BERDASARKAN alur pernikiran, latar belakang tantangan dan arah perkembangan administrasi publik, tampak tali temali (trace) antar fenomena. Salah satu inti permasalahannya adalah faktor "paradigma baru kepemimpinan" yang diharapkan memiliki kemampuan memimpin organisasi Abad ke-¬21.
Dari perspektif teoretis, para pakar administrasi publik sepakat bahwa kepemimpinan merupakan inti administrasi dan manajemen. Sebagai inti yang memiliki peran sentral, menunjukkan bahwa kepemimpinan didudukkan pada tataran organisasi di posisi yang sangat strategis. Para pemimpin dipercaya mampu memandu perjalanan organisasi ke arah tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam berbagai kajian dan pengalaman empiris, membuktikan bahwa peran kepemimpinan organisasi menjadi penggerak, pengungkit, pendorong, pelindung, pelayan dan penanggungjawab berbagai aktivitas organisasional. Bahkan seperti telah dikemukakan, para pemimpin adalah manusia-anusia yang memiliki kekuatan, kecerdasan dan jumlahnya sedikit dan menentukan arah perjalanan sejarah suatu organisasi. Dengan kata lain, peranan tradisional pemimpin yang mencakup; pengendali, pemberi perintah, bertindak sebagai hakim, dan menjaga, sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan lingkungan internal maupun eksternal organisasi.
Untuk itu setiap pemimpin tidak hanya rnemenuhi kompetensi dan kualifikasi tertentu, lebih dari itu harus menjadi agen perubahan yang handal. Jika konfigurasi kepemimpinan terbangun dari tiga unsur yang interdependensial, yaitu pemimpin, kondisi masyarakat dan perkembangan lingkungan nasional dan internasional yang senantiasa mengalami perubahan, maka valid jika kita rnernpertanyakan kualifikasi dan kompetensi kepemimpinan sebagai persyaratan kepemimpinan yang efektif, khusunya dalam menghadapi kompleksitas perkembangan dan dinamika perubahan Abad ke-21. Dalam hubungan itu, kita pun perlu mempertanyakan paradigma dan sistem administrasi publik yang relevan dan diperlukan untuk menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, baik internal maupun eksternal, ataupun untuk mewadahi interplay dan interdependensi yang terjadi dalam proses kepemimpinan dan perubahan.
Seorang pemimpin publik harus mampu melihat kehadiran dirinya dalam konteks yang luas dan dasar nilai¬-nilai yang dianut serta merupakan acuan hidup dan kehidupan masyarakat bangsanya. Pada tataran tertentu, ia harus dapat menangkap makna kehadirannya sebagai bagian dari sistem administrasi negara yang mendeterminasikan kompleksitas struktur dan dinamika proses kelembagaan masyarakat negara dan bangsa serta dalam hubungan antarbangsa, yang hakikinya merupakan wahana perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara.
Kompleksitas dan dinamika perkembangan lingkungan stratejik, pada tataran nasional ditandai oleh permasalahan dan tantangan yang multi dimensional, di bidang sosial, ekonomi, politik, kelembagaan, serta pertahanan dan keamanan, yang ditandai antara lain oleh lemahnya struktur dan daya saing perekonomian, penegakkan hukum, pelaksanaan otonomi dan desentralisasi, besarnya hutang luar negeri, tingkat kemiskinan dan pengangguran, demokratisasi, ancaman disintegrasi, serta daya saing kepemimpinan. Pada tataran internasional, terdapat perkiraan bahwa perkembangan lingkungan global ditandai situasi, kondisi, tantangan dan tuntutan yang makin kompleks, selalu berubah, penuh ketidakpastian, dan bahkan sering tidak ramah.
Perkembangan lingkungan stratejik tersebut, menuntut pemimpin dan kepemimpinan yang solid, handal, mampu mengantisipasi perkembangan ke depan, membangun visi, misi, dan strategi serta mengembangkan Langkah-¬langkah kebijakan, sistem kelembagaan dan manajemen pemerintahan yang relevan dengan kompleksitas perkembangan, permasalahan dan tantangan yang dihadapi, baik pada tataran local, nasional maupun global.
Dalam kaitan hal tersebut, peran para pemimpin dalam memotivasi, menggerakkan, mendorong, memberikan inspirasi menjadi sangat penting. Peran kepemimpinan dalam menghadapi tantangan Abad ke¬21, tidak hanya berada di puncak organisasi tetapi juga berada di bawah bersama¬-sama seluruh sumber daya organisasi bergerak maju. Sejalan dengan hal ini, Ann Howard (2006: 57) seorang Presiden Leadership Research Institute dan Konsultan. Senior dari International Development Dimensions mengemukakan, seorang pemimpin harus memiliki keterlibatan tinggi. Peranan yang membantu kepemimpinan dengan keterlibatan tinggi dirancang untuk suatu organisasi, dibangun untuk kecepatan, keluwesan, mutu, dan pelayanan, yang penting bagi persaingan global.
Dilihat dari perspektif kepemimpinan, ada sejumlah kiat yang ditawarkan para pakar, untuk menjawab tantangan administrasi publik bila kemauan untuk mengadakan perubahan didasari pada pikiran¬-pikiran yang mendukung prinsip gradual and peaceful changes, maka cara¬-cara transformasi dan penggantian (transplacement) harus dilakukan.
Secara kultural, peran dan teladan pemimpin masih sangat menentukan dalam proses perubahan. Dimanapun masyarakat kita masih sangat menghargai esensi seorang pemimpin. Pepatah "Raja adil raja disembah, Raja Lalim raja disanggah", nampaknya tetap dapat dijadikan rujukan para pemimpin kita. Kemudian, konsistensi dalam melakukan perubahan juga harus ditunjukkan oleh mereka (para pemimpin).
Sesuai dengan norma¬-norma demokratis, transparansi dan kompetensi hendaknya dijadikan pegangan juga di dalam melakukan fungsi yang terakhir ini. Unsur like and dislike harus dibuang jauh¬-jauh bila ingin melakukan pembaharuan. Dengan cara ini, political supports dan legitimasi seorang pemimpin akan terus dipertahankan.
Terkait dengan hal-¬hal dimaksud, menurut Warren Bennis (1997: 251), tantangan pemimpin publik adalah kemampuannya untuk mengem¬bangkan arsitektur sosial organisasi mereka, sehingga memiliki kemam¬puan menciptakan modal intelektual. Apa yang harus dipelajari untuk dilakukan oleh para pemimpin adalah mendorong orang-¬orang yang amat cerdas dan kebanyakan memiliki ego serta motivasi tinggi untuk bekerja bersama dengan berhasil, dan memanfaatkan kreativitas mereka sendiri.
Tuntutannya adalah, tipe pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang dapat memberdayakan (empower) orang lain. Pemimpin menjadi "super", karena memiliki kekuatan dan kearifan terhadap semua orang dengan membantu para anak buahnya untuk mampu melepaskan diri dari belenggu ketidakmampuan menyalurkan seluruh kemampuan dari pengikut dengan baik.
Dengan demikian, para pemimpin yang dapat bertahan di abad sekarang ini, adalah jika mereka berkembang seiring perubahan waktu. Abad ini menuntut paradigma baru kepemimpinan, mengikuti puncak perubahan, bukan terombang-¬ambing dalam perubahan itu.
Dalam arena kepemimpinan, karakter memiliki nilai. Misi mulia seorang pemimpin tidak boleh dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Oleh karena itu menurut Bennis (2002:23), pemimpin harus memiliki integritas. Ada tiga hal integritas yaitu; pengenalan diri, ketulusan, dan kedewasaan. Adapun kepemimpinan yang memiliki resonansi menurut Goleman, R. Boyatzis dan Annie McKee (2006: 4¬5) adalah kepemimpinan yang cerdas secara emosi yang mampu menguatkan dan memperpanjang gema nada dan dampak emosi kepemimpinannya masuk dalam seluruh kalbu anggota organisasi.
Tuntutan saat ini tentunya diperlukan pola kepemimpinan yang tepat dalam perkembangan organisasi, salah satu pola kepemimpinan saat ini adalah pola kepemimpinan transformasional.
Kepemimpinan transformasional hakikatnya, menunjuk pada proses membangun komitmen terhadap sasaran organisasi dan memberi kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Beberapa teori kepemimpinan transformasional mempelajari juga bagaimana para pemimpin mengubah budaya dan struktur organisasi agar lebih konsisten dengan strategi manajemen untuk mencapai sasaran organisasional.
Secara konsep, kepemimpinan transformasional di definisikan (Bass, 1985, 1993: 541- 554), sebagai kemampuan pemimpin mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengopti- malkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Ini berarti bahwa sebuah proses transformasional terjadi dalam hubungan kepemimpinan manakala pemimpin membangun kesadaran bawahan tentang pentingnya nilai kerja, memperluas dan meningkatkan kebutuhan yang melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut kearah kepentingan bersama termasuk kepentingan organisasi.
Dengan cara demikian, antar pimpinan dan bawahan terjadi kesamaan persepsi dengan tujuan dapat mengoptimalkan usaha mereka ke arah tujuan yang ingin dicapai organisasi. Dengan cara ini, diharapkan akan tumbuh keperca- yaan, kebanggaan, komitmen, rasa hormat, dan loyal kepada atasan sehingga mereka mampu mengoptimalkan usaha dan kinerja mereka lebih baik dari biasanya. Ringkasnya, pemimpin transformasional berupaya melakukan transforming of visionary menjadi visi bersama sehingga mereka (bawahan plus pemimpin) bekerja untuk mewujudkan visi menjadi kenyataan. Dengan kata lain, proses transformasional dapat terlihat melalui sejumlah perilaku kepemimpinan seperti attributed charisma, idealized influence, inspirational motivation, intelectual stimulation, dan individualized consideration.
Attributed charisma. Bahwa kharisma secara tradisional dipandang sebagai hal yang bersifat inheren dan hanya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kelas dunia. Penelitian membuktikan, bahwa kharisma bisa saja dimiliki oleh pimpinan di level bawah dari sebuah organisasi. Pemimpin yang memiliki ciri tersebut, memperlihatkan visi, kemampuan, dan keahliannya, serta tindakan yang lebih mendahulukan kepentingan organisasi dan kepentingan orang lain (masyarakat) daripada kepentingan pribadi. Karena itu, pemimpin kharismatik dijadikan suri tauladan, idola, dan model panutan oleh bawahannya.
Idealized influence. Pemimpin tipe ini berupaya memperngaruhi bawahannya melalui komunikasi langsung dengan menekankan pentingnya nilai – nilai, asumsi – asumsi, komitmendan keyakinan, serta memiliki tekad untuk mencapai tujuan dengan senantiasa mempertimbangkan akibat – akibat moral dan etika dari setiap keputusan yang dibuat. Ia memperlihatkan kepercayaan pada cita – cita keyakinan, dan nilai-nilai hidupnya. Dampaknya adalah dikagumi, dipercaya, dihargai, dan bawahan berusaha mengidentikkan diri dengannya.
Hal ini disebabkan perilaku yang menomor satukan kebutuhan bawahan, membagi resiko dengan bawahan secara konsisten, dan menghindari penggunaan kuasa untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, bawahan bertekad dan termotivasi untuk mengoptimalkan usaha clan bekerja ke tujuan bersama.
Inspirational motivation. Pemimpin transformasional bertindak dengan cara memotivasi dan memberikan inspirasi kepada bawahan melalui pemberian arti dan tantangan terhadap tugas bawahan. Bawahan diberi untuk berpartisipasi secara optimal dalam hal gagasan- gagasan, memberi visi mengenai keadaan organisasi masa depan yang menjanjikan harapan yang jelas dan transparan. Pengaruhnya diharapkan dapat meningkatkan semangat kelompok, antusiasisme dan optimisme dikobarkan sehingga harapan- harapan itu menjadi penting dan bernilai bagi mereka dan perlu di realisasikan melalui komitmen yang tinggi.
Intellectual stimulation. Bahwa pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya. Pengaruhnya diharapkan, bawahan merasa pimpinan menerima dan mendukung mereka untuk memikirkan cara-cara kerja mereka, mencari cara-cara baru dalam menyelesaikan tugas, dan merasa menemukan cara-cara kerja baru dalam mempercepat tugas-tugas mereka. Pengaruh positif lebih jauh adalah menimbulkan semangat belajar yang tinggi (oleh Peter Senge, hal ini disebut sebagai "learning organization.
Individualized consideration. Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi. Pengaruh terhadap bawahan antara lain, merasa diperhatian dan diperlakukan manusiawi dari atasannya.
Kelima perilaku tersebut diharapkan mampu berinteraksi mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku bawahan untuk mengoptimalkan usaha dan performance kerja yang lebih memuaskan ke arah tercapainya visi dan misi organisasi.
Desriadi
Mahasiswa S3 Administrasi Publik Universitas Riau