Kematian Covid-19 Anak Naik, Terlambat Diobati karena Disangka Flu Biasa

Redaksi Redaksi
Kematian Covid-19 Anak Naik, Terlambat Diobati karena Disangka Flu Biasa
Petugas bersiap memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Bambu Apus, Jakarta, Kamis (28/1/2021). Setiap harinya, TPU Bambu Apus melayani rata-rata 30 hingga 50 pemakaman jenazah dengan protokol COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

JAKARTA - Kematian COVID-19 pada anak yang sedikit meningkat, menurut Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono, disebabkan adanya keterlambatan pengobatan. Ini karena gejala COVID-19 pada anak seringkali disangka flu biasa.

Dari data Bersatu Lawan COVID-19 per 26 Agustus 2021, persentase kematian COVID-19 anak dalam dua bulan terakhir masih belum menunjukkan penurunan. Sejak Juni 2021, persentase kematian anak di angka 1 persen, lalu Juli-Agustus di angka 2 persen.

"Bahkan kematian akibat Corona pada anak semakin meningkat pada beberapa daerah. Ini disebabkan karena keterlambatan orang tua membawa anak ke tempat pengobatan yang baik," ungkap Dante saat Rakornas KPAI, Persiapan PTM dan Program Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun Berbasis Sentra Sekolah, Senin (30/8/2021).

"Tadinya, disangka hanya flu biasa. Kemudian anaknya mungkin anosmia atau kehilangan indra penciuman. Biasanya ini tidak terlalu banyak dikeluhkan oleh anak."

Gejala yang sering terlihat pada anak, kata Dante, mereka susah makan. Tatkala mereka susah makan, mulai muncul gejala mirip flu.

"Ya, mereka diobati sebagai sakit flu, tetapi kondisinya semakin parah, baru orang tuanya sadar," lanjutnya.


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini