yang dihasilkan, harga jual dan biaya produksi yang dikeluarkan serta usaha budidaya ternak tersebut. Total biaya yang dikeluarkan dan sah ternak sapi sebesar Rp 27.933.002,4 dari biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, dan biaya penyusutan. Namun keuntungan pendapatan bersih yang didapatkan oleh petani berkisar Rp 13.066.997,6 dengan profitabilitas 46,80%, ini menunjukkan usaha ini layak.
Agribisnis Ternak Kambing
Ternak kambing atau sering juga dikenal sebagai ternak rumanansia kecil, merupakan tenrak herbivore yang banyak diminati oleh perternak di tanah air. Karena mudah dipelihara atau dikembangbiakan dan pasar selalu tersedia serta modal yang relative sedikit dibandingkan dengan ternak yang lebih besar. Sehingga ternak kambing dapat memberikan sumbangan pendapatan pada ternak, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Kambing yang diternak di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah kambing potong yang produksinya berupa daging. Kegiatan budidaya ternak kambing didominasi oleh perternak skala kecil dengan tingkat penguasaan ternak berkisar antara 3-10 ekor/KK.
Pengusahaan ternak kambing yang dilakukan peternak di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan pekerjaan sampingan, namun dapat memberikan sumbangan pendapatan. Total biaya produksi yang diperlukan dalam usaha ternak kambing sebesar Rp 8.403.333,34, total yang diperoleh perternak kambing adalah Rp 12.500.000. Dengan keuntungan bersih sebesar Rp 4.096.666,6 artinya profitibiitas usaha ini sebesar 48,75 persen.
Agribisnis Ternak Ayam Pedaging
Beberapa factor pendukung bisnis usaha kecil budidaya ayam ras dan ayam kampung pedaging adalah karena permintaan domestic terhadap ayam pedaging massih sangat besar. Kecenderungan ini dapat dihubungkan dengan pertumbuhan permintaan terhada daging ayam ras yang rata-rata besarnya mencapai 7% per tahun. Angka kebutuhan nasional terhadap dagung ayam ras sebesar 3,3 kg per kapita per tahun. Sementara itu permintaan terhadap total daging unggas hanya sebesar 4.6 kg per tahun. Dengan demikian protein hewani asal daging unggas, yang berasal dari daging ayam ras mencapai 71,7 persen.
Dengan waktu pemeliharaan yang relative singat dan menguntungkan, maka banyak perternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Kepulauan Meranti. Mengingat tingginya permintaan ayam pedagingmenunjukkan komoditi ini layak dikembangkan.
Berdasarkan data di lapangan, harga jual ayam ras pedaging di Kabupaten Kepulauan Meranti selalu berfluktuasi. Hal ini dapat mempengaruhi pendapatan perternak ayam ras pedaging. Adapun biaya yang dikeluarkan dalam usaha ternak ayam ras pedaging meliputi biaya bibit, obat-obatan, biaya penyusutan kandang dan perlatan, biaya tenaga kerja dan biaya listrik.
Pelayanan Kelembagaan
Pelayanan kelembagaan merupakan subsistem penunjang dalam system agribisnis. Dalam meningkatkan pengembangan ternak, pelayanan kelembagaan terhadap peternak sangatlah diutamakan. Pelayanan kelembahaan dalam usaha ternak meliputi kegiatan penyuluhan ternak, akses terhadap lembaga keuangan dan non keuangan, adanya kerjasama dalam kelompok peternak.
Penyuluh merupakan salah satu ujung tombak pembangunan pertanian yang senantiasa dengan dengan peternak. Peran penyuluh sebagai mediator informasi teknologi kepada peternak sangat penting artinya bagi peternak dalam mengadopsi teknologi yang senantiasa terus berkembang.
Berdasarkan data di lapangan menunjukkan bahwa pembinaan terhadap peternak cukup memadai, yiatu penyuluh selalu melakukan penyuluhan kepada peternak. Tenaga penyuluh selalu mengunjungi peternak untuk menyampaikan informasi teknologi budidaya ternak sapi. Selain itu, penyuluh juga ikut membantu melakukan pemecahan berbagai masalah yang dihadapi oleh peternak dan kegiatan usahanya.
Kendala masih ada adalah terbatasnya petugas lapangan, minimnya sarana dan prasarana pembinaan serta tersebarnya lokasi peternak yang kadang sulit untuk dilakukan koordinasi. Kendala lain yang dihadapi peternak adalah kurangnya modal usaha.
Selain penyuluh, pelayanan kelembagaan lainnya yang dapat mendukung system agribisnis peternak di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah hubungan antara peternak dan lembaga keuangan. Berdasarkan data lapangan menunjukkna bahwa masih minimnya akses peternak ke lembaga keuangan seperti perbankan. Dimana dalam menjalankan usahanya peternak masih menggunakan modal sendiri.
Keterbatasan modal ini penyebab usaha peternak hanya tergolong pada usaha skala kecil. Faktor peyebab sulitnya peternak untuk menjangkau lembaga perbankan karena kendala persyaratan teknis perbankan, disisi lain pihak perbankan tetap menetapkan peraturan yang ketat untuk menyalurkan kreditnya.
Pelayanan kelembagaan lainnya, yang juga berperan dalam pengembangan agribisnis yakni keberadaan partisipasi ternak sebagai anggota koperasi. Idealnya koperasi data berperan sebagai pengadaan dan penyaluran sarana produksi, penyedia modal, membantu dalam mengatasi permasalahan dalam budidaya ternak dan membantu dalam pemasaran hasil ternak agar perternak mendapatkan harga yang wajar. (Adv/Rahmi)