Anak Berusia 12 Tewas Diduga Diterkam Harimau di Areal PT MSK

Redaksi Redaksi
Anak Berusia 12 Tewas Diduga Diterkam Harimau di Areal PT MSK
ilustrasi.

“Membantu mengetahui penyebab kematian MS, dilakukan visum oleh pihak kepolisian dan medis dengan hasil diagnosis awal kematian disebabkan oleh gigitan binatang buas. Korban selanjutnya dibawa ke rumah duka dan dimakamkan,” ungkap Mahfud.

Paska dilaporkan, Mahfud mengatakan, pihaknya langsung memerintahkan Resort Balai Besar KSDA terdekat menyampaikan belasungkawa terhadap korban, bersama dengan pihak perusahaan serta bersama sama dengan pihak perusahaan dan TNI melakukan mitigasi konflik satwa.

“Jadi hasil investigasi di lokasi, tim menemukan bekas cakaran pada dinding pondok kerja yg terbuat dari plastik terpal dan jejak yang diduga adalah jejak satwa liar Harimau Sumatera,” ujar Mahfud.

Selanjutnya mencegah konflik susulan, Tim di lapangan langsung melakukan sosialisasi serta himbauan kepada karyawan yang ada di sekitar kejadian agar hati-hati dan waspada serta tidak melakukan aktivitas pada waktu pagi dan sore hari.

Tim juga menyampaikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi kejadian agar tidak memasang jerat atau melakukan tindakan anarkis terhadap satwa liar yang dilindungi termasuk harimau sumatera.

Sedangkan, tindakan pihak perusahaan memutuskan untuk menghentikan aktifitas sementara dan memindahkan seluruh pekerja yang berada di TKP dan sekitarnya ke camp induk PT MSK.

“Tim dilapangan juga memasang camera trap di lokasi kejadian sebanyak 3 unit. Kemudian, tanggal 1 November 2021 Balai Besar KSDA Riau melaksanakan rapat bersama para pihak untuk merumuskan rencana tindaklanjut penanganan konflik,” kata Mahfud.

Kemudian, untuk rencana tindak lanjut, saat ini tim di lapangan sedang melakukan identifikasi terhadap individu satwa yang berkonflik dengan penambahan pemasangan camera trap sebanyak 10 unit yang mencakup wilayah konsesi dan sekitarnya.

Untuk mengetahui satwa yang menyerang MS, tim juga memasang umpan pada titik titik tertentu dalam rangka menarik pergerakan satwa ke camera trap. Kemudian, memasang jerat di sekitar jalur jelajah satwa bersama pihak terkait.

“Tim di lapangan juga turut mendorong perusahaan untuk meningkatkan patroli dan pengawasan pada pusat-pusat aktivitas kerja. Selanjutnya, mengusulkan pihak perusahaan untuk merubah pola penempatan pondok kerja lapangan (mobile camp) menjadi lebih terpusat sehingga para pekerja bisa lebih terkontrol dan saling menjaga serta lebih menjamin keamanan dari serangan satwa liar,” kata Mahfud.

Upaya sosialisasi terkait mitigasi konflik juga dilakukan terhadap para pekerja dan pihak yang berada di sekitar lokasi serta mendorong perusahaan untuk lebih meningkatkan peran satgas penanganan konflik dan melakukan patroli secara mobil.

“Kami menghimbau semua pihak yang memiliki izin yang di dalamnya merupakan wilayah jelajah pergerakan harimau sumatera agar bisa menciptakan kondisi kerja yang bersahabat dan lebih antisipatif. Dengan peningkatan pengawasan melalui patroli baik pengawasan pekerjaan maupun aktivitas ilegal, seperti perburuan atau pemasangan jerat, melakukan himbauan kewaspadaan secara rutin, melakukan operasi sapu jerat, melakukan monitoring satwa liar secara rutin, dan melaporkannya,” pungkas Mahfud. (**)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini