FMPST dan LAM Meranti Gelar Ratip Zaman Ke II

Redaksi Redaksi
FMPST dan LAM Meranti Gelar Ratip Zaman Ke II
FMPST dan LAM Meranti Gelar Ratip Zaman Ke II
SELATPANJANG, riaueditor.com - Masyarakat Selatpanjang kembali menggelar ritual Ghatib Zaman atau lebih di kenal oleh masyarakat setempat dengan istilah "Bele Kampung" pada Jumat (16/10/15) malam. Kegiatan ini merupakan inisiatif Forum Mahasiswa Pemuda Selatpanjang Timur (FMPST) yang melanjutkan studi nya di Pekanbaru.

Acara yang digelar ini bertujuan untuk berzikir atau mengingat Allah sembari meningkatkan rasa kekompakan antara penduduk desa. Serta mengajak kepada para generasi muda untuk mengenal adat istiadat Melayu. Kegiatan ini merupakan inisiatif Forum Mahasiswa Pemuda Selatpanjang Timur (FMPST) yang melanjutkan studinya di Pekanbaru.

"Tradisi ini adalah tradisi turun temurun yang harus dilestarikan. Sudah sepantasnya generasi muda tahu tentang kegiatan ini. Insya Allah, kita akan menjadikan kegiatan ini kegiatan rutin, kegiatan ini juga mengingatkan kembali kepada kita bahwa ini adalah tradisi yang pernah ada di Selatpanjang dan jangan sampai dilupakan," Kata ketua FMPST, Andika, Kamis (15/10/15).

Andika menambahkan kegiatan ini juga pernah digelar pada tahun 2014 lalu, namun tidak banyak yang mengikuti, dikarenakan banyak masyarakat yang tidak mengetahui tradisi ini. Dia berharap kegiatan yang digelar ini mendapat antusias dari masyarakat untuk mempertahankan adat istiadat. Kegiatan ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah.

Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) H Ridwan Hasan mengungkapkan kegiatan ini untuk mempertahankan aset budaya melayu sejak turun temurun. "Ghatib bagaikan membersihkan diri, ritual yang dilakukan ini tak menyimpang dari ajaran Islam," ucapnya.

Sementara itu salah seorang imam Masjid, Syaari mengatakan kegiatan ini sudah lama tidak dilakukan. "Lebih kurang 30 tahun sejak tahun 1984 sudah tak pernah ada Ghatib Zaman ini. beghatib (berzikir) dimaksudkan untuk beribadah juga dapat menolak bala dan menjauhkan segala musibah. Mudah-mudahan yang muda-muda nanti mau melanjutkan adat istiadat ini," harapnya.

Ketua kampung yang juga merupakan keturunan Bathin Suir ini mengatakan dzikir dimulai dengan berjalan kaki dari Masjid Al-Mujahidin di jalan Dorak hingga berakhir di hilir Sungai Jelutung yang terletak dijalan lingkar Dorak yang berjarak hampir 8 KM, Sampai di Sungai Jelutung, rombongan berhenti dan membacakan doa, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala marabahaya dan semoga penduduk kampung senantiasa diberikan rahmat oleh Yang Maha Kuasa. Ketika kegiatan ini berlangsung seluruh masyarakat yang ikut harus melantunkan dzikir dan tidak membicarakan hal yang bersifat duniawi.(azw)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini