PT Inti Indosawit Simpan Balita Gizi Buruk selama 4 Tahun

Redaksi Redaksi
PT Inti Indosawit Simpan Balita Gizi Buruk selama 4 Tahun
Arel (5) balita Gizi Buruk yang ada di Perusahaan PT Inti Indo Sawit Subur.
PKL.KERINCI, riaueditor.com- PT Inti Indosawit Subur Group PT Asian Agri, bukannya mengobati malahan menyimpan balita Gizi Buruk, buah hati dari salah seorang karyawannya di Perumahan Eko II Kebun Buatan, Kecamatan Pangkalan Kerinci selama 4 Tahun.

Melihat fisik Arel (5), putra ke lima dari pasangan Bustami (44) dan Nur Aina (37) karyawan dari PT Indo Sawit Subur Group Asian Agri. Arel di vonis dokter mengidap gizi buruk sejak usia satu tahun kelahirannya.

Bustami telah mengabdi selama 24 tahun di perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto itu hanya berpenghasilan Rp.1,5 juta per bulannya. Dengan pendapatan tersebut bagaimana bisa menghidupi enam anak.

Kakak-kakak Arel yang duduk dibangku SMP dan SMA saat ini sudah pada putus di tengah jalan.

"Jangankan memikirkan biaya sekolah, untuk makan saja keluarga ini harus ngirit." pada akhirnya Arel mengalami gizi buruk, karena tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Sungguh miris, melihat nasib Arel.

"Anak kami waktu lahirnya normal Pak wartawan, beratnya 3,4 kilo, ketahuan Arel gizi buruk setelah umurnya satu tahun, itu pun setelah kami cek dia ke dokter, waktu itu badan Arel tambah lama tambah kurus dan kepalanya tambah besar. Setelah di cek seharusnya waktu itu arel dirawat inap tapi karena  gaji saya hanya pas-pasan satu bulan cuma Rp1,5 juta, hari itu juga Arel saya bawa pulang," ungkap Bustami, ayah Arel.

Ketahuan anak kami mengidap Gizi Buruk, saya beritahu perusahaan agar dapat membantu. Bukannya dibantu, malahan Pak Manager, Faisal menyuruh saya mengantar Arel keluar dari perumahan PT Inti Indo Sawit, dia takut nantinya katahuan orang luar, "Menangis saya mendengarnya pak wartawan, tidak ada hati mereka, andaikan kalau terjadi sama anak mereka apa tidak sedih mereka," ujar Bustami dengan polosnya.

Tak sanggup beli susu

Saat Arel merintih sakit, ibu arel sesekali menyuapinya dengan air putih yang disendokan, ditanya kenapa tak diberi susu, sambil terisak-isak menahan tangis, ibu Arel menjawab, "Kami tidak ada uang untuk membeli susu pak wartawan."
 

Bila malam tiba orang tua Arel menangis melihat penderitaan anaknya yang sepertinya tidak berujung, mereka hanya bisa pasrah melihat nasib Arel.(diki)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini