Topeng Topeng di Panggung Ramadhan

Abdullah, Pelalawan
Redaksi Redaksi
Topeng Topeng di Panggung Ramadhan
ilustrasi
“Ketika kita memilih hidup dengan topeng, dan orang-orang menyukainya. Maka sesungguhnya itu masalah kita. Tapi ketika kita tampil apa adanya, dan orang-orang ternyata tidak suka, bahkan membenci. Maka sesungguhnya itu masalah mereka”. (Tere Liye)

Kutipan Tere liye ini menarik. Menghentakkan dada. Apalagi dihubungkan dengan Ramadhan. Sebab Setiap Ramadhan tiba, tak sedikit dari kita menghadapinya dengan mengubah tampilan, sikap, perilaku. Tak peduli itu artis, pejabat sampai masyarakat. Anak Yatim menjadi rebutan. Sendal sendal bertumpukan diluar mesjid. Tentu saja baik. Yang menjadi masalah hanyalah, ketika ramadhan berakhir, tampilan dan sikap itu kembali kepada aslinya, sebelum Ramadhan. Tak berbekas. Kok bisa?

Inilah momentum kesucian yang  dikelilingi parade kemunafikan. Moment ini sebagian manusia `bersih bersih` tapi sebagian lagi melakukan praktek keagamaan yang kuat pada wilayah simbol-kedangkalan. Sejumlah topeng kemudian dipakai agar justifikasi soleh bisa disematkan.

Topeng adalah penutup wajah agar tidak kelihatan aslinya, sehingga orang lain tidak akan pernah bisa melihat siapa dibalik topeng tersebut. Bahkan seorang polisi ketika menggiring pesakitan ke penjara selalu dikasih topeng wajahnya.

Tapi, di bulan Ramadhan topengnya berbentuk perilaku. Selebritis yang sebelumnya berani dan sengaja mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya praktis berubah menjadi `Peri`, seperti di sinetron Bidadari (yang pernah diperankan oleh Marshanda) atau sinetron Puteri Cahaya. Pejabat yang populer karena sering menjalani pemeriksaan maupun yang belum tiba-tiba berbalut pakaian religi. Masyarakat tiba tiba mendadak `religi`. Hal ini terjadi karena  kegunaan Topeng Ramadhan memang untuk merubah bentuk dan karakter seseorang seperti keinginan si pemakainya.

Erving Goffman (seorang sosiolog kelahiran Canada), mempopulerkan istilah `dramaturgi`. Maknanya, menurut beliau bahwa kadangkala manusia itu berada pada dua saat: yang pertama disebut front stage (panggung depan), kala inilah yang kemudian seseorang memainkan perannya dengan mengunakan topeng-topeng untuk menyelamatkan citranya dalam kaitannya dengan masyarakat luas. Sejumlah kepalsuan bisa saja dilakukan guna mencapai sosok ideal menurutnya. Saat kedua disebut back stage (belakang panggung), ini merupakan cerminan sikap asli dari individu dan biasanya hal ini hanya akan muncul ketika berada dalam lingkungan yang lebih kecil.

Dalam kaitannya dengan bulan Ramadhan nan penuh berkah ini, sejumlah aksi maupun reaksi yang dilakukan oleh insan-insan yang seolah berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga bisa jadi dapat kita jumpai bagaimana dramaturgi ini dimainkan secara sistematis di front stage.

Ramadhan sekadar kita jadikan sebagai “pelabuhan” make up dan topeng kita. Di bulan ini, sebagian kita hanya sekadar transit, sejenak, seakan mengikuti arus Islam. Ramadhan telah mengubah suasana keseharian kita, sesaat.

Harapan

Tentu, kita tak ingin putus harapan. Kita berharap, ada “keajaiban” bernama hidayah di Ramadhan tahun ini, sehingga topeng-topeng itu tak lagi membungkus wajah dan tubuh kita.
Karenanya, jadikanlah momentum Ramadhan kali ini untuk mengusir topeng-topeng nifaq (kepura-puraan) itu dari dalam jiwa dan hati kita. Sungguh, sikap dan perilaku munafiq, yang sarat dengan topeng, telah membebani hidup kita yang sudah berat.

Tiga ciri (sifat) kaum munafiq, sebagaimana diungkap Rasulullah SAW: pertama, jika diberi amanat, ia khianat. Kedua, jika berjanji, ia ingkar. Ketiga, jika berkata, banyak bohongnya�"bahkan kebohongan itu diungkap dan digelar secara kolektif, tanpa malu.

Sinyalemen Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang munafiq, yang demikian terkenal ini, semoga saja mampu mengingatkan dan menyiram hati kita, sehingga tak ada lagi topeng-topeng yang membaluti wajah dan tubuh kita, terlebih di bulan yang suci ini. Sebab, sesungguhnya, jika topeng berhadap hadapan dengan kebenaran, maka seperti kata para filsuf:  “Tak ada topeng yang dapat menutup kebohongan dari kebenaran. Dan ketika kebenaran datang, dengan topeng pun terasa telanjang”

Sebuah ungkapan harapan dan kerinduan muncul dari seorang kawan, dan seperti biasanya
Ramadhan seperti sebelumnya yang ada hanya acara televisi memuakkan bersinetron ala bollywood dengan aktris berbusana islami yang ada hanya acara televisi berlawak ria dengan kekonyolan mana dakwah untukku, kita dan kami semua?

rinduku pada ramadhan masa kecil dengan bunyi bedug bertalu rinduku pada suara mengaji dari langgar suasana Ramadhan begitu demikian syahdunya...

Tentu, tidak ada yang melarang memakai topeng topeng di panggung Ramadhan karena sejatinya topeng hanya sebuah aksesoris untuk memperindah diri, rakyat apatah lagi pejabat. Akan tetapi tidakkah kita malu mempersembahkan “hadiah” pada-Nya namun tidak dengan wajah yang sebenarnya?

Semoga kita sadar akan keterbelakangan kita dalam ber-Tuhan, aamiin.


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini