Filosofi ‘Salam Kelapa’ Jelang Hari Kelapa Internasional, Ini Kisahnya

Redaksi Redaksi
Filosofi ‘Salam Kelapa’ Jelang Hari Kelapa Internasional, Ini Kisahnya
ist.
Bupati HM Wardan bersama pemuda dan anak-anak diInhil memperagakan ‘Salam Kelapa’ kepada dunia.

TEMBILAHAN, riaueditor.com - "Salam Kelapa" yang menjadi khas di kalangan pemerintah daerah serta masyarakat Inhil ketika menyapa dan memperkenalkan negeri hamparan kelapa dunia sebagai julukan kabupaten Inhil ke seluruh masyarakat, baik nasional dan internasional. Dibalik pesonanya, ternyata "Salam Kelapa" memiliki seuntai kisah dalam proses pengenalannya. 

Sebagaimana dijelaskan Sekda Inhil, H Said Syarifuddin kepada awak media baru-baru ini, "Kalimat "Salam Kelapa" ini muncul secara reflek," ujar Sekda singkat. Sekda menjelaskan bahwa awal mula pengenalan ide tersebut mengalir begitu saja saat meminta para hadirin untuk memperagakan salam lima jari sebagai simbol "Salam Kelapa".

"Waktu itu kami sedang mengikuti pertemuan dengan Sahabat Kelapa Indonesia, sudah tiba acara puncak dan pas seru-serunya, secara reflek kita meminta kawan-kawan untuk mengangkat tangan lima jari sebagai simbol "Salam Kelapa". Mereka juga seakan-akan tahu tentang​ peragaan tersebut, jadi disitulah awal mula munculnya," ujar Said Syarifuddin sembari tersenyum.

Mengenai filosofi "Salam Kelapa" tersebut, Said menambahkan​ sejauh ini belum ada memberikan makna mendalam. Akan tetapi, berkaitan dengan kenapa lima jari yang diangkat, dijelaskan Said bahwa pada saat itu ia terinspirasi bahwa lima jari yang diangkat sama seperti daun kelapa.

"Terobsesi aja seperti daun kelapa, ada pucuk dan dahannya jadi kita sebut "Salam Kelapa" dan mengangkat tangan lima jari yang direnggang-renggangkan," tambahnya.

Ketika dipertanyakan tentang akan mempatenkan salam tersebut, Ketua Panitia Festival Kelapa Internasional ini menyebutkan belum memikirkan ke arah sana, akan tetapi​ pihaknya tetap butuh masukan​ dari seluruh kalangan. 

Berkenaan dengan ditanggapi positif oleh berbagai kalangan, Said mengaku kaget serta tidak menyangka karena itu merupakan​ hanya sebuah reflek saja. "Kaget juga ketika tahu banyak yang memperagakan, apalagi pas mendengar sudah diketahui di Pekanbaru dan bahkan di Pusat," imbuhnya​. (advertorial)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini