Dugaan Pasien Salah Obat, Ini Penjelasan Dokter RSUD Kepulauan Meranti

Redaksi Redaksi
Dugaan Pasien Salah Obat, Ini Penjelasan Dokter RSUD Kepulauan Meranti
istimewa
RSUD Kepualauan Meranti

KEP.MERANTI - Kabar dugaan pasien salah obat di RSUD Kepulauan Meranti sempat heboh. Keluarga pasien mengaku jika pihak medis RSUD salah memberi obat.

Pasien J yang memiliki penyakit saraf diberikan obat untuk penderita gangguan jiwa. J sempat mengalami halusinasi dan pingsan.

Melansir batamnews.co.id, dokter spesialis saraf di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti yang menangani pasien J akhirnya memberikan klarifikasi.

dr Wahyu Gusti Randa mengatakan, jika fungsi obat itu sama dengan obat yang sejenisnya, yakni untuk menurunkan tekanan intrakranial otak.

Diceritakannya, awal mula pasien berinisal J itu datang dengan keluhan yang masuk ke dalam ranah gangguan gerak hiperkinetik.

"Dimana salah satu terapi yang digunakan pada gangguan gerak tipe ini adalah menggunakan Risperidone. Obat itu tidak hanya untuk pasien dengan gangguan psikiatri, tetapi juga diberikan pada pasien dengan gangguan gerak," terangnya

Risperidone dapat menurunkan kadar dopamine di otak yang akan mengontrol terjadinya gangguan gerak tersebut. Sementara itu, dosis yang diberikan kepada pasien dikatakannya juga tidak melebihi takaran dosis pemakaian.

Gejala yang timbul setelah mengkonsumsi obat tersebut, pasien mengalami perilaku aneh sampai dengan tidak sadarkan diri. Itu dikatakan dr Wahyu akibat tidak kuatnya tubuh pasien menerima respon obat.

"Dosis yang kami berikan sudah dalam batas dosis harian dan tidak melebihi dosis pemakaian. Respon yang terjadi adalah toleransi pasien yang rendah atau tidak kuat terhadap obat dan respon ini berbeda pada setiap orang. Itu sebabnya pemberian obatnya harus dimulai bertahap dan itu sudah kami lakukan," kata Wahyu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Wahyu mengatakan jika dirinya juga tidak pernah mengatakan jika pasien mengalami stroke atau gangguan jiwa seperti yang telah disebutkan dalam pemberitaan.

"Saya tidak pernah menyebutkan diagnosis bells palsy, stroke ataupun pasiennya mengalami gangguan jiwa, sedikit pun tidak pernah," ungkapnya.

Dia juga meminta maaf jika terjadi ketidaknyamanan pihak keluarga.

"Saya pribadi meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi beberapa hari ini. Harapan saya semoga dengan niat baik saya menjalani profesi di bidang neurologi dapat membantu pasien sesuai dengan ilmu yang sudah saya pelajari selama ini dan memberi manfaat untuk masyarakat di Kepulauan Meranti," ujarnya.

Keluarga pasien J sempat mempertanyakan profesionalitas dokter saraf di RSUD Meranti tersebut.(**)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini