Emak-emak Demo Asap Bawa Panci di Depan Kantor Gubernur Riau

Redaksi Redaksi
Emak-emak Demo Asap Bawa Panci di Depan Kantor Gubernur Riau
riaueditor

PEKANBARU, riaueditor.com - Ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Gerakan Perempuan dan Rakyat Riau Melawan Asap melakukan demo dengan membawa panci dan alat dapur lainya memprotes bencana kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran lahan dan hutan (Karlahut), Selasa (24/9) siang. 


Massa yang mayoritas emak-emak ini membawa panci peralatan masak seperti panci, wajan, dan sodet, sambil memprotes kabut asap yang diakibatkan akibat kebakaran lahan dan hutan. 


Dalam aksinya, massa pendemo menuntut pemerintah daerah dan penegak hukum untuk lebih tegas dalam dalam hal penanganan kebakaran lahan dan hutan serta menindak tegas korporasi yang diduga sengaja membakar lahan.


"22 tahun kebakaran lahan dan hutan Riau selalu terjadi setiap musim kering. Dan setiap tahun pula masyarkat Riau harus menghirup udara beracun dari asap kebakaran hutan dan lahan. Yang terparah terjadi tahun 1997, 2015 dan 2019 ini. Hingga kini sudah lebih 275.793 masyarak Riau menderita ISPA dan 3 orang harus kehilangan nyawanya. Korban pun akan bertambah seiring dengan asap yang masih mengepul diarea kebakaran lahan dan hutan," teriak Helda Khasmy, salah seorang korlap aksi, saat berunjuk rasa di depan gerbang masuk Kantor Gubernur Riau Jalan Sudirman. 


Selain masalah kesehatan akibat kabut asap, rakyat juga harus dihadapkan dengan masalah ekonomi yang semakin memprihatikan akibat kebakaran hutan dan lahan. 


Rakyat terbatas menjalankan aktifitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, beaya listrik membengkk, anak-anak tidak dapat menjalankan aktivitas sekolah dan bebas bermain, bahkan mobilitas rakyat melalui udara terhambat. 


"Upaya pemerintah mengatasi asap ini hanya berusaha memadamkan api (bukan pada penyebab kebakaran), dan manangkap petani-petani kecil yang membakar lahan serta mengancamnya dengan hukuman 5 tahun penjara. Dampaknya jutaan kaum tani sekala kecil tidak bisa mengolah lahannya untuk pertanian, sedangkan petani yang berusaha untuk bertahan hidup dengan memaksakan diri membakar lahannya telah ditangkap dan dalam proses peradilan," kata Helda  dalam orasinya. 


Lanjut Helda, hari Tani Nasional diperingati setiap tahun pada tanggal 24 September utamanya oleh kalangan kaum tani dan gerakan sektoral lainnya di Indonesia.  


Tanggal 24 September sebagai pengingat bahwa pada tanggal itu tahun 1960, Presiden pertama RI Ir Soekarno menetapkan UU Nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).  Melalui Keppres No 169 tahun 1963, Presiden Soekarno menetapkan 24 September sebagai Hari Tani Nasional. 


Hari ini peringatan lahirnya UUPA bersamaan dengan bencana kabut asap yang melanda seluruh Provinsi Riau. 


Atas dasar itu, Gerakan Perempuan Riau bersama gerakan rakyat lainnya, bersama sama melakukan perlawanan terhadap asap yang diakibatkan kebijakan yang membelakangi semangat UUPA 60 dan menyampaikan sikap sebagai berikut, padamkan api, selamatkan korban asap di desa-desa dan kota yang ada di Provinsi Riau. 


Meminta kepada pemerintah daerah untuk mencabut HGU dan hentikan perijinan perkebunan besar dan stop perijinan perkebunan baru yang menjadi penyebab utama masalah asap.


"Tangkap dan adili perusahaan-perusahaan besar perkebunan yang melakukan pembakaran lahan dan hentikan kriminalisasi terhadap petani kecil," ujar Helda. 


Helda menambahkan, pemerintah harus melindungi dan majukan kemampuan rakyat untuk berproduksi secara bebas di pedesaan sehingga bisa berproduksi secara efektif dan efesien tanpa membakar lahan. 


"Jalankan land refom sejati dan bangun industri nasional," teriak Helda kembali dihadapan pendemo. 


Pantauan riaueditor.com, kegiatan aksi kaum emak-emak yang berjumlah seratusan orang ini berjalan cukup tertib. (dri) 



 


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini