Mengenal Gus Dur dalam Kilas Ingatan

Randy Wirayudha, Jurnalis
Redaksi Redaksi
Mengenal Gus Dur dalam Kilas Ingatan
Heru Haryono/OKEZONE
Mendiang KH Abdurrachman Wahid alias Gus Dur

KINI kalau kita bicara tentang Gus Dur atau KH Abdurrachman Wahid, segala puja-puji terlontar dari mulut sambil mengenang sosoknya. Padahal dulu, terutama pada 2001, tak sedikit orang yang menghujat hingga akhirnya Gus Dur dijungkalkan dari kursi Presiden RI keempat.

Sekira sepekan mendatang, ingatan akannya muncul lagi melalui Haul ketujuh Gus Dur yang jatuh setiap tanggal 30 Desember. Tanggal di mana pada 2009 silam Gus Dur tutup usia akibat penyakit komplikasi, mulai dari stroke, diabetes hingga gangguan ginjal.

Bagi masyarakat “minoritas” di Indonesia, Gus Dur adalah figur besar yang diagungkan. Berkatnya, etnis Tionghoa tak lagi terkungkung dan bisa merayakan Hari Imlek.

Berkatnya pula, orang-orang di timur Indonesia tak lagi malu lagi menyebut mereka orang Papua dan aspirasi mereka didengarkan, setelah selama Orde Baru dikesampingkan. Berkat dia pula, semua yang berbau politis tak lagi tabu diselingi banyolan.

Sedikit membahas “biografinya”, Gus Dur lahir dari keluarga ulama yang cukup ternama di negeri ini pada 7 September 1940. Kakeknya ulama yang juga pahlawan KH Hasyim Asy’ari. Ayahnya KH Wahid Hasyim dikenal sebagai Menteri Agama Indonesia pertama.

Sebutan Gus Dur tak lepas dari kehidupannya di pesantren. Nama lahir Gus Dur sejatinya adalah Abdurrahman Addakhil yang disebutkan artinya “Sang Penakluk”. Dia menyandang sebutan “Gus” karena beliau anak kiai yang berarti “abang” dan “Dur” dari kependekan namanya Abdurrachman.

Pendidikannya pernah dirajut di SD KRIS di Jakarta dan sempat pindah ke SD Matraman Perwari, kala sang ayah menjadi Menteri Agama. Pendidikanya kemudian dilanjutkan di jenjang SMP sembari ‘nyantri’ di Pondok Pesantren (Ponpes) Krapyak, Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Maksum.

Kemudian selepas jenjang SMP, Gus Dur lanjut ke jenjang berikutnya di Pesantren Tegalrejo di Magelang, kemudian kembali ke Jombang di Pesantren Tambakberas. Selepas sekolah, Gus Dur sempat jadi guru dan kepala sekolah yang “disambi” dengan pekerjaan jurnalis di majalah ‘Horizon’ dan ‘Budaya Jaya’.

Setelah mendapat beasiswa Kementerian Agama pada 1963, Gus Dur keluar negeri untuk kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan sempat kerja di Kedutaan Besar RI di Kairo. Kehidupannya kuliah dan kerja di KBRI itu sempat terganggu peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).

Gus Dur kemudian memilih kehidupan bari di Irak dengan masuk Universitas Baghdad yang lagi-lagi karena beasiswa dan baru kembali ke Indonesia pada 1971. Pekerjaannya di Indonesia diawali dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sekaligus melanjutkan karier sebelumnya sebagai wartawan.

Sempat pula jadi dosen di Universitas Hasyim Asyari, sebelum akhirnya aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU). Politik juga jadi bidang khusus yang dimasuki Gus Dur dengan bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Di ranah politik, Gus Dur terkenal keras dan lantang jika bicara soal rezim pemerintahan Soeharto. Tapi tak seperti para aktivis lainnya, Gus Dur acap luput dari penangkapan lantaran punya kedekatan dengan Panglima ABRI (Pangab) Jenderal Leonardus Benyamin ‘Benny’ Moerdani.

Di sisi lain saat masih aktif di NU, tepatnya pada 1984, Gus Dur turut merumuskan relasi Pancasila dan Islam. Dalam rapat Muktamar ke-27 di Situbondo, Jawa Timur yang dipimpin Gus Dur, tercapai kesimpulan bahwa Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahwa Pancasila itu Islami.

Momen 1998 jadi momen bersejarah bagi negeri ini dan Gus Dur turut berada di dalamnya. Lewat “terbitnya” Pernyataan Ciganjur yang disepakati Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, komitmen reformasi dilantangkan.

Setahun kemudian, Gus Dur dinobatkan sebagai Presiden RI “pertama” di masa reformasi. Dalam Sidang Umum MPR RI 7 Oktober 1999 pasca-Pemilu Juni 1999, Gus Dur jadi Presiden RI keempat dengan ditemani Megawati sebagai wakilnya.

Pemerintahan reformasi pertama pun dimulai dengan mengikutsertakan sejumlah partai koalisi. Di masa pemerintahannya, Gus Dur juga punya “beban” berkunjung ke luar negeri.

Maka Gus Dur berangkat ke negara-negara ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Kuwait, Qatar, Yordania hingga RRC (total 50 negara di lima benua) dengan misi menjelaskan bahwa Indonesia kondisi Indonesia aman dan kondusif pasca-Reformasi.

Safarinya keliling dunia itu sempat memicu kritik karena dalam waktu yang bersamaan, kondisi Indonesia sedianya tengah “digoyang” pemberontakan di Aceh dan Papua, sekaligus kerusuhan Ambon dan Poso.

Belum lagi, kegiatan Gus Dur ke luar negeri dianggap pemborosan. Total, disebutkan beberapa sumber biayanya mencapai Rp105 miliar. “Tapi eksistensi Indonesia di mata dunia harganya lebih mahal dari itu,” cetus Gus Dur membela diri.

Problem korupsi karena masih banyak “antek-antek” Soeharto juga jadi tantangan tersendiri buat Gus Dur. Perombakan kabinet pun acap digulirkan hingga pernah Jusuf Kalla (kini Wakil Presiden RI) pernah ‘nyeletuk’, :”Gus Dur pecat menteri tiap dua bulan”.

Klimaksnya adalah ketika Gus Dur berseteru dengan DPR RI yang mendorong Gus Dur mengeluarkan dekrit yang isinya, (1) pembubaran DPR/MPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan percepatan pemilu dan (3) pembekuan Partai Golkar.

Gus Dur pun ujung-ujungnya dimakzulkan dan dilengserkan. Dalam sejumlah tayangan, muncul “adegan” yang cukup fenomenal di mana Gus Dur dengan bercelana pendek dituntun keluar Istana sambil melambaikan tangan pada 23 Juli 2001, kala menyambut pendukungnya yang tak ingin dia dilengserkan.

(raw/okezone)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini