Kuala Kampar Grand Design Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor Menuju IP 200 di Luasan Lahan 5806 Hektar

Redaksi Redaksi
Kuala Kampar Grand Design Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor Menuju IP 200 di Luasan Lahan 5806 Hektar
zul/riaueditor.com

PELALAWAN, riaueditor.com - Pengembangan padi di kawasan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan dengan skala agribisnis akan berdampak bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani serta terwujudnya kedaulatan sebagai menjadi target dari nawacita yang merupakan kebijakan pembangunan Pemerintah RI.

Kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten Pelalawan disinergikan dengan kebijakan pusat melalui keputusan Menteri Pertanian Nomor: 380 tahun 2016 hingga saat ini ditetapkan sebagai kawasan padi Kecamatan Kuala Kampar dalam grand design lumbung pangan berorientasi Export wilayah perbatasan.

"Luasan lahan kawasan padi di Kuala Kampar 5.806 hektar yang terhampar di lima desa di Kecamatan Kuala Kampar yakni Desa Sungai Upih, Desa Sungai Solok, Desa Teluk Bakau, Desa Serapung dan Desa Teluk Beringin.Kuala Kampar berpotensi menyumbang produksi  padi lebih 60.000 ton.Perhektar menghasilkan padi 4,6 ton," ucap Budi Surlani Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan,Tanaman Pangan dan Holtikultura (DKPTPH) Kabupaten Pelalawan kepada riaueditor.com, Rabu (30/9/2020) didampingi Devi Kasi pengolahan dan pemasaran hasil.

Ditanyakan soal kebenaran luasan lahan untuk kawasan padi di Kuala Kampar, Budi Surlani menyampaikan untuk luasan lahan ada 3 versi. Pertama, hasil integrasi LP2B Propinsi Riau seluas 5.323 hektar, kedua Perda RT/RW 5.806 hektar dan ketiga luas baku lahan Kementerian ATR/BPN seluas 4.991 hektar.

"Dari verai setelah dilakukan kembali pengecekan di lapangan, versi Perda RT/RW yang menjadi pedoman Kita untuk luasan lahan padi di Kuala Kampar. Kalau untuk seluruh Kabupaten Pelalawan mungkin hingga lebih dari 7 ribu hektar," ungkapnya.  

Dilanjutkannya, Kabupaten Pelalawan dengan upaya inovasi telah memiliki 5 varietas padi unggul pasang surut yang telah dilepas dan dilaunching yakni cekau, karya, bono, mendol dan inpara.

"Tahun ini Indeks Pertanama IP 200 atau panen 2 kali dalam setahun meski belum maksimal. Saat ini sedang dibangun pintu air close stored berupa penampungan air hujan untuk mengatasi masalah perairan sawah melalui anggaran APBN dan APBD Propinsi. Kita berharap dengan pembangunan pintu air diharapkan IP 200 setahun bisa 2 kali panen akan maksimal," bebernya.  

Ditambahkan Devi, Kasi pengelolaan dan pemasaran hasil, beras penyalai yang dihasilkan dari Kabupaten Pelalawan sudah banyak dipesan. Pemprov Riau hingga memesan 50 juta untuk beras penyalai. 

"Kita saat ini dihadapkan dengan ketersediaan srok beras penyalai. Diharapkan dengan setahun 2 kali panen pemasaran dapat terpenuhi," tukasnya. (ZoelGomes)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini