Kisah Mereka yang "Terbuang"

Redaksi Redaksi
Kisah Mereka yang
Foto: Dok Okezone
Dahlan Iskan dan Rhoma Irama
JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bersama partai pendukungnya resmi mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2014. PDIP didukung Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Dari kubu penantang, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama koalisinya mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Ikut mendukung keduanya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PKS), dan Partai Golkar.

Bahkan hingga kemarin, Prabowo masih terus bergerilya menggalang dukungan ke tokoh-tokoh di luar partai politik. Raja Dangdut, Rhoma Irama, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi target mantan Danjen Kopassus itu.

Prabowo juga bertemua Presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, di kediamannya tadi malam, untuk ambil bagian dalam mewujudkan poros "koalisi gajah".

Namun, Demokrat masih malu-malu menyatakan dukungan resmi kepada Prabowo. Demokrat berkilah mengambil posisi netral berdasarkan 'amanat' Rapat Pimpinan Nasional, di Hotel Sultan, Minggu kemarin.

Pada akhirnya, Pemilihan Presiden 9 Juli nanti hanya akan diikuti dua pasangan, Jokowi-JK, dan Prabowo-Hatta, sebagai Capres dan Cawapres.

Kemana tokoh-tokoh nasional yang sejak jauh hari digadang-gadang sebagai Capres atau Cawapres? Raja dangdut, Rhoma Irama, mantan Ketua Mahmakah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Pemenang Konvensi Demokrat, Dahlan Iskan atau Ketua KPK Abraham Samad.

Termasuk Ketua Umum Partai Golkar, Abu Rizal Bakrie, yang terpaksa harus gigit jari gara-gara partainya tak kunjung mendapat mitra koalisi. Padahal, Golkar merupakan partai pemenang nomor dua di Pemilihan Legislatif 2014 dengan meraup suara 14 persen.

Kenyataan ini juga mematahkan prediksi sejumlah lembaga survei yang menyatakan Pemilihan Presiden 2014 bakal diikuti tiga kandidat Capres dan Cawapres. Politik nasional hari ini akhirnya menghadirkan beragam cerita dari tokoh-tokoh yang gagal melenggang maju di Pemihan Presiden 2014.

Rhoma Irama

Sebelum Pemilihan Legislatif, Raja dangdut ini diusung PKB sebagai Calon presiden. Karena disokong, Rhoma tergolong gencar berkampanye di Pemilihan Legislatif. Hasilnya pun fantastis, PKB meraih 9 persen suara nasional. Lingkaran Survei Nasional menyebut PKB meraih suara signifikan karena Rhoma Effect.

Di tengah jalan, PKB yang dikomandoi Muhaimin Iskandar, merapat ke PDI Perjuangan dengan mengusung Jokowi sebagai Capres. Walhasil, meski membantah sakit hati, Rhoma akhirnya menarik dukungan dari PKB dan mengalihkannya ke Prabowo-Hatta.

"Saya tidak merasa apa yang selama ini dikerjakan ini sia-sia. Karena saya ikut mensukseskan Pemilu dan mendorong teman-teman dari PKB ke DPR." kata Rhoma di kediamannya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (19/5/2014).

Bahkan, Rhoma siap ambil bagian menjadi juru kampanye Prabowo-Hatta. "Saya rasa sebagai kontribusi bisa dalam bentuk apa saja. Tapi nantilah, setelah bertemu Pak Prabowo," ujar dia menambahkan.

Mahfud MD

Sama seperti Rhoma, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga diusung PKB menjadi Capres. Mahfud namanya sesekali muncul digadang-gadang sebagai Cawapres mendampingi Jokowi saat PKB mulai intens dan  memutuskan berkoalisi dengan PDI-Perjuangan.

Gara-gara tidak dilirik Jokowi, Prabowo mengambil kesempatan tersebut dengan merayu Mahfud turut ambil bagian dalam koalisi besar yang digagas Gerindra. "Setelah ini saya akan bertemu Rhoma Irama, kemudian saya baru saja bertemu Pak Mahfud MD," kata Prabowo usai di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Senin (19/5/2014).

Dahlan Iskan

Menteri Badan Usaha Milik Negara ini sebenarnya tampil sebagai jawara dalam konvensi Calon Presiden yang digelar Partai Demokrat. Namun, sebelum mengambil sikap politik netral di Pemilihan Presiden 2014, Demokrat justru menunjuk Pramono Edhie sebagai Calon Presiden.

"Ibarat cokelat yang enak sekali, tapi sudah diambil orang. Dan saya enggak bisa makan coklat itu karena coklatnya sudah habis. Saya senang, tapi harus realistis. Karena koalisi sudah habis," ungkap Dahlan menanggapi kemenangannya tersebut.

Abraham Samad

Ketua Komisi Pemberatasan Koruspi ini terancam kembali berurusan dengan Komite Etik gara-gara namanya masuk dalam bursa Cawapres. Sebelum resmi menggandeng Jusuf Kalla sebagai wakilnya, Abraham Samad banyak kalangan dianggap tokoh paling layak mendampingi Jokowi.

Bahkan, spanduk-spanduknya sudah banyak tersebar sebagai Pendamping Jokowi. Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, mengambil momen tersebut dengan menggulirkan isu membuat Komite Etik jilid II bagi Abraham Samad.

Bambang mengaku tidak pernah bilang merestui Samad maju sebagai Cawapres. "Kita gak bisa katakan ada pelanggaran atau tidak. Kita juga belum bisa putuskan ada pelanggaran etik atau tidak. Yang bisa kita lakukan adalah klarifikasi. Baru nanti kita bisa ke tahapan selanjutnya," ujar Bambang.

Sakit hatikah mereka? Entahlah.


(ded/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini