Mata Samin Cacat, PT SAL Buang Badan

Redaksi Redaksi
Mata Samin Cacat, PT SAL Buang Badan
fin/riaueditor.com
Kondisi mata bagian kanan Samin saat ditemui di Talang Selantai, Jumat (4/7).
TALANGSELANTAI, riaueditor.com– Samin (40) warga RT 2 RW 2 Dusun 2 Kelurahan Talang Selantai Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), hanya bisa pasrah atas derita yang ia alami semenjak tertimpa musibah 23 Maret 2014 lalu. Ia pun mengaku tak tahu kepada siapa ia harus mengadu.

Ditemui di kediaman kerabatnya pada Jumat (4/7) lalu, Samin mengaku mata bagian kanannya yang kini cacat diakibatkan terkena tunggul kayu.

"Saat itu, saya tengah membuka piringan untuk membersihkan kebun sawit tempat saya bekerja di PT SAL. Kemudian tanpa diduga, tiba-tiba saja tunggul kayu mengenai mata saya. Hari itu juga saya melapor ke mandor bernama Jumaton dengan harapan mata saya bisa segera diobati," ujar Samin.

Dikatakan Samin, sang mandor kemudian menyuruh Samin untuk berobat ke bidan  dengan menggunakan uang pribadi terlebih dahulu. Usai berobat ke bidan, Samin pun memberitahu Jumaton bahwa dana yang ia keluarkan untuk berobat sebesar Rp 130 ribu. Dan uang tersebut pun akhirnya diganti oleh pihak PT SAL.

Walau sudah berobat ke bidan, namun mata bagian kanan Samin tak terlihat tanda-tanda membaik. Hingga pada akhirnya ia pun kembali melapor ke pihak PT SAL dengan harapan mata kanannya tersebut mendapat perawatan medis lebih lanjut.

"Sejak terkena kayu, mata sebelah kanan saya sudah tak bisa melihat lagi," ujar Samin mengeluh.

Entah karena minim pendidikan, Samin mau saja disuruh perusahaan ketika diminta untuk pergi berobat sendiri ke Rengat dengan biaya pribadi. Berbekal Jamkesmas, Samin pun berangkat ke Rengat tanpa diberi uang saku sama sekali.

Singkat cerita, setelah diperiksa oleh dr Janalia KS, pihak Rumah Sakit Indrasari Rengat "memvonis" Samin bahwa matanya harus dioperasi. Oleh BPJS kemudian merujuk Samin ke RSUD Pekanbaru untuk dirawat. Akan tetapi, mengingat bayangan biaya perjalanan ke Pekanbaru tidak ada, warga asli Talang mamak ini pun terpaksa menunda keinginannya untuk berobat.

Ia pun kembali ke rumahnya di Desa Talang Selantai Kecamatan Rakit Kulim. Kisah Samin yang cukup melelahkan ini akhirnya terungkap saat tetangganya menceritakan penderitaan Samin kepada riaueditor.com kala mengunjungi desa tersebut, Jumat (4/7).

Tetangga Samin, Edi mengaku kecewa atas sikap PT SAL yang dinilai buang badan terhadap derita yang dialami karyawannya. Pasalnya, sebagai perusahaan tempat Samin bekerja selama 15 tahun, seharusnya memiliki kepedulian.

"Apapun statusnya dalam perusahaan PT SAL, semestinya Samin harus menjadi tanggungjawab perusahaan. Apalagi cacat yang dialami Samin, terjadi saat tengah bekerja di blok C2 kebun sawit milik PT SAL," ujarnya geram.

Edi berjanji, permasalahan yang dialami Samin ini akan dikomunikasikan ke Kepala Desa terlebih dahulu. Selain karena ketidakpedulian perusahaan terhadap derita Samin, juga karena PT SAL dinilai telah membuka kebun sawit di desanya melebihi Hak Guna Usaha (HGU).

Sementara itu, manejemen PT SAL yang dihubungi yakni Setiawan dan Atan dihubungi via selularnya, hp keduanya tak aktif. (fin)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini