JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam di Indonesia untuk melanjutkan gerakan boikot produk Israel, termasuk kurma yang terafiliasi dengan negara tersebut.
Seruan ini disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim sebagai bagian dari komitmen solidaritas kemanusiaan terhadap Palestina.
Menurut Prof Sudarnoto, Ramadhan tahun ini datang di tengah berbagai ujian kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Ia menyinggung bencana yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, serta krisis kemanusiaan di sejumlah wilayah dunia, termasuk Gaza, Palestina, dan Yaman.
“Khusus yang terkait dengan Gaza dan Palestina, Israel hingga saat ini masih terus melakukan genosida dan penghancuran yang tak bisa dihentikan oleh siapapun bahkan oleh Amerika dengan BoP-nya. Amerika tetap membiarkan pembunuhan dilakukan oleh Israel,” ujarnya dikutip dari Republika.co.id, Senin (9/2/2026)
Ia menegaskan bahwa perjuangan membela kemerdekaan Palestina harus dilakukan secara bermartabat dan berkelanjutan. Salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia adalah dengan tidak membeli produk-produk yang berasal dari Israel atau memiliki keterkaitan dengan negara tersebut.
“Di antara yang bisa masyarakat lakukan ialah melanjutkan boikot terhadap produk-produk Israel dan yang terafiliasi dengan Israel. Meskipun boikot ini bagian kecil melawan Israel, tapi insya Allah bernilai sebagai bagian komitmen kita membela Palestina,” kata Prof. Sudarnoto.
Ia juga mendorong pemerintah Indonesia untuk terus menunjukkan ketegasan dalam membela kemerdekaan Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan.
Menjelang Ramadhan, Prof Sudarnoto mengajak umat Islam tetap istiqamah dalam ibadah sekaligus menjaga kepedulian sosial terhadap persoalan kemanusiaan global.
“Tetaplah kokoh, Istiqomah, bersabar melaksanakan ibadah dan membela kemanusiaan serta kemerdekaan Palestina,” ucapnya.
Ia berharap Ramadhan menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus solidaritas kemanusiaan. “Semoga Allah memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita sebagai bangsa yang bermartabat,” ujarnya.
Berikut daftar kurma Terafiliasi Israel menurut aplikasi Boycat:
- Bomaja
- Brousse & Fils
- Carmel Agrexco
- Delilah
- Desert Diamond
- Hadiklaim
- Jordan River
- Jordan Valley
- Anna and Sarah
- Urban Platter
- King Solomon
- MyJool
- Paradise Dates
- Shams
- Star Date
- Sun Date
- Mehadrin
- Food to Live
- Star Dates
- Sincerely Nuts
Israel memang menjadi salah satu negara pengekspor kurma segar dan kering terbesar di dunia, dengan nilai ekspor mencapai sekitar 330,09 juta dolar AS pada 2022. Ironisnya, banyak dari kurma Israel yang ditanam di tanah Palestina yang mereka jajah.
Secara umum, Israel sebenarnya bukan produsen kurma yang besar. Menurut FAOSTAT, Israel hanya memproduksi sekitar 48.984 ton dari total 9.454.213 ton kurma di dunia pada 2020. Artinya, hanya sekitar 0,5 persen kurma di dunia yang tumbuh di Israel.
Meski tak banyak memproduksi kurma sendiri, Israel mampu menjadi salah satu pengekspor kurma terbesar di dunia, seperti diungkapkan oleh Freshplaza melalui laman resminya. Posisi Israel sebagai pengekspor kurma hanya tersaingi oleh Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, dan Iran.
"Di negara-negara penghasil kurma, sebagian besar (kurma yang mereka produksi) dikonsumsi sendiri secara lokal," ujar Freshplaza.
Ciri-ciri Kurma Israel
Dikutip dari detik.com, menurut laman Boycott, Divestment, Sanction (BDS) dan Islamic Human Right Commision, terdapat ciri-ciri kurma yang diproduksi oleh Israel. BDS merupakan gerakan yang berupaya memboikot ekonomi dan budaya terhadap Israel, divestasi keuangan dari negara, dan sanksi pemerintah. Berikut ciri-ciri utama kurma Israel:
Terdapat barcode (kode batang) 729 pada kemasan kurma Israel. Nomor tersebut adalah nomor seri untuk negara Israel.
Produk kurma bertuliskan perusahaan ekspor Israel, seperti Medjool Plus, Carmel Agrexco, Mehadrin dan Hadiklaim.
Untuk produk kurma Medjool, tidak semua jenis kurma tersebut diproduksi dari Israel. Kurma ini perlu dicek lagi identitas perusahaan produsennya dalam kemasan.
Kurma tidak memiliki keterangan perusahaan produsen dan asal negara produksi yang jelas. Seringkali terdapat produk yang menyertakan teks Arab, bendera Palestina yang mengklaim berasal dari Palestina tetapi tidak menyertakan detail kontak produsen atau importir. Sebaiknya, produk kurma seperti ini dihindari agar terhindar dari trik produsen Israel mengelabui pembeli.
Biasanya harga kurma Israel dijual lebih murah dibanding yang lain karena disubsidi oleh pemerintah Israel.
Cara Menghindari Kurma Produk Israel
Selain mengenali ciri-ciri kurma Israel, ketahui cara mengecek membeli kurma berkut ini:
Periksa label saat membeli kurma. Jika tidak ada negara asal yang tercantum pada kotak, periksa situs web pengecer. Perhatikan perusahaan penjual kurma. Salah satu eksportir terbesar Israel adalah Hadiklaim.
Periksa kotak kurma dengan seksama. Kurma Hadiklaim juga dijual dengan merek dagang supermarket, seperti King Solomon, Jordan River, Jordan River Bio-Top, and MyJool.
Merk kurma Palestina di antaranya adalah Zaytoun, Yaffa, dan Holy Land. Pada produk Palestina, terdapat label "Grown in Palestine".
Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum membeli produk kurma adalah label pada kemasan. Hindari membeli produk kurma yang memiliki label seperti "Made in Israel", "Made in the West Bank", atau "Made in the Jordan Valley". "Industri kurma Israel kerap menggunakan label-label samar untuk menutupi asal sebenarnya," ujar American Muslim for Palestine.
Organisasi BDS Australia juga menganjurkan agar label-label seperti ini diperhatikan, khususnya ketika membeli kurma jenis medjool. Selain itu, waspadai pula angka 729 pada barcode di kemasan kurma karena angka tersebut merupakan kode untuk Israel menurut BDS Australia.