Tiga Bom "Meledak" di Makassar, Puluhan Luka-luka

Redaksi Redaksi
Tiga Bom
Foto: Salviah Ika/Okezone
Salah satu adegan di simulasi meledaknya bom di Makassar
MAKASSAR - Tiga bom "meledak" di salah satu pusat perbelanjaan di Makassar, Minggu pagi, (31/5/2015). Korban dilarikan langsung ke tiga rumah sakit berbeda masing-masing Rumah Sakit (RS) Pendidikan Unhas, RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Umum Daerah Daya. Puluhan korban luka, diantaranya ada 37 dilarikan ke di RS Wahidin Sudirohusodo.

Secara bergantian, 13 unit mobil ambulance mengangkut para korban dari lokasi kejadian ke Rumah Sakit. Semua unit yang berpusat di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RS Wahidin Sudirohusodo bergerak cepat. 15 orang diantara 37 korban luka itu tergolong luka bakar parah.

Di lengannya diikatkan pita merah saat tiba di teras rumah sakit dan langsung dimasukkan ke ruang resusitasi karena nyawanya sudah terancam akibat ledakan bom. Tenaga medis cadangan juga siap siaga jika kekurangan tenaga di ruang UGD.

Situasi ini tergambar dalam simulasi penangan korban bencana di RS Wahidin Sudirohusodo di Jalan Urip Sumoharjo. Simulasi ini merupakan kerja sama antara Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Grup Pemerintah Singapura Sing Health, yang disimulasikan di tiga Rumah Sakit yakni RS Pendidikan Unhas, RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Umum Daerah Daya dan melibatkan ratusan pegawai Rumah Sakit dan pegawai Dinas Kesehatan Makassar.

dr Khalid Saleh SpPd, penanggungjawab simulasi di RS Wahidin Sudirohusodo sekaligus Komandan Bencana di rumah sakit itu menjelaskan, kegiatan simulasi penanganan bencana ini adalah tindak lanjut kerja sama Unhas dan Sing Health yang diinisiasi oleh Prof Dr Idrus Paturusi saat masih menjabat Rektor Unhas tahun 2013.

Ditambahkan Khalid yang juga Direktur Medik dan Keperawatan RS Wahidin Sudirohusodo, kegiatan simulasi seperti itu sangat membantu dalam mengaplikasikan regulasi terkait penanganan bencana. Simulasi kali ini adalah tahapan kedua karena simulasi sebelumnya khusus mempraktekkan penanganan korban di lokasi kejadian.

"Ini simulasi tahap kedua khusus penanganan korban bencana di rumah sakit. Untuk melihat apakah semuanya terkoordinir dengan baik di pos komando. Kita bisa lihat kekurangannya di mana sehingga ke depannya bisa dilakukan perbaikan," ujarnya seraya menambahkan, dalam skenario simulasi tersebut antara lain yang menjadi perhatian adalah masalah keakuratan data korban, kesigapan semua unit dan bagaimana penanangan keluarga korban.

Sementara itu, Prof V Anantharaman, Direktur Asistensi Managemen Training Program Sing Health didampingi Wayan Tsai, Direktur Program Pengembangan Sing Health menambahkan, tujuan simulasi penanganan korban bencana ini adalah untuk melihat kesiapan dalam menghadapi bencana yang melibatkan banyak korban.

Di tengah para peserta simulasi ini ada 50 trainer yang diterjunkan sebagai tim penilai. Mereka ini yang sebelumnya adalah peserta asistensi training program untuk tingkatkan kemampuan penanganan korban bencana.

Kegiatan ini diharapkan bisa berlangsung berkali-kali untuk memantapkan penguasaan tahapan demi tahapan penanganan korban bencana.

"Senang berpartisipasi dalam simulasi ini. Dalam kerjasamanya, simulasi ini brlangsung tiga kali dalam setahun. Rencananya simulasi ketiga digelar September mendatang dengan topik berbeda yakni penanganan di ruang Intensif Care Unit (ICU) dan ruang OK (Operation Komer) atau ruang operasi," tuturnya.

Adapun Wayan Tsai, Direktur Program Pengembangan Sing Health menambahkan, bencana seperti ledakan bom seperti ini memungkinkan terjadi olehnya kegiatan simulasi sangat baik dijalankan untuk melihat apakah semua bergerak sesuai Standar Operation Procedure (SOP).

(crl/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini