PSI Pekanbaru: Pelihara dan Lestarikan Budaya Lokal

Redaksi Redaksi
PSI Pekanbaru: Pelihara dan Lestarikan Budaya Lokal
Yetro Wirawan saat mengunjungi salah satu situs bersejarah di Pekanbaru, Masjid Raya Senapelan.(Foto: Ist)

PEKANBARU - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Pekanbaru berkomitmen untuk memelihara dan melestarikan budaya lokal yang saat ini masih ada dan dipegang oleh masyarakat Pekanbaru. Budaya di Pekanbaru khususnya budaya Melayu, terkandung nilai-nilai luhur yang bermuara pada kebajikan dan kemuliaan peradaban hidup manusia.

Hal tersebut disampaikan Yetro Wirawan, peminat dan pemerhati kebudayaan yang juga kader PSI Pekanbaru saat berbincang dengan riaueditor.com beberapa waktu lalu terkait upaya-upaya melestarikan situs-situs kebudayaan yang sudah ada turun temurun di Kota Bertuah ini.

Beberapa hari lalu, Yetro berkunjung ke Makam Marhum Pekan, salah satu peninggalan sejarah Kota Pekanbaru yang terletak di Komplek Masjid Raya Senapelan. Di sini dirinya dapat mengenal lebih dalam, bagaimana Melayu itu sebenarnya.

Berbicara Melayu, Yetro yang pernah berkunjung ke Provinsi Hainan di China. Bahwasanya kebudayaan dan tutur bahasa di Hainan serta perawakan masyarakatnya sama dengan Indonesia.

Hal tersebut diamini oleh seorang juru kunci Masjid Raya Senapelan yang ditemuinya, jika sejarah itu dikaji lebih jauh lagi, bahwa memang ada keterkaitan antara Indonesia dengan negeri lainnya di Asia ini. Sebut saja China, Myanmar, Filiphina dan banyak lagi, terutama sekali Malaysia sebagai saudara serumpun.

bahwa sebenarnya Melayu bukanlah milik Riau saja, namun Melayu merupakan bangsa besar yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.

Dalam era globalisasi yang semakin maju, budaya lokal Indonesia dengan nilai-nilai luhur dalam kehidupan ini pun turut terancam dan semakin terpinggirkan. Sejatinya, dengan menggeliatkan dan menghidupkan budaya lokal di tengah masyarakat, inilah yang menjadi benteng dari hantaman dampak negatif globalisasi yang dapat merusak mental dan moral generasi bangsa.

Yetro Wirawan yang juga Bacaleg PSI Dapil 1 DPRD Kota Pekanbaru ini menyampaikan, dari referensi yang diketahuinya, Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa yang berbeda. Bangsa besar ini juga memiliki karakteristik budaya lokal yang berbeda pula.

Namun begitu, nilai-nilai luhur yang tertanam dalam budaya lokal inilah yang sebenarnya menjadi kekuatan bangsa ini. Sebut saja bergotong-royong yang kini mulai jarang ditemui di tengah masyarakat.

"Kadang kita lupa dengan asal usul kita, bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan pendahulu, sebagai bekal dalam kehidupan. Sepatutnya pula nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan ini kita jaga dan lestarikan bersama. Inilah yang menjadi benteng bagi generasi penerus bangsa ini dari ancaman negatif globalisasi," papar Yetro.

Jika bukan warga Indonesia sendiri yang menjaga kebudayaannya, siapa lagi? Jangan sampai orang luar mengeklaim kebudayaan kita adalah milik mereka karena kita abai dan tak menjaga kebudayaan kita sendiri.

Di Pekanbaru, budaya Melayu beserta khazanahnya mesti dijunjung. Meskipun bukan warga asli Pekanbaru, namun pepatah menyebutkan, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Itu sebut Yetro berlaku bagi setiap orang.

Yetro: Pekanbaru Perlu Orang Baik Berantas Korupsi

Selama tiga puluh tahun hidup dan menetap di lingkungan masyarakat Melayu, persisnya di Jalan Tanjung Datuk Kecamatan Limapuluh, Yetro mengenal masyarakat setempat adalah masyarakat yang welcome, terbuka dengan siapapun.

Selama ini tak pernah terjadi singgungan. Bahkan sejak bertahun-tahun lalu, Yetro dan keluarganya kerap berbagi rezeki dengan sesama, karena Yetro sadar mereka dan keluarganya adalah bagian dari masyarakat.

"Ini adalah jati diri kita, jati diri sebagai masyarakat Pekanbaru, pertanda kita orang beradab yang hidup di tanah Melayu," ujar Yetro Wirawan lagi.

Kembali ke situs-situs kebudayaan Melayu di Pekanbaru saat ini, PSI sebut Yetro juga sangat mendukung penuh upaya-upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah serta stakeholders yang terkait dengan masalah kebudayaan ini. (Andi)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini