Di Usia 80 Tahun SCB Masih Tampil Enerjik dan Memukau di Munsi III

Redaksi Redaksi
Di Usia 80 Tahun SCB Masih Tampil Enerjik dan Memukau di Munsi III
Foto: Youtube
Penyair Sutardji Calzoum Bachri (SCB)

JAKARTA - Di usianya menjelang 80 tahun, penyair legendaris Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) ternyata masih enerjik. Di panggung Munas Sastrawan Indonesia (Munsi III) Jakarta. 

Presiden Penyair Indonesia itu secara solo tampil selama lebih kurang satu jam non stop pada hari kedua Munsi, Selasa (3/11) di Hall Novotel Mangga Dua Square, Jakarta. 

Acara Munsi III ditaja oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan dan Kebudayaan. Penampilan SCB yang memakai topi dan berjaket kecoklatan itu benar-benar mendapat tepukan seratus lebih hadirin. 

Belasan puisi yang mayoritas terbaru dibacakan SCB dengan vokal berat dan terjaga. Kadangkala SCB meningkahinya dengan tiupan harmonika yang khas. Kadang juga menyelinginya dengan menyanyikan lagu-lagu Barat berirama blues.

"Beginilah saya baca puisi saat berusia 80 tahun," kata SCB saat baru menyelesaikan pembacaan puisinya. Hal di luar dugaan, SCB juga membacakan puisi `Game` yang dihadiahkan untuk penyair Fakhrunnas MA Jabbar dan puisi `Siak` yang diperuntukkan bagi penyair Kunni Masrohanti. 

Selain itu, SCB membacakan puisi-puisi yang sudah dikenal luas oleh  masyarakat  mulai puisi kepemudaan, nasehat hingga puisi cinta. Salah satu puisi fenomenal yang dibacanya berjudul `Wahai Pemuda Mana Telurmu`.

Apa gunanya merdeka

Kalau tak bertelur

Apa gunanya bebas

Kalau tak menetas?

Wahai bangsaku

Wahai pemuda

Mana telurmu?

Burung jika tak bertelur

Tak menetas

Sia-sia saja terbang bebas

Kepompong menetaskan

kupu-kupu,

Kuntum membawa bunga

Putik jadi buah

Buah menyimpan biji

Menyimpan mimpi

Menyimpan pohon

dan bunga-bunga

Uap terbang menetas awan

Mimpi jadi, sungai pun jadi,

Menetas jadi,

Hakekat lautan

Setelah kupikir-pikir

Manusia ternyata burung berpikir

Setelah kurenung-renung

Manusia adalah

burung merenung

Setelah bertafakur

Tahulah aku

Manusia harus bertelur

Burung membuahkan telur

Telur menjadi burung

Ayah menciptakan anak

Anak melahirkan ayah

Wahai para pemuda

Wahai garuda

Menetaslah

Lahirkan lagi

Bapak bagi bangsa ini!

Menetaslah

Seperti dulu

Para pemuda

Bertelur emas

Menetas kau

Dalam sumpah mereka

Menurut Tardji, puisi ini dibuat untuk pemuda Indonesia yang melahirkan bangsa ini dengan puisi melalui teks Sumpah Pemuda sebagai puisi besar. Lalu dia pun bertanya, "Puisi telah melahirkan bangsa ini, yakni berupa Sumpah Pemuda sebagai puisi besar. Lalu apa yang sudah diberikan bangsa ini kepada puisi, khususnya sebagai pemegang kebijakan. Tapi penyair juga jangan minta-minta, terus berkarya untuk kearifan dan memberi ma`rifah bagi bangsa ini."

Pada malam harinya di tempat yang sama secara bergiliran tampil pula belasan penyair berbagai kota di Indonesia di antaranya Asrizal Nur, Salman Yoga, Ardi Susanti, Rini Intama, Saut Poltak Tambunan dan sebagainya. (*)


Tag:
III

Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini